Jika Pecah Perang, Iran Siap Menghantam Semua Pangkalan AS di Timur Tengah

Seluruh pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dijadikan target serangan militer Iran jika Washington memulai perang terhadap Teheran. Ancaman ini disampaikan penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Hossein Deghan.

Deghan yang merupakan mantan Menteri Pertahanan itu mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (24/7/2019), bahwa negaranya tidak akan menegosiasikan program misilnya dengan siapa pun, termasuk dengan Presiden AS Donald John Trump.

Penasihat Khamenei itu juga mengecam Uni Emirat Arab (UEA) yang dilaporkan akan menjadi pusat AS untuk melakukan serangan terhadap keamanan nasional Iran. Setelah laporan itu muncul, UEA telah mengirim delegasi ke Iran untuk membahas perdamaian.

Deghan memperingatkan negara-negara lain agar tidak mengubah status Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa tindakan seperti itu akan membuka jalan menuju konfrontasi berbahaya.

Dia lantas menyinggung inisiatif Inggris untuk membentuk “misi perlindungan maritim” Eropa sebagai contoh langkah yang dapat mengarah pada konsekuensi yang tidak terduga.

Dehghan berpendapat bahwa semua negara harus memiliki kemampuan untuk berlayar dengan aman dan mengekspor minyak melalui Selat Hormuz, yang akhir-akhir ini telah menjadi titik nyala ketegangan antara Iran di satu sisi dan Inggris serta AS di sisi lain.

Memburuknya hubungan AS dan Iran dimulai tahun lalu ketika Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).

Baca Juga:  Industri Pertahanan Israel Terancam Bangkrut Karena Kebijakan Donald Trump

Ketegangan kedua negara semakin memanas setelah pertahanan rudal Iran menembak jatuh pesawat nirawak mata-mata RQ-4 Global Hawk milik AS. Penembakan pesawat nirawak itu sempat memicu Trump mengizinkan militernya menyerang Teheran. Namun, Trump membatalkannya pada menit-menit akhir ketika serangan hendak dimulai.

Gedung Putih pada beberapa hari lalu melaporkan bahwa salah satu kapal perang AS menembak jatuh sebuah pesawat nirawak Iran. Militer AS kemudian menduga kapal perang tersebut juga menembak jatuh drone kedua Iran.


Namun, Teheran membantah kehilangan drone dan bahkan merilis rekaman tentang kapal AS. Rekaman gambar itu diklaim diambil oleh drone yang menurut Washington telah ditembak jatuh.

Sumber ketegangan lain di Selat Hormuz adalah konflik antara London dan Teheran yang dimulai setelah pemerintah Inggris menahan kapal tanker minyak Grace 1 yang membawa minyak Iran di Gibraltar karena dicurigai muatannya ditujukan ke Suriah. Memasok minyak ke Suriah berarti melanggar sanksi Uni Eropa yang dijatuhkan pada rezim Presiden Bashar al-Assad.

Iran telah membantah tuduhan itu dan menuntut kapal tanker minyak Grace 1 dilepaskan. Selanjutnya, pada Jumat pekan lalu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyita kapal tanker minyak Stena Impero milik Inggris.

Sumber: sindonews.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan