Jokowi Jajal JF-17 Pakistan, Pertanda Akan Dibeli?

Genap seminggu setelah kunjungan Presiden Joko Widodo di Pakistan dimana beliau ditawari untuk menaiki jet tempur J-17 hasil kerjasama Pakistan-China di Pangkalan Udara Nur Khan, Jokowi sempat duduk di kokpit JF-17 Block II yang sudah dilengkapi perangkat pengisian bahan bakar di udara, seperti diberitakan oleh CNN (27/1).

Ternyata, setelah ditelusuri Indonesia jauh-jauh hari sudah ditawari jet tempur ringan ini. Pada tahun 2010, Menteri Pertahanan Pakistan saat itu Chaudhary Ahmed Mukhtar mengunjungi Jakarta dan diterima oleh Menteri Pertahanan RI saat itu, Purnomo Yusgiantoro. Keduanya bertemu untuk menandatangai kerjasama pertahanan RI-Pakistan.

Sang Menteri Pakistan menawarkan JF-17, seraya mengatakan bahwa kemampuan jet tempur ini ada di atas F-16, dan juga Sukhoi. Pak Pur, sebutan akrab Menteri Purnomo, saat itu mengatakan bahwa Indonesia harus membuktikannya terlebih dahulu sebelum mempercayai klaim pihak Pakistan tersebut.


Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Sanaullah yang saat itu juga mendampingi Menteri Pertahanan Pakistan juga memuji JF-17 seraya mengatakan bahwa JF-17 memenuhi semua persyaratan untuk digunakan oleh TNI AU. Namun saat itu Indonesia nampaknya lebih tertarik dengan F-16 ex-AS, yang harganya lebih murah dan bisa dicicil pula.


Nah, sekarang dengan dibukanya keran kebutuhan alutsista secara khusus TNI AU seiring dengan dimekarkannya organisasi dengan pembentukan Koopsau III, terbuka pula kompetisi untuk persiapan pengadaan jet tempur baru untuk mengisi Indonesia Timur. Apakah JF-17 dapat mengisi kebutuhan tersebut?

Baca Juga:  TNI Kaji Ulang Kerjasama Setelah Dirut PT PAL Ditangkap KPK

Jika dilihat dari spek dan kemampuan, JF-17 masihlah ada di bawah F-16. Dengan bobot kosong di kisaran 6 ton dan jarak terbang 2.037 hanya dengan bahan bakar saja. Kapasitas angkut senjatanya pun hanya di kisaran 4 ton, kalah dari F-16. JF-17 baru ideal kalau lawannya adalah Hawk 200, yang saat ini juga sudah menua dan sudah waktunya pula untuk diganti dalam lima tahun ke depan. (Aryo Nugroho/UC News)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan