Kalah Perang Melawan Hizbullah Tahun 2006, Awal Dendam Israel Pada Suriah

Suriah adalah salah satu negara di Timur Tengah yang tak pernah mau berunding apalagi berdamai dengan Israel. Negara ini selalu menunjukkan sikap siap perang melawan negara Yahudi itu sejak mulai menjajah Palestina sampai sekarang.

Dendam kesumat Israel pada Suriah makin menjadi setelah kalah perang tahun 2006 melawan kelompok sipil militer Hizbullah di Lebanon. Israel sendiri menuding bahwa Suriah berada di balik kekuatan Hizbullah dan biang kerok pecahnya perang tersebut di bulan Agustus 2006.

Dalam perang tersebut, pejuang-oejuang hizbullah mendapat senjata berbagai jenis roket dan senjata canggih yang disuplai oleh Suriah dan Iran.

Di atas kertas, perang tersebut tidak seimbang danseharusnya dimenangkan oleh militer Israel yang didukung oleh jet-jet tempur mutakhir dan tank andalannya bernama Merkava.


Tapi faktanya, dalam pertempuran yang berlangsung selama 34 hari dan berakhir dengan gencatan senjata itu, pasukan Israel luluh lantak dihantam roket-roket canggih dari Suriah dan Iran serta taktik perang gerilya bawah tanah melalui lorong-lorong rahasia.

Sejumlah tank Merkava, yang selama ini dikagumi dunia karena kekuatan dan daya hancurnya. Berhasil dirontokkan oleh roket-roket canggih anti tank yang dimiliki para pejuang Hizbullah. Dunia pun kagum, kok bisa mereka mengetahui titik lemah Merkava yang dijadikan sasaran tembak.

Peperangan dahsyat antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah sebenarnya tidak terjadi begitu saja karena memiliki latar belakang sejarah tersendiri.

Pada akhir 1989 perang saudara yang berkecamuk selama 15 tahun di Lebanon berhenti atas jasa mediasi pihak Arab Saudi dan AS.

Pihak-pihak yang bertikai pun sepakat untuk menandatangani surat perjanjian damai yang kemudian disahkan kembali pada tahun 1991.

Baca Juga:  Kesaksian Ishak, Mantan Prajurit Cakrabirawa Dalam Tragedi 1965

Suriah yang ikut berperan besar dalam proses perjanjian itu selanjutnya mendapat tugas untuk mengawal poroses perdamaian.

Tugas utama pasukan Suriah adalah melucuti senjata sejumlah milisi yang semula bertikai seperti milisi Phalangis, Druze, Al-Amal, dan lainnya.

Tapi secara diam-diam pasukan perdamaian Suriah menerapkan taktik akal bulus dengan tidak melucuti persenjataan kelompok Hizbullah yang berada di Lebanon Selatan.

Alasannya, kelompok Hizbullah ini tidak terbukti terlibat dalam perang saudara Lebanon dan lebih mengutamakan penggunaan senjatanya untuk memerangi pasukan Israel yang masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon.

Israel pun menjadi sangat kecewa atas sikap pasukan perdamaian Suriah yang sangat merugikan pihaknya itu.

Tanpa berpikir panjang pasukan Israel pun kemudian melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon Selatan dengan tujuan menghancurkan kekuatan Hizbullah dan menarik simpati rakyat Lebanon.

Namun serangan Israel ke Lebanon justu menimbulkan kehancuran dan membuat marah rakyat Lebanon yang kemudian malah mendukung Hizbullah.


Roket-roket Hizbullah pun makin banyak menghujani wilayah Isarel sehingga membuat pemerintah Isarel frustasi.

Pada bulan Juli-Agustus 2006 pasukan Israel kembali melancarkan serangan besar terhadap Hizbullah, suatu strategi tempur yang menandakan pasukan Israel tidak belajar dari pengalaman sebelumnya.

Pemerintah Israel makin tidak mendapat simpati, dan pejuang Hizbullah yang saat itu dalam kondisi lebih siap benar-benar berhasil menunjukkan taringnya.

Di sisi lain operasi intelijen yang dilancarkan para pejuang Hizbullah juga berlangsung efektif.

Serbuan pasukan Israel yang sangat agresif dan brutal serta banyak memakan korban jiwa penduduk Lebanon yang tidak bersalah dengan cepat diberitakan oleh media Hizbullah di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Baca Juga:  Tangis Prajurit di Hari Terakhir Berdinas

Kekejaman pasukan Israel pun makin mendapat kecaman internasional sebaliknya para pejuang Hizbullah makin mendapatkan legitimasi dari rakyat Lebanon dan bahkan dunia internasional.

Sayap pelayanan Hizbullah secara intelijen juga melaksanakan langkah taktis, korban luka segera ditolong dan diberi sejumlah uang untuk menjamin kehidupannya.

Dunia pun memuji aksi sosial para pejuang Hizbullah ini sekaligus membuat para pemuda yang sebelumnya merasa enggan terhadap Hizbullah menjadi tidak ragu-ragu lagi untuk bergabung.

Dengan menerapkan taktik intelijen yang efektif efesien itu pamor Hizbullah makin bersinar.

Meskipun pihak Hizbullah dan penduduk Lebanon banyak kehilangan korban.

Mereka secara politik bisa dikatakan telah memenangkan perang mengingat simpati dan perhatian dunia internasional yang demikian besar.

Perang Hizbullah-Israel benar-benar telah menjadi kekalahan telak bagi Israel baik secara politik maupun militer.

Dari sisi politik serbuan agresi Israel ke Lebanon bisa disejajarkan dengan serbuan AS ke Irak yang ditandai dengan melemahnya dukungan sekutu AS.

Sedangkan dari sisi militer, agresi Israel juga ditandai dengan perlawanan mematikan dari Hizbullah.

Perlawanan yang membuat pasukan tank Israel ditarik mundur dan peperangan harus berhenti dengan gencatan senjata.

Bisa disimpulkan bahwa militer Israel sudah berubah kualitasnya.

Kekuatan militer Israel yang selama ini dianggap amat superior dibandingkan kekuatan militer negara-negara Arab, seperti terbukti dalam Perang Enam Hari dan Perang Yom Kippur, telah menyusut kehebatannya. (intisari/tribunnews)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan