Kanada Tahan Tiga Perwira Militer Terkait Aksi Pelecehan Al-Quran

Militer Kanada. Gambar: canada.org

Tiga kadet perwira di Royal Military College Saint-Jean di Quebec, Kanada, diselidiki untuk diambil tindakan setelah salah satu dari mereka menodai kitab suci Alquran. Salah satu kadet itu melakukan masturbasi di atas kitab suci Alquran.

Tindakan tidak pantas ini terjadi dalam sebuah pesta dan direkam. Insiden ini membuat militer Kanada malu, karena Angkatan Bersenjata negara itu sedang berusaha untuk menunjukkan inklusivitas yang lebih besar di internal militer.

Awalnya, otoritas Pertahanan Nasional Kanada hanya mengonfirmasi pada Jumat bahwa ada “insiden perilaku tidak pantas dan tindakan tak enak dipandang” terjadi di antara sekelompok kadet perwira di sebuah pesta di luar kampus pada tanggal 31 Maret 2018. Pesta itu berlangsung selama akhir pekan Paskah yang panjang.

Militer mengambil tindakan setelah video penodaan kitab suci itu mulai beredar di perguruan tinggi militer tak lama setelah pesta tersebut. Beberapa kadet yang melihat video tersebut melapor kepada atasan mereka yang kemudian mengarah ke penyelidikan.

“Perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang ini menyedihkan dan bertentangan dengan etos tentara Kanada. Ini tidak akan ditoleransi. Saya sepenuhnya mendukung tindakan yang diambil oleh Angkatan Bersenjata Kanada,” kata Menteri Pertahanan Harjit Sajjan dalam sebuah pernyataan, yang dilansir The Globe and Mail, Sabtu (26/5/2018).

Kepala personel militer setempat, Letnan Jenderal Charles Lamarre, mengatakan insiden itu tidak mencerminkan nilai-nilai Pasukan Kanada.

Baca Juga:  Iran Klaim Riset Teknologinya Lebih Maju Dibanding Israel

Otoritas militer Kanada yang prihatin atas tindakan penoadaan kitab suci itu diam-diam mendekati para pemimpin komunitas Muslim Quebec untuk mengungkap insiden tersebut. Mereka bertemu dengan Imam Hassan Guillet, seorang pemuka Muslim yang terkenal di Quebec.

Imam, yang terkenal setelah memberikan pidato untuk beberapa korban penembakan di masjid Kota Quebec tahun lalu, mengaku lega karena tindakan tak pantas para kadet itu terungkap.


“Bisakah Anda bayangkan jika orang-orang muda ini tetap di militer dan tidak ketahuan? Mereka akan menjadi letnan, kolonel, jenderal,” kata Imam Guillet dalam sebuah wawancara. “Tentara melakukan apa yang perlu dilakukan, dan pesannya jelas,” imbuh dia.

Imam Guillet mengatakan insiden itu juga merupakan bukti adanya sentimen anti-Muslim di internal militer. “Ada minoritas kecil yang berbahaya dan kami harus bersatu untuk mengidentifikasi dan mengisolasinya. Kami harus meyakinkan Muslim dan berkata; ‘Jangan khawatir. Anda adalah bagian dari masyarakat dan Anda diterima sebagai tentara di militer’,” ujarnya.

Sumber: sindonews.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan