Kapal Cepat Rudal KRI Rencong Terbakar dan Tenggelam Di Perairan Sorong Papua

Kabar duka datang dari Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim, yakni salah satu KCR (Kapal Cepat Rudal) KRI Rencong 622 dikabarkan terbakar dan tenggelam pada hari Selasa (11/9/2018) di sekitar Pulau Senapan, Kota Sorong, Papua Barat.

Dari laporan warga di sekitar lokasi, disebut KCR dari Mandau Class ini terlihat terbakar pada pagi hari pukul 08.15 WIT. Kebakaran berawal saat mesin sedang dipanaskan.

“Gas Turbin hidup dan kemudian mati, saat diperiksa pada Control GT indikator tidak ada kelainan, akan tetapi pada saat dicek ke ruang GT tiba-tiba muncul api,” demikian informasi dari Dinas Penerangan TNI AL.

Sebanyak 37 personel termasuk komandan KRI Rencong 622 dilaporkan selamat dalam peristiwa tersebut. Posisi KRI Rencong yang terbakar dan tenggelam berada di koordinat 00 52′ 028″ s – 131 03′ 973″e dengan jarak kurang lebih 8 mil dari Kota Sorong, Papua Barat.

Saat kejadian, para prajurit KRI langsung melaksanakan pemadaman kebakaran. Namun setelah ditangani oleh Tim PEK KRI Rencong-622 api tetap membesar.

Sambil tetap berupaya mengatasi kebakaran yang terjadi, komandan KRI mengarahkan kapal mendekat ke daratan terdekat dan Lego jangkar dekat Pulau Yefdoif di Perairan Sorong.

Upaya pemadaman api melibatkan sejumlah unsur di antaranya kru Kapal Baladewa 12 personel, Rescuer Kantor SAR Sorong, Polairud Sorong, Lantamal XIV, dan Kapal Pelikan Mabes Polri. “Tim SAR gabungan ini kemudian mengevakuasi 38 personel KRi Rencong yang terbakar,” ujar kata Kepala Kantor SAR Sorong Emy Freezer. Dikarenakan kapal perang tersebut membawa banyak munisi, kabarnya Tim SAR dilarang mendekat lokasi terbakarnya kapal tersebut.

Baca Juga:  Bangladesh Beli Dua Pesawat Angkut C-130J AU Inggris


KRI Rencong 622 resminya disebut PSK (Patrol Ship Killer) atau dikenal identitas PSSM (Patrol Ship Multi Mission). Sub varian yang diserahkan ke Indonesia adalah PSSM Mark 5. Dalam penyebutan lainnya, KCR asal Negeri Ginseng ini juga dikenal dengan sebutan Dagger Class.

Kapal dengan panjang 53,58 meter dan bobot tempur 290 ton ini diproduksi oleh galangan Tacoma Marine Industries Ltd (KTMI), Korea Selatan pada tahun 1980. Catatan sejarah menunjukkan pada akhir 1970-an Indonesia membeli empat kapal jenis ini dengan opsi tambahan pembelian sebanyak empat kapal lagi. Namun entah mengapa, sampai sekarang TNI AL hanya menerima pesanan pertama saja. Keempat kapal yang diterima TNI AL yakni KRI Mandau 621, KRI Rencong 622, KRI Badik 623, dan KRI Keris 624. KRI Mandau 621 dan KRI Rencong 622 diserahkan ke TNI AL pada 20 Juli 1979, sedangkan KRI Badik 623 dan KRI Keris diserahkan ke TNI AL pada 1 Februari 1980.

Dahulu, ada empat rudal yang bisa dibawa dan ditempatkan di dek belakang. Konfigurasi penempatan dibuat saling bersilang. Dua rudal paling belakang diarahkan ke sisi kiri. Sementara sisanya ke arah kanan. Dengan pemandu radar aktif, Exocet MM38 mampu menghantam sasaran pada jarak 42 km. Namun seiring pensiunnya rudal Exocet MM38, KCR Mandau Class dalam status akan diremajakan untuk menggunakan rudal anti kapal C-802 buatan Cina.

Baca Juga:  Indonesia Telah Putuskan Pembelian Pesawat Tempur Su-35

Selain senjata utama berupa rudal Exocet MM38, KRI Rencong 622 juga dibekali senjata lain untuk dukungan tempur. Pada bagian haluan bertengger meriam laras tunggal Bofors 57 mm MK1. Pada sisi kanan dan kiri kubah meriam terdapat rel pelontar chaff/flare sebagai elemen bela diri kapal dari kemungkinan serangan rudal lawan. Terakhir masih ada sepasang kanon Rheinmetall kaliber 20 mm yang dioperasikan secara manual. Kanon ini dapat melontarkan 1000 proyektil per menit dengan jangkauan 2.000 meter. Kanon ini juga ideal untuk pertahanan kapal pada serangan permukaan jarak pendek.

sumber: inews/merdeka/indomiliter.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan