Kapal Induk Amerika Merapat di Laut China Selatan, Militer China Waspada

Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Carl Vinson dan armada tempurnya patroli lagi di kawasan sengketa di Laut China Selatan. Pakar China mendesak Beijing beraksi dengan menempatkan lebih banyak fasilitas militer di kawasan tersebut.

Media Filipina melaporkan, USS Carl Vinson dan armada tempurnya memasuki perairan di dekat Kepulauan Nansha pada hari Minggu. Patroli kapal induk AS di kawasan sengketa itu ternyata sudah berlangsung sejak hari Jumat.

”Ini adalah operasi rutin Angkatan Laut AS, ini adalah angkatan laut global, kehadiran kami penting untuk memastikan bahwa lautan tetap terbuka,” juru bicara Angkatan Laut AS Letnan Tim Hawkins yang dikutip Philstar.com.

Dia mengatakan 90 persen kapal perdagangan dunia bergerak di perairan yang disengketakan tersebut. Patroli kapal induk AS, ujar dia, demi menjamin lalu lintas maritim tetap terbuka.

Namun, pakar hubungan internasional China menilai kehadiran kapal induk Washington itu sebagai provokasi di saat situasi Laut China Selatan mulai kondusif.

”Kehadiran yang sering dilakukan oleh kapal induk AS ke perairan yang disengketakan tersebut sesuai dengan strategi keamanan nasional Trump yang baru, yang dikeluarkan pada bulan Desember 2017, yang memberi label China sebagai ‘kekuatan saingan’, dan tahun ini Laut China Selatan akan menyaksikan tindakan yang lebih provokatif dengan kunjungan dari kapal induk AS dan pesawat terbang,” kata Li Haidong, profesor Institut Hubungan Internasional di China Foreign Affairs University, kepada kepada Global Times yang dilansir Senin (26/2/2018).

Baca Juga:  Jellyfish Shredder, Senjata AL China Hadapi Ubur-ubur di Laut

Dia memperkirakan bahwa hubungan China-AS akan diwarnai lebih banyak perselisihan pada tahun ini. Menurutnya, perseteruan tidak hanya terbatas pada masalah Laut China Selatan, tapi karena AS mencoba untuk menghadapi meningkatnya kemampuan militer China.

Patroli kapal induk USS Carl Vinson dan armada tempurnya di Laut China Selatan tersebut merupakan yang kedua sepanjang bulan ini. Pada tanggal 14 Februari 2018 lalu, kapal induk tersebut juga patroli di kawasan sengketa yang dianggap sebagai pesan langsung terhadap China untuk tidak memonopoli laut tersebut.


USS Carl Vinson juga dijadwalkan untuk mengunjungi Vietnam pada bulan Maret. Jika terlaksana, itu akan menjadi kunjungan yang pertama sejak Perang Vietnam berakhir pada 1975.

”Kunjungan ke Vietnam menunjukkan bahwa AS dapat beralih ke Vietnam dan meningkatkan kerja sama militer dengan negara tersebut untuk mengatasi China, karena hubungan antara China dan Filipina telah membaik,” kata Chen Xiangmiao, seorang peneliti di National Institute for the South China Sea, kepada Global Times.

Para ahli memperingatkan bahwa AS—dengan tujuan utamanya untuk mempertahankan dominasinya di kawasan Asia Pasifik—dapat menghancurkan stabilitas kawasan tersebut.

”China harus memasang lebih banyak fasilitas militer, seperti radar, pesawat terbang dan lebih banyak kapal penjaga pantai di Laut China Selatan untuk mengatasi pergerakan provokatif  AS,” kata Chen.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan