Kapal Pengganti KRI Klewang Akan Diserahkan Tahun 2017

Galangan kapal PT Lundin berada di trek untuk menyiapkan kapal pengganti KRI Klewang Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) yang hancur dalam kebakaran empat tahun lalu, ungkap CEO perusahaan itu ketika dikonfirmasi oleh shepardmedia.

John Lundin mengatakan pada Shephard bahwa perusahaannya masih pada jadwal untuk menyerahkan kapal trimaran dengan panjang 63 meter baru pada takhir tahun depan, dengan progres pembangunan mencapai lebih dari 30% di fasilitas Banyuwangi, Jawa Timur.

Dibangun dengan bahan komposit modern, KRI Klewang direncanakan menjadi sangat gesit dan mampu menyerang cepat yang menggabungkan 4-8 rudal anti kapal dengan fitur siluman yang mengurangi pantulan radar dan jejak panas/thermal.

Dulu tak lama setelah dikirim pada tahun 2012, kapal (KRI Klewang-625) terbakar dan musnah ditelan api. Meski penyelidikan dari beberapa tim telah dilakukan yang fokus pada struktur komposit kapal, penyebab utama kebakaran masih belum diketahui. Tidak ada kesalahan yang dikaitkan dengan PT Lundin.

“Setelah kecelakaan itu telah ada beberapa re-evaluasi dan penilaian, tapi kami berharap bisa meluncurkan kembali pada tahun depan” ungkap Lundin. “Tentu saja, orang memiliki beberapa kekhawatiran tentang komposit setelah ini, itu sebabnya kami memulai beberapa proyek penelitian.”

PT Lundin telah bekerja dengan laboratorium penelitian Indonesia untuk mendapatkan persetujuan solusi baru yang disebut sebagai “self extinguishing resin”, yang merupakan komponen dari bahan komposit. “Kinerja jauh lebih baik dari aluminium,” jelas Lundin.

Laporan terbaru menunjukkan Indonesia telah memotong dana untuk proyek ini, dan integrator sistem misi utama Saab yang rencananya akan menyediakan CMS kapal, senjata dan sistem radar juga telah menarik diri dari proyek tersebut.

Lundin tidak bisa menjelaskan alasan penarikan Saab dari proyek ini. Dia mengatakan kapal pertama bisa menjadi demonstrator teknologi, namun menegaskan kembali bahwa proyek itu secara keseluruhan tidak dibatalkan.

Integrasi baru CMS dan sistem senjata akan ditentukan oleh Angkatan Laut Indonesia, dengan pilihan potensial untuk rudal anti kapal, menjadi C-704 China, RBS-15 Saab, Kongsberg Naval Strike Missile dan Exocet buatan MBDA.

Tujuan di kapal siluman tidak terbatas pada Indonesia, kata Lundin, dengan beberapa negara menunjukkan minat untuk “light missile boats”, yang lebih kecil dan lebih murah daripada kapal tradisional. Kapal tersebut sangat cocok untuk operasi seperti kontra-pembajakan di perairan pesisir dangkal.

Kapal dapat membawa satu unit RHIB 12 meter, cukup besar untuk membawa 10 orang pasukan pendarat.

“Jika pengguna tidak memiliki kepentingan global kami percaya kapal kecil berteknologi tinggi mampu beroperasi dengan cepat dan singkat, “kapal juga lebih mudah pada penoperasian ungkap Lundin.” (shepardmedia)

1 Komentar

Tinggalkan Balasan