Kapal Perang Modern Tak Lagi Mengandalkan Baja Tebal Sebagai Proteksi

Di era WWI dan WWII, proteksi sebuah kapal perang diukur dari tebal armor yang dimiliki kapal tersebut. Akan tetapi di era Perang Dingin, paradigma ini mengalami perubahan meskipun area vital di beberapa tipe kapal perang modern tetap dilindungi oleh lapisan Kevlar.

Proteksi sebuah kapal perang modern diukur lewat kemampuan missile defense kapal tersebut, yaitu hal-hal seperti banyaknya misil air defense yang dibawa, berapa banyak misil yang dapat diluncurkan sekaligus, berapa banyak pencegatan yang dapat dikendalikan dalam waktu tertentu, hingga hal-hal seperti perangkat ECM, radar, computing power, efisiensi layout CIC, dan sebagainya.

Perubahan proteksi ini berkaitan dengan munculnya misil sebagai senjata utama baru dalam pertempuran laut, yang menggantikan naval gun.


Ketika perlindungan kapal perang masih menganut armor, penambahan proteksi berarti penambahan tebal armor. Penambahan tebal armor ini akan berpengaruh langsung kepada bertambahnya bobot kapal, yang dapat memperlambat kapal jika propulsinya tetap. Jika ingin menambah kembali kecepatan, tentu kemampuan propulsi harus ditambah dan ini berujung pada meningkatnya dua hal, yaitu biaya dan kembali lagi, bobot kapal.

Peningkatan proteksi disini bukanlah sesuatu yang sederhana maupun ekonomis karena mengharuskan penambahan biaya, penambahan bobot kapal maupun penambahan ukuran kapal secara keseluruhan. Atau bahkan pembentukan kelas kapal yang baru, contohnya adalah Iowa-class dan South Dakota-class yang menggunakan desain sama, namun Iowa-class memiliki kecepatan 33 knot dengan berat 45,000 ton dibanding Dakota yang memiliki kecepatan 27 knot dengan berat 35,000 ton. Artinya US Navy menambah bobot sebesar 10,000 ton hanya untuk menambah kecepatan sebesar 6 knot.

Baca Juga:  KSAL: Panglima Armada Harusnya di Kapal Bukan Di Darat

Sebaliknya, pekerjaan yang harus dilakukan musuh untuk melawan bertambahnya armor tersebut jauh lebih mudah; mereka tinggal mendesain misil yang lebih besar saja. Contohnya dapat dilihat pada misil-misil ‘carrier killer’ di era Soviet seperti P-700 Granit, P-500, P-70 Ametist dan P-120 Malakhit yang memiliki warhead berbobot 500-1,000 kg.


Terlebih lagi, dinamika perlombaan senjata nuklir di era Perang Dingin membuat armor tidak lagi relevan mulai era tersebut. Sejak awal 50an, hulu ledak nuklir ditempatkan dalam beragam jenis senjata mulai dari roket anti-kapal selam (ASROC), torpedo (ASTOR), roket surface-to-surface (Honest John), SAM (Nike Hercules), misil jelajah (Regulus), recoilless rifle (Davy Crockett), peluru artileri (W9), hingga ranjau (ADM). Termasuk juga misil-misil anti-kapal yang bisa dibawa oleh kapal-kapal yang jauh lebih kecil dari battleship, jenis kapal perang yang memiliki armor tertebal. Tanpa melihat bobot dan ukuran, kapal-kapal berukuran kecil yang membawa senjata nuklir pun mampu menghancurkan kapal besar yang memiliki armor tebal.

Maka dari itu, paradigma proteksi terhadap kapal perang berubah dari “withstanding the threat” menjadi “intercepting the threat before it even gets near the ship”. Mencegat ancaman sebelum ancaman mencapai dan menimbulkan kerusakan terhadap kapal adalah sebuah cara pasti untuk menjamin survivabilitas.

Sumber: Hex, FP Lighting II Chan

https://en.wikipedia.org/wiki/Battleship#Cold_War

https://en.wikipedia.org/wiki/Iowa-class_battleship

https://en.wikipedia.org/wiki/South_Dakota-class_battleship_(1939)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan