Karakter Pasukan Khusus TNI, Senyap Mematikan

TNI adalah salah satu militer dengan jumlah pasukan khusus siap tempurnya terbanyak di dunia. Namun ada karakter khas dari semua pasukan komando TNI, bergerak sedekat mungkin dengan sasaran lalu baru eksekusi.

Contoh saat ada konflik di perbatasan dengan Malaysia. Dalam kondisi seperti ini TNI sudah menggerakkan pasukan khusus di tiap matranya. Bergerak sedekat mungkin ke tiap sasaran Malaysia. Tanpa diketahui musuh.

Keberadaan mereka pun hanya diketahui Presiden dan Menteri Pertahanan dari pejabat sipil.

Tugas pasukan khusus adalah untuk mengumpulkan informasi intelijen tentang kekuatan lawan, menyiapkan medan operasi bagi pasukan penyerbu, menyusup ke wilayah belakang musuh untuk melancarkan sabotase, dan lainnya.

Atau, misalnya, di Bandara Ngurah Rai, Bali ada kasus pembajakan pesawat oleh teroris.


Begitu pada menit-menit pertama, berita pembajakan itu mulai diketahui oleh masyarakat atau media massa, maka pasukan khusus Sat Bravo 90 yang bermarkas di Rumpin, Bogor, secara diam-diam sudah diterbangkan ke Bali dan berada tidak jauh dari posisi pesawat yang dibajak.

Pasukan khusus TNI bisa melakukan semua pergerakan secara cepat dan senyap itu karena memang sudah sangat terlatih dan didukung anggaran serta fasilitas yang memadai.

Bahkan Presiden RI yang sedang mengadakan kunjungan ke suatu lokasi, secara diam-diam telah melekat satu regu pasukan khusus anti-teror yang kapan saja siap beraksi dalam hitungan detik.

Baca Juga:  Heli Serang Ka-52K Katran Rusia Segera Perkuat Angkatan Laut Mesir

Demikian pula ketika Densus 88 mulai memburu teroris yang merupakan kelompok pelaku serangan Markas Brimob Depok dan peledakan bom di sejumlah gereja serta kantor polisi di Surabaya pada Minggu kedua bulan Mei 2018..

Tanpa menunggu berlakunya RUU Terorisme bahkan tanpa ‘diminta’ Kapolri, pasukan khusus TNI secara reflek sudah turun ke lapangan untuk melakukan antisipasi.

Pasalnya bagi pasukan-pasukan khusus TNI yang sudah mendapat pelatihan khusus anti-teror, selalu memandang aksi terorisme di Indonesia sebagai ancaman bagi negara dan bukan hanya ancaman untuk kelompok tertentu saja.

Yang jelas cara kerja para pasukan khusus TNI itu selalu dilakukan secara cermat, senyap, dan sangat sulit dideteksi.

Misalnya saja mereka bisa menyamar sebagai anggota Densus 88 atau menyamar dengan cara lain sesuai dengan pelatihan yang pernah diperoleh.

Sebagai contoh untuk menjadi anggota Sandi Yudha (intelijen) Kopassus, seorang anggota Kopassus harus lulus ujian tertentu seperti harus bisa menyamar sebagai gelandangan, sopir truk, sopir angkot, tukang ojek dan lainnya.


Sebagai pasukan yang sangat terlatih, para personel pasukan khusus juga merupakan personel yang selalu ‘gatal’ untuk melakukan penugasan, demi mengasah kemampuan di medan yang sesungguhnya.

Maka bisa dipastikan di suatu peristiwa yang bisa memicu potensi konflik yang mengancam keamanan negara, secaya senyap pasukan khusus sudah berada terdekat di sekitar lokasi dan siap diperintah untuk melancarkan misi apapun serta kapan pun.

Baca Juga:  Presiden RI Berikan Pembekalan Kepada 729 Capaja TNI-Polri

Pergerakkan pasukan khusus yang secara nalur harus bereaksi cepat itu kadang dianggap ‘melanggar’ hukum.

Pasalnya pergerakkan pasukan TNI dalam suatu konflik memang harus menunggu persetujuan dari parlemen (MPR/DPR) terlebih dahulu agar payung hukumnya jelas.

Tapi dalam kondisi darurat, pasukan khusus tetap harus bereaksi cepat seperti dalam penanganan kasus terorisme, meski RUU Anti-Terorisme belum disahkan oleh parlemen, karena tidak ada kata terlambat bagi pasukan khusus.

Jadi jangan sampai baru ada perintah resmi dari negara pasukan khusus baru bergerak. Pasalnya pasukan khusus harus bisa bertindak dalam hitungan menit begitu ada perintah.

Oleh karena itu pasukan khusus akan selalu secara senyap berada di lokasi terdekat sumber masalah dan jika masalah ternyata bisa diselesaikan tanpa peran pasukan khusus, mereka juga akan diam-diam ditarik secara senyap.

Dalam misinya pergerakkan pasukan khusus seharusnya tanpa publikasi sama sekali demi mendukung unsur kesenyapan dan kerahasiaan itu sendiri.

Apalagi misi pasukan khusus sangat jelas, yakni melaksanakan tugas sebaik mungkin demi keselamatan bangsa dan negara serta tidak mencari popularitas.

Sesuai motto pasukan khusus itu sendiri, ‘berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal siap dicaci maki’.

Sumber : TSM/Intisari

1 Komentar

  1. Yg menjadi pertanyaan, knp penembakan di Papua masih saja terjadi? Koq gk dikejar masuk, trus “diselesaikan” saja?? Kan punya kemampuan bertahan hidup berhari2 bahkan berbln2??

Tinggalkan Balasan