Karma Jerman Atas Inggris Setelah Membakar London

Jerman seperti terken karma saat pasukan sekutu melakukan firebombing untuk meluluhlantakkan kota-kota penting di Jerman.

Sedikit pengingat bahwa taktik firebombing menggunakan mixed load yang digunakan kekuatan udara Sekutu untuk mengebom kota-kota di Jerman saat berlangsungnya WWII, adalah ajaran dari orang-orang Jerman sendiri.

Ketika Jerman mengebom Inggris di tahun 1940-1941 (The Blitz), kota-kota Inggris seperti Coventry dan London terkena efek yang destruktif dari firebombing. Coventry dibom api pada tanggal 14 November 1940, sedangkan London pada tanggal 29-30 Desember 1940.

Pada saat mengebom kota-kota di Inggris, bomber-bomber Luftwaffe (sebutan AU Jerman) menjatuhkan kombinasi dua bom yaitu bom high-explosive dan bom incendiary. Bom high-explosive yang digunakan berupa bom SC 1000, SC 1400, SC 1800 Satan, SC 2500 Max, dan juga ranjau laut yang dimodifikasi menjadi bom udara dan dijatuhkan dengan parasut. Bom incendiary yang digunakan pada umumnya terbagi menjadi dua, yaitu bom magnesium dan bom petroleum. Bom HE ditujukan untuk merusak atap rumah-rumah dan memecahkan jendela serta merusak infrastruktur yang berkaitan dengan pemadaman api, sedangkan bom incendiary yang mengikuti kemudian dapat bebas membakar sasaran tanpa terhalang pemadam kebakaran.

Pemadam kebakaran di Coventry tidak dapat menanggulangi bom-bom incendiary Luftwaffe dengan baik karena jaringan telepon telah dilumpuhkan bom HE, sedangkan terdapat lebih dari 200 titik kebakaran di kota tersebut. Pipa induk saluran air kota Coventry pun juga telah dirusak, sehingga pemadam kebakaran yang tidak memiliki cukup air kewalahan menghadapi badai api.

Baca Juga:  Waspadai Niat Belanda Teliti Perang Kemerdekaan Indonesia

Hasilnya, lebih dari 4,300 rumah beserta 2/3 bangunan dan 1/3 pabrik di kota tersebut hancur. 568 orang terbunuh, 863 orang luka berat dan 393 orang luka ringan. Karena destruktifnya efek pengeboman Coventry, Joseph Goebbels pun membuat istilah Bahasa Jerman “coventriert” (“coventried”), untuk mengacu ke pengeboman api serupa yang membuat kota sasaran ludes terbakar.


Hal yang tidak jauh beda terjadi di London. Luftwaffe menjatuhkan sekitar 100,000 bom di kota tersebut, dan memulai 1,500 titik kebakaran. Pemadam kebakaran di London terhambat oleh kurangnya pasokan air karena sistem persediaan air utama di kota telah rusak dibom, dan usaha untuk mengambil air dari Sungai Thames pun tidak terlalu berpengaruh karena sungai tersebut sedang pasang rendah. Pemadam kebakaran juga disulitkan area serangan yang terkonsentrasi dan angin. Serangan ini menghancurkan pusat-pusat sejarah London, di antaranya Ave Maria Lane dan Paternoster Row. Kebakaran dari pengeboman api ini kemudian disebut sebagai Second Great Fire of London.

Mengapa Luftwaffe mengadopsi firebombing, yang pada prakteknya juga menyasar populasi sipil dan bersifat tidak membedakan? Karena memang ada beberapa masalah teknis yang dihadapi, seperti akurasi pengeboman yang terhambat sasaran yang terhalang asap industri, dan juga navigasi yang tidak akurat. Penyerangan sasaran individual tidak memungkinkan, sehingga Luftwaffe pun mengadopsi serangan area yang tidak dibatasi (unrestricted area attack).

Baca Juga:  Kapal Induk Pertama Amerika Serikat Tenggelam Di Cilacap

Sumber: hex / lightining II Chan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan