Kecanduan Sosmed, Pilot AU India Kurang Tidur

Selain didera masalah kurangnya armada yang siap terbang. Ada masalah lain yang dicurigai jadi penyebab banyaknya pesawat tempur milik AU Ibdia jatuh, yaitu begadang.

Kecurigaan itu dinyatakan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara India, yang menuding jika para pilot AU India dilanda kekurangan tidur karena menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.

Kepala staf Marsekal Birender Shingh Dhanoa menyerukan militer untuk mengembangkan sistem untuk menilai seberapa baik pilot beristirahat sebelum terbang.

“Semua orang tampaknya menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial, sampai larut malam,” kata Marsekal Birender Singh Dhanoa pada konferensi Society of Aerospace Medicine India ke-57 di Bengaluru, seperti dilansir dari Russia Today, 16 September 2018.

“Kebanyakan briefing penerbangan, kadang-kadang, dilakukan pada pukul 6 pagi dan pilot belum cukup tidur,” kata Dhanoa.


Dhanoa melanjutkan saat ini Angkatan Udara India (IAF) telah memiliki sistem untuk mengetahui kadar alkohol pilot sebelum terbang, namun belum ada sistem yang mengukur seberapa cukup istirahat tidur pilot.

“Kalau dulu pilot minum terlalu banyak, penjaga bar itu akan tahu. Jika dia tidak menyadarinya, yang lain akan tahu dan dia akan diberhentikan terbang untuk hari itu. Hari ini kita bahkan memiliki alat analisa nafas,” kata Dhanoa.

“Oleh karena itu, kami membutuhkan sistem di mana orang dapat mengetahui apakah pilot sudah tidur,” tambahnya.

Baca Juga:  Protes Pemasangan Rudal China, Menlu Minta Hukum Internasional Dihormati

Permintaan Dhanoa untuk sistem semacam itu dilakukan setelah Angkatan Darat India mengakui bahwa tidak mungkin untuk memisahkan personel dengan ponsel cerdas mereka.

Sementara militer menerima penggunaan smartphone, namun efek penggunaan ponsel pintar berbahaya bagi IAF, karena angka kecelakaan menunjukkan 3,2 kasus kecelakaan udara untuk setiap 10.000 jam terbang, dan memiliki tingkat kecelakaan paling banyak dibanding angkatan udara negara lain.

Pada Maret, mencatat bahwa IAF telah kehilangan 31 pesawat untuk kecelakaan dalam waktu empat tahun antara 2014 dan 2018.

Kekurangan tidur memang bukan penyebab semua kecelakaan, namun Dhanoa mengakui bahwa kecelakaan fatal pada 2013 dikarenakan pilot kurang tidur yang cukup.

“Saya meminta secara profesional untuk menemukan solusi untuk masalah ini,” tutur Dhanoa.

Dhanoa mengatakan meskipun media sosial telah menjadi komunikasi penting yang tak bisa dipungkiri, namun media sosial membuat kemampuan komunikasi langsung terganggu, dan dalam kasus ini menyebabkan gangguan tidur pada pilot angkatan udara India.


Sumber: tempo.co

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan