Kelangsungan Proyek Pesawat IFX/KFX Menunggu Lisensi Dari Amerika Serikat

Pengembangan pesawat jet tempur KFX/IFX sedang dalam proses re-evaluasi. Hal ini dikarenakan ada beberapa poin dari perjanjian yang harus dievaluasi ulang agar lebih menguntungkan bagi Indonesia. Jet tempur generasi 4,5 ini dikembangkan secara bersama oleh Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) (Persero) dan Korea Selatan melalui Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd.

Beberapa poin tersebut di antaranya terkait Intellectual Property Rights (IPR). Dalam kerja sama dengan Korsel, besaran kontribusi Indonesia sebesar 20 persen di dalamnya, selebihnya adalah porsi Korea.

“Kami mau lakukan pendalaman di bidang IPR karena itu nanti kan porsinya 80 dan 20 persen. Tapi tetap walau kita hanya 20 persen kita ingin maksimal. Kalau misalnya 50:50 itu kan seimbang,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Gita Amperiawan, Jumat (19/10).

Selain itu juga pihaknya tengah menyorot beberapa isu teknologi yang sensitif seperti lisensi ekspor dan juga marketing. Sebab, kerja sama pembuatan jet tempur KF-X/IF-X antara pemerintah Indonesia dan Korsel masih harus menunggu persetujuan lisensi dari Amerika Serikat (AS).


“Pokoknya ada beberapa poin yang menjadi landasan kita dalam bekerja sama dan harus jadi fokus supaya lebih baik dan tidak hanya menguntungkan pihak luar,” tambahnya.

Direncanakan, proses re-evaluasi akan selesai di akhir tahun bahkan lebih cepat. Nantinya proses produksi prototype yang ada sebanyak 6 unit. Pembuatan prototype akan dimulai hingga tahun 2023 setelah proses re-evaluasi berakhir.

Baca Juga:  TNI dan Tentara Malaysia Patroli Perbatasan Bersama 

“Kita akan launch prototype di tahun 2023 dan seluruhnya total ada 6 prototype. Salah satunya akan dikirim ke Indonesia dan dikembangkan,” kata Gita lagi.

Pesawat tempur KFX/IFX ini adalah pesawat semi-siluman generasi 4,5 yang dikembangkan Indonesia dan Korsel. Kerja sama pengembangan pesawat ini sebatas pada pengembangan pesawat hingga mencapai prototipe.

“Kontrak kita sampai tahun 2026. Total seluruh biaya yang digunakan untuk produksi pesawat tempur ini sekitar USD 6 milyar, sedangkan Indonesia sendiri akan membayar sebesar USD 1,2 milyar,” tutup Gita.

Sumber: kumparan.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan