Kerangka Kerjasama PT DI dan KAI Kembangkan Pesawat Tempur IFX/KFX

Kerjasama ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki insinyur Pesawat yang melimpah. Saat ini, sudah 70 insinyur PT DI berada di KAI. Hingga akhir 2016 diharapkan ada 90 insinyur yang dikirim ke KAI, dan hingga 2021 ditargetkan terus bertambah menjadi 200 orang.

Berikut ini catatan wartawan Kaltim Pos saat berkunjung ke perusahaan pesawat KAI milik Korea Selatan.

Bertemu warga Indonesia di negeri orang, tentu menjadi salah satu hal yang membahagiakan. Apalagi bertemu dengan para insinyur hebat asal Tanah Air yang sedang belajar membuat pesawat tempur di Korea Aerospace Industries (KAI).

“Assalamualaikum…,” sapa para pria yang mengenakan jaket bertuliskan KAI itu secara serempak. Mereka menyambut 13 wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang mendapat kesempatan berkunjung ke pabrik pembuatan pesawat milik KAI ini.

Sapaan salam itu sontak seperti tetesan air di tengah padang pasir. Maklum, sudah hampir lima hari sebelumnya, para wartawan harus membiasakan diri mendengarkan sapaan “Anyeonghaseo”. Entah pagi, siang, atau malam, sapaannya selalu sama.

Suasana hangat dan akrab pun sangat terasa, ketika para wartawan bersalaman dengan para insinyur dari PT Dirgantara Indonesia (DI) yang kini sedang ‘mondok’ di KAI.

Gatot Mulia Pribadi, kepala insinyur PT DI yang didaulat mewakili para tenaga ahli pesawat dari Indonesia ini menyampaikan, kerja sama dengan KAI sudah dilakukan sejak 2011- 2012 dimulai dengan pengembangan teknologi.


“Kemudian sekarang dilanjutkan dengan pengembangan rekayasa dan produksi,” ujarnya. Bahkan nantinya akan dibuat sistem pelatihan, termasuk melatih pilot dan perawatan pesawat. Targetnya, akan dibuat enam prototipe pesawat yang akan dites, dievaluasi dan disertifikasi internasional.

“Kami beruntung, karena benar-benar terlibat di semua area pembuatan pesawat,” ucapnya.

Saat ini, sudah 70 insinyur PT DI berada di KAI. Hingga akhir 2016 diharapkan ada 90 insinyur yang dikirim ke KAI, dan hingga 2021 ditargetkan terus bertambah menjadi 200 orang.

“Setelah 10 tahun nanti diharapkan bisa alih teknologi dan akan dapat satu prototipe. Nantinya sampai 2026, para insinyur partisipan ini akan pulang ke Indonesia dan akan mengembangkan pesawat tempur sendiri,” bebernya. 

Para insinyur Indonesia yang terlibat dalam proyek ini bervariasi, dari mulai usia di bawah 30 tahun, hingga yang senior, termasuk ada 8 wanita yang turut serta. Mereka umumnya lulusan S2 bahkan S3 teknik dari luar negeri.

Berhubung penempatan para insinyur di negara ini cukup lama, maka beberapa insinyur sengaja memboyong keluarganya ke Korea Selatan.

Dijelaskan Gatot, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan ini adalah untuk menggarap pembuatan pesawat tempur canggih bertajuk Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX), yang digadang-gadang mampu menjawab keperluan pertahanan udara pada dua dasawarsa mendatang.

Semula, dari sisi Korea Selatan, Turki juga diajak bergabung untuk membangun pesawat tempur bermesin dua yang diklaim bisa menandingi F-35 atau malah F-22 Raptor. Namun kemudian, Turki meninggalkan Korea Selatan, sehingga kini Indonesia yang menjadi partner negeri ginseng tersebut. 

Pesawat jet tempur KFX ini sebenarnya proyek Republic of Korea Air Force (ROKAF). Proyek ini dimotori Presiden Korea Kim Dae Jung, Maret 2001 yang diharapkan menggantikan pesawat F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger. Jika dibandingkan F-16, KFX diproyeksi memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth).

Dalam kerja sama ini, Pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat. Sisanya KAI menanggung 20 persen dan kemudian  pemerintah Indonesia berkontribusi 20 persen. Dari kontribusi ini, Indonesia akan mendapatkan 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16, sementara 150 pesawat untuk Korea Selatan.

Konon, total biaya pengembangan selama 10 tahun untuk membuat prototype pesawat itu diperkirakan menghabiskan dana USD 6 miliar. Pemerintah Indonesia menyiapkan dana tak kurang USD 1,2 miliar.


Penandatanganan kerja sama dua negara ini sudah dilakukan 15 Juli 2010 dan diharapkan Indonesia kelak bisa mengembangkan pesawat tempur dari proses alih teknologi ini. 

Kelak, Tiap Bulan Indonesia Bisa Buat Satu Pesawat Tempur.

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan