Kerasnya Pendidikan Komando TNI, Peserta Sampai Lupa Ingatan

Ada satu ciri khas dalam pendidikan komando yang diselenggarakan oleh pasukan TNI, yakni baik para pelatih maupun siswa tidak mengenakan pangkat.

Tujuan para pelatih dan siswa pendidikan komando tidak menggunakan pangkat adalah semua siswa diperlakukan sama oleh para pelatih.

Dalam pendidikan komando TNI, kadang ada sejumlah perwira yang ikut sementara para pelatihnya adalah bintara-bintara senior yang secara hirarki kepangkatan berada di bawah
perwira.

Jika tanda kepangkatan dipakai maka adalah tidak mungkin seorang bintara memberikan perintah kepada perwira.

Oleh karena itu khusus dalam pendidikan komando, pelatih dan siswa tidak menggunakan pangkat agar pelatihan berjalan normal tanpa
terganggu oleh hirarki kepangkatan.
Maka yang terjadi dalam pendidikan komando adalah hal biasa jika seorang perwira dibentak-bentak oleh bintara pelatih.


Bahkan para perwira yang sedang mengikuti pendidikan komando juga harus rela’’dihajar’’ oleh para bintara pelatih.

Pada prinsipnya pendidikan komando yang diselenggarakan oleh Kopassus, Paskhas, Marinir, dan lainnya adalah untuk mencetak prajurit elit yang mampu bertempur dalam segala medan dan ketika ditawan siap mati menjaga rahasia negara.

Karena pendidikan komando TNI materinya adalah kemampuan bertempur yang tidak bisa dilakukan oleh pasukan reguler biasa, semuanya serba khusus, maka sistem pendidikannya pun sangat keras dan ‘’mengerikan’’.

Misalnya saja , prajurit siswa pendidikan komando yang sudah ditempa berbulan-bulan di hutan , hanya mengenal satu kata ‘’Komando…!’’
setiap bertemu orang. Baik orang sipil maupun militer.

Baca Juga:  Polemik Video Polisi Berlatih RPG, Wiranto Minta Jangan Dipercaya


Dalam kondisi apapun siswa komando harus berlari sambil membawa perlengkapan tempur lengkap dan hanya satu yang dipikirkan. Yakni lulus dari pendidikan komando yang sangat keras serta brutal itu.

Bisa dikatakan brutal karena seorang siswa yang sebenarnya mengalami cedera dan berlari sambil terpincang-pincang tetap diijinkan mengikuti pendidikan selama dirinya masih merasa mampu.

Tak ada yang menolong atau membantunya
ketika siswa komando yang berlari terpincang-pincang itu tertinggal di barisan paling belakang.

Pasalnya tidak ada kata mundur dalam
pendidikan komando yang dikondisikan dalam peperangan yang sesungguhnya.
Mundur berarti gagal dan dikembalikan ke satuannya menjadi prajurit biasa.

Selain mendapatkan materi latihan tempur di semua medan dan beragam teknik, para siswa komando, juga mendapatkan latihan yang terkesan brutal serta sungguhan, yakni ditangkap sebagai tawanan perang.

Dalam latihan menjadi tawanan di kamp
tawanan yang bangunannya dibuat seperti kandang hewan dan tanah berlumpur itu, para siswa komado memang diperlakukan sebagai tawanan perang sungguhan.

Hajaran sampai berdarah-darah tapi terukur merupakan materi ‘’biasa’’ dalam kamp tawanan.

Intinya para siswa komando diperlakukan sebagai tawanan perang selama tiga hari dan harus kuat menghadapi siksaan serta interogasi
layaknya seorang tawanan.

Ketika ditawan, umumnya para siswa komando diajarkan untuk sebisa mungkin tidak mengaku sebagai tentara saat diinterogasi.

Pasalnya dalam perang sungguhan dan
tertawan, prajurit komando akan mendapatkan interogasi dan siksaan sangat brutal dari tentara musuh.

Baca Juga:  Panglima TNI Janjikan Rumah untuk Prajurit TNI

Tapi sesuau yang lucu tetap saja terjadi di ‘’adegan’’ pelatihan kamp tawanan yang seharusnya garang dan brutal itu.

Misalnya, pelatih sambil menggojlok siswa komando bertanya sambil membentak, ‘’Kamu seorang tentara yaaa…!!?

Siswa komando yang sudah kepayahan pun
menjawab tegas,’’Siaaap…! Bukan…!
Rupanya siswa pendidikan komando yang
berusaha keras menyangkal dirinya seorang tentara itu, masih belum menyadari jika kata, ‘’Siaaap…!’’ merupakan ciri khas ujaran tentara
(TNI). (intisari.id)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan