Ketemu Dubes Korsel, Prabowo Bahas Pesawat IFX/KFX

Wakil Menteri Pertahanan RI Wahyu Sakti Trenggono membenarkan agenda Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang menerima kunjungan dari sejumlah duta besar pada Senin (5/11) di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. Lawatan itu dalam rangka courtesy call atau kunjungan kehormatan.

Beberapa dubes yang melakukan kunjungan ke Kemhan yakni Duta Besar Korea Selatan untuk RI Kim Chang-beon, didampingi First Secretary Ma Sung-min dan Atase Pertahanan Kapten (AL Korsel) Jung Yeon-su.

Duta Besar Rusia Lyudmila Georgieva Vorobieva, dan Duta Besar Jordania Abullah Sulimam Abu Rohman turut bertemu Menhan Prabowo pada hari yang sama.

Wahyu menjelaskan, pertemuan Prabowo dengan para dubes juga sempat membahas terkait pengadaan alutsista, terutama dengan Korea Selatan.

“Pada intinya courtesy call dan Dubes Korea Selatan juga ingin minta courtesy call sama saya,” kata Wahyu saat dikonfirmasi, Rabu (6/11/2019), menambahkan bahwa Kemhan RI – Korsel membicarakan rencana pengadaan jet tempur KFX/IFX yang sempat tertunda beberapa tahun lalu.

Wamenhan Wahyu Trenggono mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih mengkaji pengadaan jet tempur Korea Selatan.

“Khusus KFX/IFX sedang kami dalami dan dipelajari manfaatnya. Itu penting karena pesawat tempur itu merupakan teknologi tinggi, dan tidak bisa sembarangan, serta di level mana nanti kita punya hingga sampai kemampuan seperti apa,” ujar Wahyu.

Selain manfaat, lanjutnya, faktor biaya juga menjadi kendala. Sebab harga pesawat KFX/IFX disebut mencapai US$ 2 miliar (sekira Rp 28 triliun).

Baca Juga:  Apes, Floating Dock Kapal Induk Rusia Tenggelam

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan agar menekankan mengurangi impor dalam pengadaan alutsista.

“Karena nilainya mahal sampai 2 miliar dollar. Jadi belum bisa jawab kelanjutannya karena masih perlu kajian,” pungkas Wahyu.

Sumber: liputan6.com

3 Komentar

  1. Kalo tidak keliru di awal th 2018 pemerintah berniat check out dari program ini, lalu knapa kok dilanjut ?!. Dalam program ini kalo boleh diibaratkan, kita ini seperti anak kelas 6 SD yg ingin loncat belajar matematika Kalkulus limit-diffensial-integral tapi belajar dan berguru dengan/kepada anak kelas 1 SMP, gimana ya?,
    Yaa belajarlah kepada guru yang benar2 guru, yg mau berbagi ilmunya

  2. kalo diteruskan cuman dapet bikin pesawat kosongan, yg penting bisa asal terbang, amerika ngak akan rela teknologinya di kloningkan ke indonesia..

Tinggalkan Balasan