Kim Yo Jong, Wanita Pertama Pemimpin Negara Komunis Bisa Lebih Kejam Dari Kim Jong Un

Kim Yo Jong calon Presiden Korea Utara. Foto: Reuters.

Kim Yo Jong akan menjadi wanita pertama di dunia yang menjadi pemimpin di negara komunis. Jika melihat track recordnya, bukan berarti dia akan lemah lembut tapi malam berpotensi akan lebih kejam dari kakanya.

Yo Jong diyakini banyak pihak berada dibalik kebijakan kontroversial Kim Jong Un dalam mengeksekusi mati beberapa orang dekatnya. Karena Yo Jong adalah staff dan orang paling dipercaya oleh Jong Un.

Sejak berkuasa pada 2011, Kim sudah menjadi perbincangan dunia karena bertindak tanpa ampun tak hanya kepada lawan politik, namun juga keluarganya. Desember 2013 dia mengeksekusi Jang Song Thaek yang notabene pamannya sendiri.

Yang paling kontroversial adalah kasus pembunuhan atas Kim Jong Nam kakaknya sendiri di Malaysia tahun 2017.

Profesor Natasha Lindstaedt, dikutip dari Daily Mirror Sabtu (25/4/2020), mengatakan gender tak menjadi penghalang si adik menjadi “tiran baru”. Pakar rezim totalitarian itu menyatakan, jika Yo Jong dilantik, maka Dinasti pemerintahan Kim Il Sung sejak 1948, terus terjaga.

“Saya tidak percaya posisinya sebagai perempuan bakal melemahkan posisinya jika dia memegang kekuasaan,” beber Profesor Lindstaedt.

Keluarga Kim tidak dilihat sebagai manusia biasa oleh rakyat Korea Utara, mereka dianggap sebagai wakil Tuhan yang akan mengurusi segalanya. Lindstaedt menjelaskan, jika Kim Yo Jong berkuasa, maka dia juga akan dianggap sebagai Tuhan sama seperti kakaknya tersebut.

Baca Juga:  Ditekan Donald Trump, Pesawat Tempur F-35 Turun Harga

“Sangat dimungkinkan dia akan mengambil pendekatan yang lebih kejam dari kakaknya terhadap dunia karena level kemiskinan yang mereka alami,” paparnya.

Lindstaedt mengatakan, dia yakin Kim adik bakal lebih tegas dari kakaknya. Apalagi, dia sering terlihat di muka umum akhir-akhir ini. Profesor Lindstaedt melanjutkan, sangat mungkin Kim adik merasa bahwa dia perlu lebih tegas dari kakaknya jika dia berkuasa.

Apalagi dia akan menjadi wanita pertama yang memimpin negara komunis, mungkin dia butuh kebijakan yang lebih tegas dan beringas agar lebih dihargai. Karena selama ini sistem politik komunis sangat kurang dalam mengapresiasi peran wanita.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan