Kisah Haru Tentara Bersenjata Stetoskop di Batas Negara

ROFIQ sedang bertugas di rumah salah satu warga di Sebatik, Kalimantan Utara (Kaltara) yang berbatasan dengan Malaysia, Kamis (12/11) siang. Ada warga yang sakit siang itu. Gerakannya sigap, khas tentara.

Dibukanya sejumlah alat kesehatan yang senantiasa dibawa. Salah satunya stetoskop. Dia mulai memeriksa. Memastikan kondisi pasien dan sakit apa yang diderita.

“Memang kapasitas saya mengobati masyarakat yang sakit hanya sekadar membantu,” ucap anak pertama dari lima bersaudara ini.

Biasanya masyarakat yang sakit datang ke pos pengamanan perbatasan untuk meminta bantuan langsung. Ia pun dengan senang hati melayani. Namun, ada juga masyarakat yang melaporkan bahwa ada warga yang perlu bantuan pengobatan tapi tidak bisa datang ke pos. Biasanya Rofiq dengan sigap langsung ke rumah warga tersebut melakukan pemeriksaan awal.

Memberikan obat pun, dirinya memberikan secara cuma-cuma tanpa memungut biaya sepeser pun. Dengan catatan bila obatnya tersedia. Jika obat yang dibutuhkan tidak tersedia, ia menyarankan untuk segera mendatangi dokter di puskesmas ataupun rumah sakit terdekat.

“Selama ini, kebanyakan kasus yang ditangani di sini adalah kebutaan,” ujar anggota Satgas Pamtas Yonif 521/DY ini.

Pengalaman yang paling melekat di ingatannya adalah ketika mengobati warga sakit yang rumahnya berjarak sekitar 300 meter dari pos penjagaan. Saat itu, dia harus berulang kali mendatangi rumah warga tersebut untuk melakukan pengecekan, sebab penyakit yang diderita dikarenakan faktor usia dan hipertensi. “Pagi, siang, dan sore saya terus lakukan pengecekan. Itu semua bisa saja jalani dengan enjoy karena saya menikmati,” ungkap pria penyuka olahraga sepak bola ini.

Baca Juga:  Lawan Musuh, Pesawat Tempur TNI AU Jatuhkan Puluhan Bom di Cilegon

Tugas ini sudah harus dia lakukan. Sebab, saat mengikuti pendidikan dasar selama 5 bulan tahun 2003, Rofiq sudah komitmen untuk memilih pendidikan kejuruan di bidang kesehatan selama 3 bulan dan selesai pada Februari 2004. Di sinilah ia banyak mendapatkan ilmu kesehatan.

Memang diakuinya, stok obat di perbatasan terbatas, sehingga di waktu tertentu warga harus membeli obat di apotek. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Stok obat penyakit gatal habis karena dibagikan ke masyarakat. Yang bisa ia lakukan adalah mengarahkan warga untuk membeli ke apotek terdekat.


“Selama kami bisa, dengan senang hati kami membantu masyarakat. Apalagi berkaitan dengan kesehatan,” ujar pria yang hobi berenang ini.
Ditambahkan Rofiq, dari semua penugasan, pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ia diberangkatkan ke Aceh untuk terjun sebagai tim kesehatan dalam musibah tsunami.

Kedua ketika di Jayapura, saat baru satu bulan bertugas, sudah banyak anggota satgas yang terjangkit malaria.
Meskipun rata-rata yang ia tangani adalah anggota TNI, bukan berarti obat dan penanganan yang diberikan berbeda. “Pada umumnya, kita periksa suhu badan, tekanan darah, dan gejala penyakit pasien. Setelah dilakukan dan dipastikan bahwa anggota kita sakit malaria, langsung kita berikan suntikan dan obat malaria,” katanya.

Bila agak parah, langsung dipasang infus di pos jaga. “Apabila tidak bisa ditangani di pos, lewat radio kita laporkan kepada dokter untuk minta dievakuasi secepatnya. Itu pengalaman yang pernah saya alami di Papua Jayapura dan Merauke,” jelasnya.

Baca Juga:  Panglima TNI Peringatkan Ancaman Amerika Serikat dari Australia

Sebagai seorang ayah dari dua anaknya yang masih kecil, Rofiq tentu memiliki rasa rindu terhadap keluarganya di Jawa. Salah satu cara yang ia gunakan untuk mengobati rasa rindunya adalah dengan rajin beribadah dan berdoa.


Sebab menurutnya, ketika hati kita tenang dan damai, maka anak dan istrinya nun jauh di sana juga akan merasakan ketenangan yang sama.
“Namanya batin. Tapi karena di sini sinyal HP masih baik, kami sering komunikasi lewat HP,” jelasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan