Komposisi Modal Pesawat KFX/IFX Lebih Menguntungkan Korea Selatan

Proyek pembuatan pesawat tempur Indonesia dan Korea Selatan sejak awal banyak dikritik. Kritikan pertama datang dari dalam negeri Korea, parlemen negeri gingseng tersebut mempertanyakan tentang besaran modal yang lebih banyak ditanggung Korea daripada Indonesia.

Kritikan kedua dari Indonesia, para pemerhati dirgantara mempertanyakan, bisa apa Korea dalam hal teknologi sistem avionik pesawat tempur?. Terbukti permintaan transfer teknologi untuk empat item utama pesawat tempur ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat pada 2015. Yaitu, active electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer. Alasan penolakan pemerintah Amerika Serikat ini dikarenakan masalah keamaan nasional yang terkait dengan teknologi sensitive.

Tapi gegap gempita suara KFX/IFX telah membangkitan uforia nasionalisme yang membuat banyak pihak di Indonesia silap. Pokoknya proyek ini pasti menguntungkan, karena setoran modal Indonesia lebih kecil dari Korea.

Dalam kerja sama ini, Pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat. Sisanya ditanggung KAI (PTDI-nya Korea) 20 persen dan kemudian pemerintah Indonesia hanya 20 persen. Dari kontribusi ini, Indonesia akan mendapatkan 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16, sementara 150 pesawat untuk Korea Selatan.

Komposisi Modal Tak Sebanding, Korea Selatan Lebih Untung
Sekilas, Indonesia untung banyak sekali. Cuma setor 20% dari modal bisa dapat 25% dari total output proyek. Sedangkan Korea Selatan yang setor 80% modal hanya dapat 75% dari total jet tempur yang dibuat, rugi 5%.

Baca Juga:  Serah Terima Kapal Fregat KRI I Gusti Ngurah Rai-332 Bisa Maju

Dalam proyek IFX ini, sukses atau gagal Korea Selatan bakal untung sangat besar. Negeri gingseng ini tidak mengincar output pesawat tempur dalam proyek IFX. Mereka sedang membeli SDM dan teknologi pesawat dengan harga yang sangat murah dari Indonesia.

KAI adalah perusahaan pesawat milik pemerintah Korea yang masih “bau kencur”, baru berdiri tahun 1999. Baru pada tahun 2005 KAI bisa membuat pesawat fixed wing yaitu Pesawat Latih Tempur T-50i Golden Eagle lisensi dari Lockheed Martin.

Sebagai perusahaan baru, KAI sangat kekurangan Insinyur Pesawat. Jika menyekolahkan anak-anak Korea hingga jadi Insinyur butuh waktu yang lama 10-15tahun, bisa ada kekosongan generasi. Sembari menunggu mereka selesai menyerap ilmu, KAI bersama Pemerintah Korea mencoba mencari negara yang memiliki banyak Insinyur Pesawat berpengalaman untuk bekerja di KAI.

Pilihan awalnya adalah Turki, namun bertepuk sebelah tangan. Lalu Indonesia adalah pilihanya. Negara dengan pengalaman membuat pesawat yang diakui dunia.

Dengan proposal pembuatan pesawat tempur bersama. Korea (pemerintahnya dan KAI) siap menanggung 80% biaya pengembanganya asalkan Indonesia mau mengekspor para insinyur pesawat tempur di PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk bekerja di Pabrik KAI, di Korea Selatan.

Saat ini, sudah 70 insinyur PT DI berada di KAI. Hingga akhir 2016 diharapkan ada 90 insinyur yang dikirim ke KAI, dan hingga 2021 ditargetkan terus bertambah menjadi 200 orang.

Baca Juga:  Donald Trump Akan Bawa Amerika Jadi Apatis

Hasilnya, reputasi KAI langsung meroket di dunia industri dirgantara. Airbus dan Boeing mempercayakan pembuatan sayap padanya. Di tengah tingginya permintaan pada pesawat penumpang, pesanan sayap dari Airbus dan Boeing mendatangkan untung berlipat bagi KAI dan Korea. Pabrik KAI bahkan harus kerja lembur 24jam nonstop karena banyaknya pesanan.


Sedangkan PT DI jatuh sakit terkena denda berkali-kali karena gagal memenuhi target penyelesaian pesanan pesawat atau Helikopter dari TNI walau sudah dibayar lunas.

Ahhh andai tak ada proyek IFX bareng Korea/KAI. Bisa jadi PT DI sekarang ini lagi kelarisan order sayap pesawat dari Airbus dan Boeing. Sehingga tak perlu lagi minta fasilitas kredit bagi negara asing calon pembelinya. (baca: negara asing yang berminat pada produk PT DI adalah negara miskin yang bisanya beli kredit tanpa uang muka atau karena gak ada pilihan lain)

Bila proyek KFX/IFX gagal pada 2026: Korea Selatan sudah mendapat banyak limpahan experience dari para Ilmuwan Indonesia, nama KAI juga moncer dan ilmuwan muda korea tinggal melanjutkan saja.


Indonesia? PT DI entah apakah masih sehat atau malah sekarat karena proyek pengerjaan pesanan yang molor melulu. Reputasinya juga sangat jelek bahkan mungkin saat itu TNI pun juga sudah tak mau lagi memesan padanya.

Itu adalah kemungkinan terburuk, semoga tidak terjadi.

Advertisements

14 Komentar

  1. Ga apa-apa, ilmu itu mahal. Kita udah kadung nyemplung,jangan sampai naik keatas lagi.Kalau naik lagi keatas cuma basah yang didapet. Yang terpenting effort dari Pemerintah dan DPR untuk sama-sama ambisius mencanangkan kemandirian bangsa khususnya pengadaan alutsista yang dalam hal ini pembuatan pesawat tempur TNI.

    Kalau kedua belah pihak sudah sepakat untuk menyegerakan diri menjadi negara yang mandiri dalam penyediaan alutsista berarti sisi-sisi negatif keikutsertaan kita dalam pembuatan KFX/IFX bisa ditutupi dengan mengakuisisi pesawat tempur yang ditawarkan oleh negara-negara produsen. Sebagai contoh SAAB dimana Swedia yg saya baca artikelnya di situs ini sangat memberikan kemudahan kepada Indonesia untuk bisa membuat pesawat tempur secara mandiri. Mereka ga tanggung-tanggung ngasih TOT. Untuk saat ini kita ga usah cari pesawat yang paling hebat dulu deh,kita bukan negara yang punya duit banyak untuk menyediakan alutsista dalam jumlah yang guede kaya China,India, Pakistan, Iran dll. Kita fokus aja sama tujuan kemandirian alutsista dulu. Memang SAAB Grippen bukan pesawat yang super menakutkan macem F 35 atau SU 35, tapi Grippen tetap pespur yang sangat bagus dan sangat canggih, kita bisa nimba ilmu dr mereka, kita bikin Grippen, dapet ilmunya lalu ilmu tsb kita tanamkan di IFX spt yang Grippen janjikan. Dengan begitu kita dapet ilmu pembuatan pespur canggih dari dua produsen yaitu swedia dan Korsel. Kita punya pespur canggih Gprippen dan pendukungnya IFX.

    Setelah kita nimba ilmu dari keduanya kita kembangin sendiri ilmu tsb oleh tenaga-tenaga ahli kita dan hasilnya kita bisa upgrade kemampuan dari Grippen dan IFX yang digunakan saat ini. Bersama produsen kita bisa lebih berperan lagi kedepannya untuk merancang dan membuat pesawat tempur yang jauh lebih canggih lagi dan kita membuatnya di negara sendiri

  2. Tidak ada yang sia sia pasti..

    Kalo konsepnya seperti admin yg bikin artikel, berarti anda kalo jd guru tidak mau membagikan ilmu, lalu kalo kita pelit membagi ilmu layakkah kita juga ngemis ilmu ke negara lain?

    Think smart..

    Contoh PT. PIndad, semua senapan dibeli dan di combine jd satu dr masing masing kelebihannya..jadilah SS2

    Mudah mudahan berulang di Panser 8×8, isu punya isu kita mau Beli Panser Kestrel dari Tata Motors, Panser Pandur dr Ceko dan Panser BTR dr ukraina.. Mudah mudahan kejadian lagi kombinasi ketiganya bisa jadi Panser 8×8 yg brand ori buatan Pindad..

  3. Langkah yang diambil sudah tepat. Tulisan di atas tidak menyampaikan, apa yang didapat oleh Indonesia. Padahal apa yang di dapat oleh Indonesia pun tidak kalah dahsyat. Dansatu lagi, ini adalah satu satunya kesempatan untuk bisa meng-upgrade diri secara mandiri, dengan skema yang ciamik. Perpaduan langkah Pakistan dan India… JF dan Hal… Tidak terlalu tergantung pada pihak luar, tapi juga punya skema kerja yang lebih baik, dibanding jalan sendiri.

    So IMHO… langkah yang diambil sudah tepat…..

  4. Ah kayak gak tau Amerika aja licik nya minta ampun. Mereka pasti mikir karena indo yang terlibat untuk ngembangin kfx-ifx. Udh pasti jadi ancaman buat mamarika. Mending fokus ke yang real aja. Yang didpan mata dah siap kasi apapun pada indo. Jgn pernah percaya pada US, ntar lagi mereka embargo indo. Mampus dah.

Tinggalkan Balasan