Kontrak Sudah Oke, Tapi Duit Untuk Bayar Sukhoi Su-35 Enggak Ada.

Lika-liku pembelian 11 Sukhoi Su-35 oleh Indonesia menemui babak baru. Walau sudah tekan tanda tangan kontrak, tapi ternyata belum ada duit untuk pembayaranya.

Kondisi itu terungkap saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Rabu (23/1/2019) di Kompleks Senayan, Jakarta mengatakan, ada tiga kementerian yang terlibat dalam pengadaan Sukhoi Su-35, “Selain Kementerian Pertahanan, juga Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan,” kata Ryamizard.

Menurut Ryamizard, pihaknya sudah menandatangani kontrak, tetapi selanjutnya harus dilanjutkan dengan pembayaran. Pembayaran terbagi atas 50 persen dalam bentuk imbal dagang dengan produk-produk komoditas dan 50 persen dibayar tunai. Proses diawali dengan penentuan besaran imbal dagang dengan komoditas-komoditas tertentu yang bisa disediakan Indonesia dan dibutuhkan Rusia. “Setelah selesai dengan penentuan komoditas Kementerian Perdagangan, baru proses selanjutnya ke Menteri Keuangan. Kontraknya sudah saya tanda tangani,” ujarnya.

Terkait sinyalemen adanya masalah dari Pemerintah Amerika Serikat yang oleh sejumlah pihak dituding menekan Indonesia untuk membatalkan pembelian, Ryamizard menepis hal itu. Dalam beberapa kali pertemuan, tambah Ryamizard, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menjamin AS tak akan menghambat pembelian Sukhoi Su-35 oleh Indonesia.

Berdasarkan catatan Kompas, kontrak pembelian Sukhoi ditandatangani Kementerian Pertahanan, pertengahan Februari 2018. Kontrak diharapkan efektif, yaitu dibayar enam bulan atau Agustus 2018. Pembelian Sukhoi Su-35 dilakukan untuk mengganti pesawat tempur F-5 Tiger II. Sejauh ini, Pemerintah RI membeli 11 unit Sukhoi Su-35 seharga 1,14 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 15 triliun. Dalam kesepakatan imbal dagang, Indonesia akan membeyar dengan komoditas, seperti kelapa sawit dan kopi.

Baca Juga:  Upgrade Senjata F-16 A/B TNI AU agar Bisa Membawa Smart Bomb JDAM

Dalam paparannya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tak menyebutkan Sukhoi Su-35 sebagai salah satu persenjataan yang akan datang pada 2019.

Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Agus Setiadji mengatakan, dalam kontrak dengan Rusia, pesawat tempur Su-35 akan datang setahun setelah kontrak efektif. Namun, karena hingga Januari ini belum ada pembayaran, tahun ini belum ada kepastian Sukhoi Su-35 tiba di Indonesia.


Di sela-sela rapat dengar pendapat, Ryamizard juga menjelaskan kemajuan proyek pembuatan pesawat tempur generasi 4.5 dengan Korea Aerospace Industries (KAI), yaitu KFX. Proyek itu sebelumnya terkatung-katung, tetapi kini sudah dilanjutkan kembali.

Sumber: kompas.id

14 Komentar

  1. Sekarang Menhan nya sudah Mundur …. semestinya bayar cash dulu 50%, maka niscaya komoditi akan segera dipilih … kecuali Indonesia memaksakan komoditi yang tidak dibutuhkam oleh Rusia.

  2. alutsista yg skr mayoritas pembelian pemerintahan sebelum nya he..he..
    nunggu “greget” nya rezim sekarang dalam pengadaan alutsista, semoga segera ada pembelian alutsista yang punya efek gentar

  3. Preett.. lahh.. gk jelas bgt, dr 2014 msh blm pst jg.. dasar gk niat, semua alutsista yg datang dlm memenuhi program mef 2, msh hasil pesanan rezim bpk besar..

  4. Memang gak logis punya angan-angan menimang SU-35, IFX dan VIPER sekaligus…sementara kita masih mengoperasikan F-16 a/b/c/d, su-27, su-30, su-30 mk2 dan hawk family

    Beruntung punya menkeu yg pintar mengelola keuangan

  5. prediksi 15 hingaa 20 th kedepan blm ada perang, kl ada perang betulan juga kedua pihak menawarkan mesin perangnya dengan mudah, pake dulu bayar kemudian, ngak di bayr jg ok, tinggal perang nya sm siapa blok barat apa timur, mending duit yg ada buat infrastruktur, betul sekali itu, gedein pal, gedein pt di, pindad dan konco konconya…

Tinggalkan Balasan ke Tukang Nglindur, PhD Batalkan balasan