KRI Jaga Laut-123, Kapal Perang Milik Warga Kampung Laut Cilacap

Siapa sangka jika Kampung Laut di Cilacap, Jawa Tengah yang berada di Laguna Segara Anakan ternyata juga dijaga oleh sebuah kapal perang. Ada 25 orang pasukan yang merupakan warga setempat. Kapal Perang itu bernama KRI Jaga Laut-123.

Memang bukan kapal perang betulan, KRI Jaga Laut-123 merupakan satu dari 40 perahu hias buatan warga desa setempat untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan NKRI ke-72. Perahu-perahu tersebut oleh warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, dihias untuk dilombakan pada kompetisi perahu hias yang diselenggarakan oleh Kecamatan Kampung Laut.

Beragam jenis hiasan perahu yang dilombakan. Selain kapal yang berbentuk seperti kapal perang milik TNI AL, ada juga kapal berbentuk naga dengan kecepatan tinggi yang didayung oleh awak perahu yang menjadi ciri khasnya. Para pelajar tidak kalah, mereka menghiasi perahunya dengan menambahkan miniatur pesawat tempur berukuran 3×2 meter.

Menurut Wargo Pramudita, ketua perahu KRI Jaga Laut-123, yang menang sebagai juara pertama mengatakan sebagai nelayan dirinya juga merasa perlu menjaga laut. Sehingga mereka berinisiatif untuk membuat nama kapal perang tersebut
Sebanyak 20 awak kapal KRI Jaga Laut-123, secara kompak mengenakan konstum loreng ala tentara dengan baret merah. Menambah kesan tentara, masing-masing awak perahu menggendong senjata laras panjang berwarna hitam yang terbuat dari kayu.

“Karena kita rata-rata nelayan jadi kita ambil nama Jaga Laut dan untuk 123-nya itu karena yang buat kapal dari Dusun Motean Desa Ujung Alang RT 1,2 dan 3,” ucapnya.

Baca Juga:  Molor Lagi, Kontrak Pembelian Sukhoi Su-35 Baru Akan Dibuat

Dia menjelaskan, bersama anggotanya dia membutuhkan waktu 12 hari untuk membuat kapal perang berwarna abu-abu ini. Berbagai material mulai dari bambu yang digunakan untuk moncong meriam, kardus digunakan untuk membuat ruang naviagasi, hingga terpal berwarna abu-abu digunakan untuk melapisi tepi perahu.

“Konsep perahu hasil perundingan dan kesepakatan seluruh awak perahu,” ujar warga Desa Ujung Alang ini.

Sementara menurut Koordinator Lomba Perahu Hias Kampung Laut, Paryono, adapun kriteria penilaian yang dilakukan oleh juri di antaranya mempertimbangkan faktor keindahan, keunikan, kreativitas, kekompakan, yel-yel, kearifan lokal, dan kesesuaian dengan tema kemerdekaan.

“Lomba ini serangkaian dengan upacara di atas laut. Kami juga ingin mengapresiasi warga Kampung Laut yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan,” katanya.

Sumber: detik.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan