Krisis Showa, Ambruknya Ekonomi Jepang Setelah Perang Dunia I

Memasuki milenium 1900an Ekonomi Jepang tumbuh pesat berkat restorasi meiji tahun 1868. Restorasi atau Revolusi Meiji, adalah pengembalian kekuasaan kepada kaisar di Jepang pada tahun 1868 yang sebelumnya berkuasa adalah Shogun atau keshogunan Tokugawa.

Jepang saat itu maju pesat dengan yang mengusung modernisasi dan industrialisasi. Serta mengubah kebijakan dari negara tertutup menjadi negara terbuka ke dunia internasional.

Sejak restorasi itu perekonomian Jepang mulai berkembang baik terutama di bidang industri ringan, hingga puncaknya pada Perang Dunia I yang dimana Industri Jepang berhasil menjadi produsen kelas dunia. Namun sayangnya kemakmuran yang didapat sirna setelah perang selesai, Jepang menjadi negara pengutang sejak tahun 1919-1927, ini ditambah dengan adanya ketidakstabilan politik dalam negeri, ditambah lagi gempa bumi besar pada 1923 dan kalah bersaing dengan revolusi industri di Inggris.

Akibatnya di tahun 1920an awal, ekonomi Jepang mengalami keterlambatan dan menuju resesi dan diperburuk oleh adanya fenomena kepanikan keuangan pada 1927, di mana beberapa aset keuangan tiba tiba kehilangan sebagian besar dari nilai nominalnya.

Salah satu penyebabnya, bank-bank Jepang melakukan investasi besar besaran ke industri senjata untuk memenuhi kebutuhan negara-negara yang terlibat perang Dunia I, ketika perang terhenti maka produksi juga menurun dan harga barang mulai anjlok. Warga yang panik juga melakukan penarikan uang tabungan mereka dari bank bank Jepang (Rush Money), ini juga mempe

Baca Juga:  Profil 4 Tokoh Yang Dianugerahi Pahlawan Nasional Pada 2017
Rakyat Jepang antri untuk mengambil uang saat krisis tahun 1920. Foto: wikipedia

Oleh sebab itu, pada 1927 Pemerintah Jepang mengeluarkan “Earthquake Bonds” kepada 37 bank besar, meski begitu cara ini hanya berdampak sedikit. Harga bahan makanan nasional pokok melonjak tinggi menyebabkan 200.000 orang dikabarkan tewas akibat kelaparan, dan Perdana Menteri Wakatsuki mundur karena dianggap gagal. Perdana Menteri baru yaitu Tanaka Giichi langsung menerapkan kebijakan bank holiday selama 3 minggu dan penerbitan pinjaman darurat.

Sebelum tahun 1930, ekonomi Jepang telah pulih dan menjadi raksasa dunia sampai menjadi pelaku utama pecahnya Perang Dunia II.