KSAU Sampaikan Alutsista TNI AU Capai 44 Persen, Modernisasi Terus Dilakukan

Sabtu, 02-02-2019
TSM-Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabes TNI AU) menggelar Rapat Pimpinan TNI AU, di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur.

Kepada media, usai Rapim, Jumat sore (1/2/2019), Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan, Rapim TNI AU ini sebagai kelanjutan dari Rapat Pimpinan Kemhan yang dilaksanakan beberapa pekan yang lalu, kemudian dilanjutkan Rapim TNI-Polri, dan diterjemahkan dalam Rapat Pimpinan TNI AU.

KSAU mengatakan Rapim ini dihadiri oleh seluruh Panglima Kosek, Pangkohanudnas, Komandan Komando Utama (Kotama) maupun Komandan Satuan dari mulai Komandan Lanud, Komandan Skuadron, dan Komandan Wing hingga tingkat satuan bawah dihadirkan.

“Dengan harapan semua bisa memahami dan bisa mengevaluasi kegiatan tahun 2018 dan memahami betul apa yang akan dilaksanakan pada 2019. Fokus 2019, jelas akan kita tuntaskan permasalahan-permasalahan yang sempat tertinggal pada 2018 dan melaksanakan program kerja rutin di tahun 2019,” terang KSAU.

“Khusus di bidang pengadaan, kita mengacu pada pembangunan MEF yang mana (alutsista) TNI AU baru tercapai 44 persen dari 100 persen pada tahun 2024. Yang seharusnya di akhir 2019 nanti, MEF kita akan tercapai 66-67 persen. Kenapa demikian? Karena pengadaan ada beberapa yang masih berjalan, masih proses di Kemhan. Namun demikian, saya optimistis komitmen saya untuk mempercepat pengadaan alutsista ini. Kita tahu pengadaan alutsista tidak bisa sekarang proses, sekarang kontrak dan sekarang datang. Tidak seperrti itu. Khususnya pesawat, rudal, butuh waktu 2-3 tahun,” bebernya.


Menurutnya, alutsista TNI AU yang ditandatangani pada tahun ini, baru bisa datang sekitar tahun 2021-2022. Jadi, kata KSAU, pada akhirnya TNI AU optimistis pada tahun 2024 alutsista TNI AU sesuai MEF ini akan tercapai.

“Hanya (alutsista) ini tertunda saja, karena prosesnya yang terlambat. Komitmen saya dari awal untuk mempercepat semua ini, bahwa proses pengadaan di TNI AU sudah selesai. Sekarang kita serahkan kepada Kemhan dan prosesnya sekarang berada di Kemhan. Kami sekarang hanya bisa berkoordinasi agar mempercepat proses pengadaan itu,” jelas KSAU.

Baca Juga:  Kalau Indonesia Ingin Industri Pertahanan Mandiri, Belajarlah pada Turki

“Hal yang menjadi tugas kami, membangun satuan-satuan baru sebagai tindak lanjut pembangunan Koopsau III sedang berjalan semuanya. Contohnya, di wilayah timur kita membangun Skuadron-33 Hercules di Makassar. Insya Allah akan kita resmikan di triwulan kedua 2019 ini. Demikian juga Skuadron 27 di Biak, kita akan segera resmikan. Lanud di Timur akan kita resmikan, seperti di Wamena, Saumlaki. Koopsau III juga sedang berjalan, Mako sudah selesai dan infrastruktur lainnya pada akhir tahun ini bisa selesai,” tambahnya.


Ia mengatakan, dii bidang kemampuan, TNI AU terus menigkatkan kemampuannya. Kasau menekankan, dengan tuntutan tugas di tahun ini, kesiapan pesawat untuk antisipasi bencana haruslah diutamakan.

“Sudah saya perintahkan ke bagian pemeliharaan minimal kesiapan Hercules setiap saat minimal 12 unit. Kita tidak tahu bencana (terjadi) kapan, tapi yang jelas, kita harus siap. Belajar dari tahun yang lalu, kesiapan Hercules sangat dibutuhkan. Pesawat CN paling tidak, siap lima unit, CN-295 dan CN-235, wing empat. Pasukan seperti Paskhas juga harus siap, kemudian lanud-lanud harus siap mendukung bantuan kemanusiaan bila terjadi bencana,” ujarnya.

Di bidang operasi untuk perang, Kasau melanjutkan, fokus tahun ini TNI AU ingin meningkatkan operasi malam hari. Dimana operasi siang hari sudah dilakukan, namun untuk operasi malam hari ditekankan bisa melakukan intersepsi malam, kemudian penyerangan baik bom, roket, dilakukan di malam hari.

“Saya akan latihkan di tahun ini, sehingga di akhir tahun 2019 atau di akhir Renstra ketiga ini diharapkan kemampuan TNI AU sudah utuh, baik di siang hari, maupun malam hari, bantuan kemanusiaan kita sudah siap. Harapan saya seperti itu. Insya Allah kita bisa wujudkan,” ucap KSAU.

Baca Juga:  Peringatan HUT TNI Ke-72 Tahun 2017 Dipusatkan di Cilegon

Soal pesawat Sukhoi Su-35 yang akan dibeli dari Russia, KSAU memastikan bahwa kedatangan burung besi dari beruang merah itu tidak datang tahun 2019 ini.

“Jadi, (soal) Su-35, saat saya dilantik menjadi KSAU saya terus push ke Kemhan seperti yang disampaikan kepada Menhan, sudah ditandatangani. Saat ini prosesnya di Kemhan. Proses di TNI AU sudah selesai. Memang yang saya tahu tiap tahun datang secara bertahap, satu tahun setelah efektif kontrak,” ujarnya.

KSAU mengungkapkan, pembangunan MEF 44 persen belum termasuk Sukhoi Su-35. Hitungan 44 persen MEF itu adalah tentang alutsista yang sudah datang. Menurutnya, pesawat Sukhoi, pesawat Amphibius sebanyak enam pesawat yang bisa mendarat di laut, sungai dan danau. Kepentingan utamanya pesawat itu selain untuk kepentingan operasi militer seperti pengintaian, SAR, juga untuk pemadam kebakaran bila terjadi karhutla yang selalu terjadi.

“Mudah-mudaham pada tahun depan sudah ada secara bertahap. Kemudian, heli Caracal sebanyak delapan unit tambah 3 unit lagi, jadi sebelas unit, itu sudah ditandatangani kontraknya itu dengan PTDI, Cassa sembilan pesawat, dan radar sebanyak enam unit dan persenjataan dan radar T-50i yang belum lengkap,” tuturnya.

Dengan kekuatan MEF 44 persen itu, sementara kondisi geopolitik dan geostrategis Asia Pasifik apakah akan menyulitkan operasi TNI AU? Menurutnya, hal itulah yang harus kita pandai-pandai mengaturnya. Sekarang ini pesawat yang ada, pesawat F-16 yang sedang di upgrade agar betul-betul diefektifkan dalam menghadapi situasi yang berkembang, demikian juga Sukhoi Su27/30, T-50i dipasang radar agar bisa melakukan counter.

“Anggarannya sudah ada, tinggal prosesnya saja. Kalau kita bisa percepat, maka akan percepat establih-nya TNI AU,” demikian dikatakan KSAU.

Sumber: tangerangonline.id

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan