Kuras Anggaran, Ribuan Tentara Amerika Serikat Impoten dan Jadi Gay Setelah Perang Di Irak

Ribuan tentara Amerika Serikat (AS) mengalami masalah disfungsi seksual setelah menjalani tugas perang di Irak dan Afghanistan. Gara-gara masalah ini  Departemen Pertahanan (AS) menghabiskan puluhan miliar dolar untuk perawatan kesehatan bagi personel militer aktif dan pensiunan. Yang paling utama untuk pembelian Viagra.

Masalah kesehatan makin pelik karena banyak tentara AS yang berubah orientasi seksualnya setelah perang. Karenanya Presiden Donald Trump melalui Twitter mengumumkan larangan bagi kaum transgender untuk masuk melayani militer AS mulai tahun depan.

Dalam tweet-nya, Trump mempersoalkan biaya perawatan kesehatan militer, terutama untuk kalangan transgender.


Sebuah data dari surat kabar Military Times mengungkap bahwa Pentagon membelanjakan dana sekitar USD84 juta untuk pengobatan disfungsi ereksi personel militernya setiap tahun.

Data lain dari perkiraan lembaga studi Rand Corporation pada tahun lalu menyebut bahwa biaya perawatan kesehatan kaum transgender telah meningkatkan anggaran kesehatan militer AS sebesar USD8,4 juta per tahun.


Pentagon tidak merinci secara resmi alasan menghabiskan banyak dana untuk membeli obat disfungsi ereksi bagi personel militer aktif dan pensiunan tentara.

Data Military Times itu sebenarnya mengacu pada data Defense Health Agency (Layanan Kesehatan Pertahanan) pada data 2014. Dalam data itu terungkap bahwa Pentagon mengeluarkan dana USD84,2 juta untuk pengobatan disfungsi ereksi personel militer AS pada tahun itu.

Surat kabar itu juga memiliki data lain yang menyebut bahwa Pentagon mengabiskan dana USD294 juta untuk membeli Viagra, Cialis dan obat-obatan lainnya sejak tahun 2011. Besaran dana itu dianggap setara dengan biaya pembelian beberapa pesawat jet tempur.

Baca Juga:  Vietnam Ekspor Radar Peringatan Dini ke Laos

Pada tahun 2014, sekitar 1,18 juta resep diisi sejumlah obat yang sebagian besar tertulis Viagra. 

Meski Pentagon tidak merinci alasannya, namun laporan BBC mengungkap bahwa disfungsi ereksi dialami para personel militer AS. Kondisi itu semakin meningkat sejak perang di Irak dan Afghanistan dimulai. Namun, gangguan itu juga dialami para tentara AS yang tidak pernah dikerahkan di medan tempur karena faktor psikologis.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan