LAPAN Uji Terbang RX200TJ 2, Berhasil Meluncur Sejauh 39Km

Di Pandanwangi 5 November 2016, Pusat teknologi roket (Pustekroket) LAPAN berhasil membuat rekor baru. Sebagai bagian dari program besar penelitian dan pengembangan roket kendali, Pustekroket harus menjalani salah satu fase penting dalam siklus penelitian yaitu validasi.

Misi utama peluncuran kali ini adalah memastikan sistem kendali Auto-Take Off maupun Autopilot berbasis Waypoint yang telah diaplikasikan sebelumnya tetap berjalan dengan baik menghadapi kondisi yang lebih ekstrim sehingga batas-batas flight envelope dari wahana uji bisa terpetakan. Pada peluncuran sebelumnya (Pandanwangi, Agustus 2016) nilai-nilai gain optimal yang cocok digunakan pada sistem otopilot berhasil didapatkan. Setiap sistem otopilot jika dihadapkan pada konfigurasi wahana terbang yang berbeda, maka nilai gainnya pun harus berubah.

Wahana yang diuji ada dua jenis, meski memiliki bentuk serupa dan baseline yang sama yaitu RKX-200TJ (Roket Kendali Experimental berdiameter 200 mm bertenaga dorong turbojet), namun memiliki lokasi penempatan engine yang berbeda.

roket-lapan-3 roket-lapan-2


RKX-200TJ berwarna putih (SiPutih) menempatkan mesin jet di bagian tengah wahana, sedangkan varian berwarna oranye (SiOrenj) menggunakan bagian belakang sebagai lokasi penempatan jetnya. Perlu dicatat bahwa desain dan pengerjaan wahana LAPAN ini adalah 100% karya bangsa Indonesia.

Setiap konfigurasi memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Varian Si Putih memiliki keunggulan di kestabilan longitudinal, sedangkan varian SiOrenj memiliki keunggulan pada daya tampung bahan bakar.

Aspek penting yang divalidasi dalam percobaan kali ini ada dua, aspek kestabilan longitudinal yang berimplikasi pada perilaku pitching (angguk) dan aspek daya tampung bahan bakar yang berpengaruh langsung pada jarak jelajah terbang wahana.

Pada varian SiPutih, percobaan yang dilakukan menggunakan pendekatan full autopilot (assisted takeoff by rocket, loitering dan terminating). Dengan kecepatan terbang rata-rata 180 km per jam, RKX 200TJ SiPutih, mampu bertahan terbang selama 13 menit atau berarti menempuh jarak mendatar sekitar 39 kilometer ! Jauh melebihi target desainnya yang mempersyaratkan jarak 20 kilometer sebagai jarak maksimum. Pada percobaan kali ini, wahana uji juga mampu terbang menembus ketinggian awan stratocumulus di mana awan cumulus terlihat jelas berada jauh di bawah kamera onboard. Dan yang tampak hanya keindahan langit di mana matahari berada di atasnya (15:41) dan puncak gunung Semeru di bawahnya (16:30).

Jika ketinggian puncak gunung Semeru adalah 3.676 meter, ini berarti wahana mampu terbang melebihi ketinggian tersebut, maka sebuah rekor telah tercetak, dengan RKX-200TJ SiPutih LAPAN Pustekroket berhasil “Menembus Awan untuk Menggapai Matahari”.


Fitur khas dari program RKX-200 TJ ini terletak pada penggunaan roket sebagai tenaga pendorong awal atau pelontar.

Konsekuensinya adalah perhitungan kestabilan statik baik itu matra longitudinal ataupun matra lateral/direksional harus akurat dalam hitungan millimeter. Sedangkan pada varian Oranye, mesin jet yang digeser ke belakang, benar-benar menghadirkan tantangan baru bagi peneliti dalam mengatur kestabilan longitudinal. Titik pusat gravitasi yang mundur ke belakang memaksa para peneliti untuk mencari dan mencoba berbagai posisi ballast / pemberat untuk menggeser titik CG agar kembali ke depan/daerah stabil tanpa banyak mengubah karakteristik momen inersianya.

Setelah melalui beberapa simulasi dan percobaan, akhirnya pada uji peluncuran di Pandanwangi kali ini ditemukan posisi optimum ballast yang akan digunakan pada fase-fase pengembangan berikutnya.

Wahana ini memiliki potensi sebagai alat pemantau cuaca (fast deploy weather surveyor), pemantau lalu lintas laut, dan pencegat kapal (quick response ship interdictor).

Semoga dengan capaian LAPAN Pustekroket ini, bisa menjadi sumbangsih pada dunia penerbangan dan keantariksaan Indonesia agar semakin bergairah dan mengakselerasi untuk menguasai teknologi roket luar angkasa. (LAPAN)

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan