Lawatan Presiden Perancis, Indonesia Borong Senjata dan Transfer Teknologi

Kunjungan Presiden Prancis Francois Hollande memang tak seheboh kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi. Pemerintahan Joko Widodo berhasil memanfaatkan banyak transfer teknologi dari negara yang dikenal pelit untuk urusan berbagi pengetahuan itu. Sebagai perbandingan, India yang memborong pesawat tempur Rafale dan kapal selam, tidak mendapatkan transfer teknologi penting.

Indonesia yang belum membeli kapal selam dari Perancis, melalui BPPT berhasil memaksa Perancis untuk kerjasama di bidang pengembangan baterei kapal selam.

Sedangkan PTDI makin erat dengan Airbus Helicopter untuk mendukung program pengadaan helikopter TNI. PTDI akan semakin punya “kuasa” dalam memproduksi helikopter lisensi Airbus dan memodifikasinya sesuai kebutuhan TNI.

Presiden Jokowi tampaknya ingin memperkuat alutsista TNI melalui meja diplomasi dibanding aksi jual beli alutsista yang memang lebih menguntungkan broker dibandingkan keberlangsungan alutsista TNI.

Patut dicatat, Indonesia memang tetap membeli senjata dari Perancis, tapi Perancis lah yang datang ke sini untuk bernegosiasi, bukan kita.

Dijelaskan Ryamizard, untuk alutsista, Indonesia membeli beberapa peralatan tempur dari Perancis. “Banyak, ada meriam, roket, helikopter serbu, helikopter Euro,” ucap Ryamizard.

Ryamizard mengatakan pembelian alutsista tentunya harus menenuhi syarat transfer teknologi yang diamanatkan oleh undang-undang. Ia menegaskan syarat ini mutlak harus dipenuhi oleh Prancis.

“Kalau beli, kita harus transfer teknologi atau 35 persen dibayar pakai apa. Bukan barter juga tapi ya 35 persen nanti diganti apa,” imbuhnya.

Baca Juga:  Menhan Bantah Ada Upaya Makar

Maka dari itu, Ryamizard akan berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan Emggartiasto Lukito mengenai pembelian alutsista itu.

Presiden Prancis sendiri memboyong sekitar 40 pengusaha dalam lawatannya ke Indonesia dengan komitmen investasi sebesar 2,6 miliar dolar Amerika.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan