Mantap! Tank Medium Pindad Bisa Melihat dan Menembak Musuh dengan Panduan UAV

Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh sistem kubah CMI Defence C3105 Modular Turret yang dipilih oleh PT.Pindad, Persero untuk diintegrasikan sebagai sistem senjata utama tank medium Pindad adalah teknologinya yang bisa terhubung ke manajemen pertempuran modern.

Jadi, jika di masa lalu tank harus bergerak dan menembak dengan memanfaatkan informasi yang diterima dari elemen pengintai depan di kompi intai misalnya, maka pada C3105 informasi tersebut bisa diterima dari UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau yang populer dikenal sebagai drone.

UAV memang memiliki keunggulan berkat ukurannya yang kecil dan mesinnya yang cukup senyap, sehingga relatif tidak terdengar dari darat. Jangkauannya juga lebih jauh karena melayang di udara, sehingga bisa menangkap gambaran di darat secara lebih luas. Yang terpenting, UAV juga tidak diawaki sehingga kalau tertembak jatuh pun, maka tinggal menerbangkan UAV baru saja.

Nah, pada 2016 CMI Defence mengumumkan bahwa mereka sudah bekerjasama dengan Thales, dimana Thales akan menyediakan UAV taktis Spyranger yang bisa diluncurkan dari platform rangka peluncur untuk mencari informasi di medan pertempuran. Data yang disediakan oleh SpyRanger berupa tampilan video dan koordinat geolokasi sasaran yang ditemukan dan dikirimkan kembali ke tank.

CMI Defence sendiri sudah mendesain sistem kendali kubah dan sistem kendali penembakan untuk bisa langsung otomatis memberikan solusi penembakan ketika komandan mengetuk posisi sasaran yang sudah ditemukan oleh UAV SpyRanger dan ditampilkan pada konsol layar sentuh di hadapan komandan sendiri.

Begitu sasaran sudah dipilih untuk dihancurkan, maka komputer akan menentukan sudut dongak laras dan arah hadap laras (gun laying system) sehingga tembakan kanon 105mm HP bisa dilepaskan dengan akurasi tinggi. Bahkan jika sasaran bersembunyi di balik bukit pun, kanon 105mm di kubah C3105 tetap bisa bereaksi karena punya kemampuan dongak sampai 42 derajat. Artinya, Tank Medium Pindad akan punya kemampuan artileri sekunder.

Yang lebih hebat lagi, selain menerima tangkapan dari UAV secara langsung (live feed), sang komandan dapat mengoperasikan arah kamera yang terpasang di UAV Spyranger secara langsung dengan menggunakan joystick yang ada di dalam ruang tempurnya. Jadi kalau ada area yang dicurigai dan butuh di-zoom, komandan dapat melakukannya sendiri tanpa perlu menghubungi pusat kendali UAVnya.


Satu hal lagi, dari video yang resmi dirilis CMI Defence, bisa dikira-kira akan seperti apa kelak situasi di dalam ruang tempur kubah C3105 yang akan terpasang di tank medium Pindad. Dengan komandan yang duduk menghadap dua display multi fungsi layar sentuh yang bisa merangkap begitu banyak fungsi, tampak betul kecanggihan sistem kubah C3105 yang juga sudah mengaplikasikan sistem pengisi otomatis atau autoloader.

CMI Defence sebagai pabrikan sendiri tidak terafiliasi dengan blok manapun karena teknologi persenjataan yang dikembangkannya sendiri. Kalau Indonesia mau, ya tinggal sanggupi untuk membeli paket lengkap kemampuan kubah C3105, serta tentu saja membeli UAV Spyranger dari Thales. Dengan hubungan yang amat erat dengan Indonesia dari segi militer, rasanya Spyranger pun akan dijual ke Indonesia bila memang TNI AD tertarik memiliki kemampuan integrasi tank dan UAV.


Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/personal/index/

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan