Masuk Proyek Strategis Nasional, N245 dan R80 Terbang di 2020

Pesawat Terbang R80 dan N245 telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Pesawat R80 akan dikerjakan oleh PT Regio Aviasi Industri, milik mantan Presiden BJ Habibie dan putranya, Ilham Akbar Habibie. Sedangkan N245 akan digarap PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).

R80 adalah pesawat angkut berbadan sedang dengan mesin turbprop dengan jumlah penumpang mencapai b 80-90 orang dengan kecepatan lebih tinggi dibanding pesawat sejenis bermesin turboprop.

R-80 juga dinilai unggul karena biaya operasinya yang paling rendah di kelasnya, menawarkan keandalan, sistem avionik kelas lanjut yang memungkinkan tingkat keselamatan semakin tinggi, kenyamanan bagi penumpang, hingga ramah lingkungan.

Sedangkan pesawat N245 adalah pengembangan dari CN-235 yang juga diproduksi PT DI

“PTDI kembangkan dari CN-235, jadi N245 yang tadinya ada ramp door pintu buat barang, itu diubah semuanya untuk penumpang. Kalaupun untuk barang itu di bagasi-bagasi,” ujar I Gusti Putu Suryawirman, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Telekomunikasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/2/2017).

Dua proyek pesawat ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$ 180 juta-200 juta. Dengan dimasukannya pengembangan pesawat N245 dan R80 ke dalam PSN, diharapkan bisa meminimalisir risiko dalam pengembangan.

Putu menambahkan, permintaan pesawat N245 dan R80 cukup banyak, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga:  Airbus Ingin Gandeng PT DI Bangun Fasilitas Perawatan di Indonesia

“Untuk kurangi risiko itu, ini dimasukan ke dalam PSN. Karena demandnya besar sekali ukuran 30-60, demand dunianya 800-an gitu, demand domestiknya bisa mungkin 120-an setahun,” terang Putu.

Proyek itu akan dimulai tahun ini seiring dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres). Diharapkan pesawat N245 dan R80 selesai dan dapat terbang di 2020.

“Ini diharapkan kalau disetujui terbang di 2020. Jadi udah bisa terbang, kalau udah bisa terbang kan tinggal diurus sertifikasi. Tinggal dijadiin Perpres saja,” tutup Putu.


sumber : finance.detik.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan