Menanti Kiprah Calon Raja Jordan, Pangeran Hussein

Jordania adalah kerajaan paling “miskin” minyak bumi di tanah Arab. Level kemiskinanya sama dengan Yaman. Tapi Jordania dianugerahi sumber air paling besar di Jazirah Arab. Berkat mata air inilah, ekonomi Yordania berputar. Tidak bombastis seperti negara kaya minyak, tapi stabil dan makmur.

Nama resmi negara ini adalah, Kerajaan Bani Hasyim Yordania. Berdasarkan silsilah, keluarga kerajaan memang masih trah Bani Hasyim, yaitu Abbas bin Abdul Muthallib, paman Nabi Muhammad. 

Peta kekayaan Air Yordania

Prolog:
Tahun 2004, Raja Abdullah II membuat keputusan penting. Dia mencopot putra Mahkota sekaligus saudara tirinya, Pangeran Hamzah bin Raja Hussein. Hamzah adalah anak pertama Raja Hussein dari istri ke-empat yg warga negara Inggris. 

Sebagai gantinya, Abdullah II mengangkat putra tertuanya sebagai putra Mahkota yang berhak jadi raja nantinya. Pangeran Hussein bin Raja Abdullah II.

Pencopotan ini sempat memicu protes di Yordania. Sebagian rakyat menganggap ini adalah bentuk pengkhianatan atas wasiat mendiang Raja Hussein. Tapi protes berhasil diredam dan Yordania gak bernasib seperti Syiria atau Mesir. Arab spring gagal di Yordania.

Profil Raja Abdullah II

Raja Yordan ini adalah politikus ulung. Dia melanjutkan perjanjian damai Yordan-Israel yang ditandatangani oleh bapaknya, Raja Hussein. Tapi dia memotong aliran air tawar yang mengalir ke laut mati yang menimbulkan banyak masalah bagi sektor pariwisata Israel. 

Baca Juga:  Putin: Senjata Baru Rusia Akan Dibuat Berdasarkan Pengalaman Perang di Suriah

Abdullah II juga menaikkan harga air tawar yang dijual Yordan ke Israel. Dia beralasan bahwa keuntungan lebihnya adalah hak bagi pengungsi Palestina di Yordania yang jumlahnya mencapai 1 juta orang. 

Yordania adalah negara paling bersih dari korupsi di dunia Arab dan dunia. Indeks korupsi Mereka berada di urutan ke 55 dari 127negara, bandingin sama Indonesia yg di posisi 110. 

Ada apa dengan Pangeran Hussein sang calon Raja?
Negara-negara Arab yang bersekutu dengan Amerika dan Inggris, seperi Arab Saudi, Qatar dan Yordania. Memainkan politik dua kaki. Lihat saja Arab Saudi, yang saat ini terus memborong alat tempur baru untuk mengisi gudang senjata. Menjadi mereka konsumen alutsista nomer 1 di dunia. 

Di tengah krisis yang dialami Amerika dan Eropa. Satu-satunya jalan untuk menggerakkan ekonomi adalah dengan menjual senjata ke negara minyak Arab. 

Jika pasokan senjata dari Amerika dan Barat lancar. Tahun 2020 kekuatan tempur Arab Saudi sudah 2 kali lipat dari Israel. Itu tidak termasuk sistem rudal yang dibeli Saudi dari Rusia dan nuklir dari Pakistan.

Bagaimana jika senjata dari Amerika dan sekutunya gak dikirim? Arab Saudi akan membalasnya dengan boikot pengiriman minyak. Makanya Amerika dan Barat mengantisipasinya dengan membuat kekacauan di Syiria dan ISIS. Harapanya mereka bisa mengamankan pasokan minyak dari kemungkinan itu.  Dengan mendapat  minyak plus menganggu pasokan minyak Rusia yang mulai akrab dengan Saudi dkk.
Ada apa dengan Pangeran Hussein?

Baca Juga:  Vietnam Borong Senjata Dari Rusia Senilai 1 Milyar Dollar

Pangeran ini adalah prototype pemimpin Arab jilid baru yang  memiliki semangat Pan Islamisme, seperti Erdogan-Turki dan Raja Tamim Al-Thani – Qatar. Para pengamat intelijen meyakini bahwa dia adalah pengikut faham ikhwan.


Militer Yordania sendiri adalah yang terbaik kedua di tanah Arab setelah Syiria (sebelum perang). Jika akhirnya naik tahta dan pecah perang terbuka lagi dengan Israel. Bukan tak mungkin bakal terbentuk aliansi Saudi, Qatar, Yordania, dan milisi-milisi jihad di Syiria dan Lebanon.


Perang sipil  di Syiria, Libia dan Irak telah membuka mata Amerika  tidak lagi campur tangan dalam urusan dalam negeri negara Arab. Perang justru bisa memunculkan pemimpin yg tidak pro barat. Di tengah faham Pan Islamisme yang sedang mewabah di Arab, itu bisa jadi ancaman.

*note: penulis adalah mantan penerjemah di CID Qatar.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan