Mengapa Manusia Tertarik Pada Rangking Militer Negaranya?

Jika ngobrolin militer, ada banyak yang antusias main klaim bahwa negaranya terkuaylt sekian kian.

“Masuk 15 Besar Peringkat Global Firepower Index, Kekuatan Militer Negara Ini Tertinggi di Asia Tenggara!”

“Pasukan Khusus Ini Adalah Elite Terbaik Ketiga di Dunia!”

Mengapa ada banyak orang yang dengan mudahnya tertarik dengan situs-situs ranking seperti GFP maupun klaim ranking? Jawabannya mungkin dapat ditemukan di dalam sebuah teori psikologi.

Seorang psikolog bernama David McClelland mengemukakan sebuah teori bernama Achievement Motivation Theory, atau dikenal juga dengan Teori Kebutuhan McClelland. Achievement Motivation Theory menyatakan bahwa setiap individu memiliki tiga hal yang menjadi kebutuhan, yaitu N-Ach (need for achievement), N-Pow (need for power) dan N-Aff (need for affiliation).

N-Ach berbicara tentang bagaimana seseorang menginginkan pencapaian yang signifikan, pujian dan hadiah atas kesuksesan, serta berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar. N-Pow berbicara tentang bagaimana setiap orang termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan wewenang yang lebih untuk mempengaruhi dan mengendalikan, mendapatkan dominasi dengan ide-ide mereka, serta mendapat reputasi dan harga diri.

Hipotesis admin disini adalah, lingkungan kehidupan banyak orang membuat N-Ach mereka menjadi dominan. Misalnya ketika bersekolah nilai dilaporkan dalam rapor setiap semester, lalu dibuatlah laporan ranking dimana nilai setiap murid disusun dari yang terbesar hingga yang terkecil. Yang terbesar tentu akan mendapat urutan atas, dan tentu saja yang akan menjadi sorotan adalah RANKING SATU. Lalu siapapun yang mendapat urutan pertama dalam sistem ranking itu akan dicap sebagai murid yang paling pintar. “Siapa yang paling pintar di kelas?” “X” “Mengapa?” ”Kan dia mendapat ranking satu di kelas/angkatan.” Ranking-rankingan tersebut menjadi indikator akan pencapaian seseorang di suatu bidang.

Baca Juga:  Turki Lanjutkan Upaya Pembelian Sistem Anti-Rudal Eurosam

Ini baru satu contoh di sekolah. Masih ada banyak sistem-sistem ranking yang dapat mendorong N-Ach orang menjadi dominan di kehidupannya. Urutan juara perlombaan. Urutan nilai ujian masuk perguruan tinggi. Urutan level di mobile game. Tidak menutup kemungkinan bahwa unsur N-Ach ini kemudian juga menyelinap ke dalam pemikiran seseorang terkait topik militer, dimana orang masih mencari situs penilaian dan ranking-rankingan militer sebagai standar ‘prestasi’ militer suatu negara. Ini mereka gunakan untuk menentukan baik-buruknya militer negara tersebut. Sama saja seperti apa yang sudah mereka lakukan sekian lama.

Yang Jadi Masalah

Belum ada badan penilaian atau sistem ranking yang bisa benar-benar diandalkan sebagai alat analisa kekuatan militer layaknya rapor anak sekolah. GFP hanya mengandalkan aspek numerik militer negara tanpa memikirkan kapabilitas. Hitungan numerik di GFP pun sebetulnya sudah terkena distorsi karena GFP gagal melakukan pembedaan yang signifikan dalam pemrosesan hitung-hitungannya tersebut, misalkan tidak membedakan kendaraan tempur berantai dan beroda dalam menghitung land strength suatu negara.

Memang ada laporan analisa mengenai index kekuatan militer sebuah negara secara spesifik, contohnya seperti yang ditulis Heritage Foundation ini: https://www.heritage.org/sites/default/files/2017-10/2018_IndexOfUSMilitaryStrength-2.pdf Akan tetapi index spesifik seperti itu tidak ditujukan untuk ranking-rankingan lagi, atau perbandingan kekuatan militer dengan negara lain. Index seperti itu digunakan untuk menilai kesiapan sebuah negara untuk menghadapi ancaman di masa depan.

Baca Juga:  Digertak China, Duterte Batalkan Kunjungan Ke Pulau Sengketa

Sehingga dalam konteks membahas kekuatan militer negara, N-Ach tidak dapat dituruti. Yang harus disalahkan disini bukanlah psikologi setiap orang, melainkan memang ketiadaan alat ukur yang dapat digunakan untuk memuaskan N-Ach tersebut.

Sebuah metode penilaian militer yang ideal tidak hanya menghitung aspek numerik (jumlah personnel, jumlah kendaraan tempur) namun juga secara kapabilitas. Berapa jumlah kendaraan tempur yang siap pakai? Apakah kendaraan tempur tersebut modern atau lama? Apakah kendaraan tempur tersebut memiliki munisi yang dapat digunakan bila perang pecah? Bagaimana kesiapan personnel dalam latihan, dan bagaimana kualitas dari latihan yang diberikan?

Sumber:
– Lighting Ii Chan FP

https://en.wikipedia.org/wiki/Need_for_achievement


Teori Motivasi Kebutuhan McClelland

http://kumpulan-teori-skripsi.blogspot.com/2011/09/teori-kebutuhan.html

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan