Mengenal Emitter Locating System, Sistem Pertahanan Penopang Radar

Emitter Locating System (ELS)adalah sistem ESM pasif yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan pesawat dengan mendeteksi sinyal-sinyal dalam frekuensi radio yang dipancarkan oleh pesawat tersebut. Sistem-sistem ini awalnya dikembangkan oleh negara Pakta Warsawa untuk memperkuat pertahanan udara mereka di Eropa, dengan menyediakan kemampuan deteksi dan pelacakan pasif sebagai alternatif bila militer US melakukan jamming berat ke segala macam radar pertahanan udara mereka.

Sistem-sistem ELS berfungsi dengan melacak emisi omnidireksi dari pesawat NATO seperti IFF, SSR, VOR/DME, Tacan, dan JTIDS/Link-16. Ada dua cara kerja utama dari sistem-sistem ELS untuk menemukan pesawat dari emisinya, yaitu DF (Direction Finding) dan DTOA (Time Difference Of Arrival) yang lebih rumit.

DF adalah metode konvensional yang sudah ada sejak lama, memanfaatkan dua stasiun atau lebih yang memakai beberapa pengukuran bearing untuk mem-fix posisi pemancar sasaran. DTOA memanfaatkan tiga atau empat stasiun receiver terpisah yang memiliki jam presisi tinggi yang di-sinkronisasi. Semua sinyal yang diterima, entah itu emisi IFF, jaringan atau paket datalink akan diidentifikasi, disortir, dan dicatat waktunya (timestamp), lalu dikirimkan ke pemroses pusat seperti sebuah van. Posisi geografis pemancar lawan yang menghasilkan perbedaan spesifik dalam waktu ketibaan ke sepasang receiver akan terpola dalam sebuah kurva hiperbolik bernama “iso-chrone”, inilah yang dimanfaatkan oleh metode DTOA.


Contoh-contoh ELS adalah seri ERA Vera, Tamara, dan Topaz Kolchuga. Ceko memimpin pengembangan sistem-sistem ini memakai teknik DTOA, sedangkan seri Kolchuga, Vega/Orion dan Avtobaza menggunakan teknik DF.

Baca Juga:  TNI Kerahkan Dua Kapal Perang Cari Korban Tabrakan Kapal Milik AS USS John S Mccain (DDG-56)

Ada beberapa informasi yang simpang siur mengenai kapabilitas sistem ELS. Beberapa di antara sistem-sistem ini diiklankan sebagai “radar anti-pesawat stealth” dan bisa mendeteksi pesawat stealth, namun hal ini tidak sepenuhnya benar.

Pertama, mengenai cara kerja ELS. Sistem-sistem ELS dibuat untuk mendeteksi dan melacak pemancar omnidireksional, dengan cara menangkap transmisi dari pesawat yang memancarkan sinyal memakai setidaknya tiga sistem antenna/receiver yang diletakkan dalam jarak tertentu satu dengan yang lain. Ini jelas berbeda dengan radar yang secara aktif mengirim sinyal ke pesawat dan menangkap kembali pantulan sinyal tersebut dari pesawat, sehingga ELS tidak dapat disebut “radar”.


Lalu, mengenai kemampuan deteksi ELS. Apakah berguna melawan pesawat stealth? Apakah ELS dapat digunakan untuk mendeteksi pancaran radar dari sebuah pesawat stealth?

ELS pasif tidak akan mampu melacak emisi dari radar X/Ku-band pesawat stealth karena radar-radar tersebut mengeluarkan pancaran low sidelobe yang masih terlalu sempit untuk ditangkap tiga sistem antenna/receiver yang berjarak puluhan mil sekaligus, sehingga geolokasi menggunakan DTOA tidak dapat dilakukan. Sedangkan agar ELS DTOA dapat bekerja, ketiga atau lebih antenna/receiver harus menangkap sinyal yang sama dari sasaran.

Satu-satunya skenario dimana ELS pasif dapat mendeteksi pesawat stealth adalah apabila pesawat stealth melakukan transmisi memakai omni antenna JTIDS/Link-16 di dalam ruang udara musuh, sedangkan jelas bahwa pesawat yang akan terbang ke dalam wilayah udara musuh akan melakukan EMCON (emission control) –meminimalkan pancaran apapun yang dapat dilacak balik sehingga posisi pesawat tidak akan ditemukan semudah itu.

Baca Juga:  TNI AU Gelar Kekuatan di Pangkalan Terdepan

Sama juga dengan sistem yang menggunakan DF konvensional. Kemungkinannya untuk menangkap pancaran AESA dengan low sidelobe yang frequency-agile juga sangat kecil. Mereka hanya bisa mendeteksi sebuah emitter apabila stasiun mereka sedang berada di dalam mainlobe (pancaran utama) radar AESA pesawat tempur lawan, dan memang benar-benar mengarah ke radar tersebut ketika sedang memancar.

Satu-satunya skenario dimana ELS DF dapat menemukan pesawat adalah bila tiga atau lebih stasiun DF diletakkan berdekatan ke tempat yang akan diserang pesawat lawan, dan semuanya mengarah ke threat axis dimana pesawat lawan diharapkan akan datang. Bahkan dengan begitu, ELS DF akan menghadapi masalah geometrical dilution of precision (GDOP), dimana akurasi jarak akan menurun jauh.

Sumber: LightningII/ausairpower.net

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan