Mengenal Pindad Cobra 8×8, Varian Infantry Fighting Vehicle (IFV) Pandur II

Seperti diketahui, sejak November 2016, Kemhan RI telah memesan empat panser Pandur II dari perusahaan Excalibur Army, Republik Ceko. Setahun kemudian, tepatnya pada September 2017, ke empat panser telah merapat keTanah Air. Pandur II tampil perdana di hadapan publik pada perayaan HUT TNI ke-72, 5 Oktober 2017.

Perusahaan Excalibur Army sendiri menyatakan, akan memberikan kemudahan produksi panser buatannya dengan memberikan transfer teknologi kepada Pindad. Pindad dapat meracik spek khusus yang disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan Yonif Mekanis TNI AD sebagai calon pengguna.

Panser Kobra yang akan dibuat Pindad merupakan versi ranpur infanteri (Infantry Fighting Vehicle/IFV) yang menggunakan basis Pandur II. Selain digunakan untuk angkut pasukan (empat awak plus tujuh personel pasukan), kendaraan ini juga sanggup bertempur melawan ranpur lawan lainnya baik jenis panser atau tank.

Meski demikian, Pindad belum menginformasikan jenis kubah senjata yang akan disandingkan dengan panser Kobra. Sementara, panser Pandur II CZ versi IFV yang dipasok Excalibur Army untuk militer Ceko, mengadopsi kubah RCWS 30 mm SAMSON MK I buatan Rafael, Israel dengan senjata sekunder SMS 7,62 mm.

Pandur II CZ yang akan akan menjadi basis panser Kobra, memiliki panjang 7,5 m, lebar 2,67 m, dan tinggi 2,1 m. Bobot tempurnya mencapai 17,6 ton dan dengan tambahan add-on armour bobotnya menjadi 22 ton. Ranpur ini mampu membawa muatan seberat 8,5 ton.

Baca Juga:  Panglima TNI Beli 6 Pesawat Viking Air CL415 untuk Antisipasi Kebakaran Hutan

Sebagai penggerak, digunakan mesin diesel Cummins EURO III berdaya 455 hp. Kendaraan dapat melaju di jalan datar keras dengan kecepatan mencapai 105 km/jam dan kecepatan berenang di air pada 10 km/jam. Sementara untuk jangkauan operasi, Pandur II CZ mampu menjelajah hingga 700 km.

Panser Pandur II CZ buatan Excalibur Army berbeda dengan versi aslinya yang dibuat oleh pabrik Steyr-Daimler-Puch Spezialfahrzeuge, Austria (kini General Dynamics European Land Systems / GDELS).

Bagian depan panser Pandur II CZ telah menerapkan perisai pemecah gelombang air/ombak. Lalu bagian palka pengemudi juga telah dipasangi sistem penglihatan malam CDND-1.

Panser Pandur II CZ mendapat proteksi tambahan berupa add-on passive armour buatan Rafael, Israel. Lapisan ini mampu menahan laju munisi SMB kaliber 14,5 mm. Lambung bawah Pandur II CZ juga dilapisi SSAB ARMOX 500 yang sanggup bertahan dari ranjau darat dan IED.


Khusus untuk di Indonesia, Pandur II 8×8 telah ditingkatkan kemampuan kapasitas amfibi di laut, penyesuaian tropical kit, seperti pemasangan AC, anti korosi, antu humiditas, karet-karet khusus tropis, dan perubahan air cooling menjadi water cooling.

Varian Pandur II 8×8 IFV yang di adopsi Indonesia, nampak menggunakan kanon RCWS Ares UT30MK2 kaliber 30 mm. UT30MK2 sudah mengusung fully integrated Battlefield Management System (BMS) desain kubah modular, sehingga UT30MK2 dapat dipasangkan beragam sistem senjata dan perangkat elektro optik tambahan.

Baca Juga:  LAPAN Kembangkan UAV LSU-03 Full Carbon

UTMK30MK2 merupakan produksi Ares Aeroespacial and Defense, manufaktur persenjataan dari Brasil. Kanon ini mengusung basis Orbital ATK Mk 44 Bushmaster ABM (Air Burst Munition) kaliber 30 mm sebagai senjata utama, sementara disisi laras 30 mm terdapat senapan mesin 7,62 coaxial.

Jika kocek Kemhan cukup, sudah tersedia modul untuk dipasangi ATGM (Anti-Tank Guided Missiles). Sebagai kanon RCWS modern, di sistem kubah sudah disematkan Laser Warning System (LWS) and optional Smoke Grenade Launcher System (SGL).

Excalibur Army sendiri mulai mendapatkan lisensi membangun Pandur II sejak 2015 dari GDELS. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, Excalibur Army diizinkan untuk mengekspornya ke kawasan Eropa Timur dan Asia.


Di Asia Tenggara, selain Indonesia, Filipina juga tertarik mengakuisisi Pandur II sebagai pengganti ranpur gaek M-113. Militer Indonesia sendiri adalah pengguna ke-4 keluarga panser Pandur setelah Austria, Portugis dan Ceko.

Sumber: FP TSM, indomiliter.com, angkasareview.com

1 Komentar

  1. Di filipin aja M 113 d bilang udah gaek…sedangkan d kita baru datang banyak sekali…memang bekas juga…tp jadilah untuk melengkapi alutsista pasukan Infantri kita…dr pd cuma pake mobil reo atau isuzu…

Tinggalkan Balasan