Menguak Aksi Kanibalisme Permesta Pada Prajurit TNI

TEROR “JIN KASUANG

Pasukan milisi permesta
Pasukan milisi permesta

Di kalangan pasukan Permesta, Batalyon R memang dikenal karena keberanian bertempur dan kengerian yang mereka timbulkan terhadap lawan. Salah satu teror menakutkan pasukan ini, mereka dikenal suka memakan manusia. Konon, saking seringnya memakan daging manusia hingga mata mereka terlihat memerah.

Di antara keraguan banyak pihak soal kebenaran cerita tersebut, tidak sedikit juga masyarakat yang menyimpan soal kanibalisme itu dalam memorinya. ”Saya pernah dapat tugas dan bersama Mayor Karepouwan. Memang dia bersama beberapa pasukan mengantung telinga manusia di leher. Banyak yang bilang itu anggota tubuh orang-orang yang mereka makan,,” kata Jus Pengemanan, tentara Permesta dari Batalyon B yang dikomandani Utu Pesik.

Pengakuan lain dituturkan salah seorang anggota pasukan Frans Karepouwan kepada Media Sulut, Sabtu (10/8). Kisah kanibalisme itu dibenarkannya.


”Memang tidak setiap hari tapi saya sering memasak daging manusia. kadang dibikin sate ataupun direbus,” terang LS alias Rens, anggota pasukan yang mengaku pernah ditempatkan di bagian dapur Batalyon R.

“Saya sebenarnya sempat mendaftar di Batalion Fredrik, tapi karena belum cukup umur, tidak diterima. Pada watu itu seleksinya ketat. ditambah kakak saya yang ada di Batalion itu tidk mengijinkan saya untuk ikut perang. Dia menyuruh saya untuk menjaga orang tua di kampung. Karena keinginan hati yang sangat kuat untuk pegang senjata, akhirnya saya ke Batalion pimpinan Mayor Karepouwan. Saat diterima, tempat saya di dapur,” tutur Rens.

“KENGERIAN “PERANG URAT SARAF”

Berbagai bentuk kengerian yang ditimbulkan Batalion Jin Kasuang bukan tanpa sebab. Perlakuan pasukan TNI terhadap daerah pendudukan dengan menyiksa tawanan sampai mati, melakukan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang memberi makan pasukan Permesta, dan perkosaan di desa-desa, menjadi salah satu alasan.

Sejumlah data menyebutkan, hal ini dilakukan pihak TNI karena semata-mata menutupi kekalahan mereka. Juga karena semakin banyaknya korban di pihak mereka dan perang tak kunjung dimenangkan oleh pasukan TNI atau pemerintah pusat, sekalipun TNI menguasai kota-kota strategis di Sulut dan Maluku Utara.

“Biasanya pasukan kami ’mengambil’ anggota TNI dengan pengkhianat Permesta,” kata Rens.

”Komandan sangat marah dengan pengkhianat. Makanya, sedikit-sedikit bagian tubuh mereka diambil. Mulai dari telinga, karena teliga sebagai pendengar info kemudian jari penunjuk. Kadang-kadang juga dimasak. Dari bagian tubuh yang berdaging seperti paha. Itu jadi pelajaran untuk mereka karena orang-orang seperti mereka penyusah masyarakat dan tentara permesta.”


Sejumlah sumber menyebutkan, sebenarnya tidak semua anggota Batalyon R yang suka memakan manusia.
“Cuma orang-orang terentu. Salah satu yang terkenal algojo mereka, Oce Karundeng. Dialah yang sering mengambil tentara pusat didepan orang-orang. Semua yang digaetnya tidak kembali lagi hingga pergolakan selesai. Saya bersama beberapa masyarakat Koya dengan Tataaran pernah melihat langsung bagaimana tentara pusat di ambil jantungnya hidup-hidup kemudian dimakannya,” terang Buang Politton (74), anggota pasukan Batalyon Fredrik.

Data menyebutkan, pasukan Batalyon Jin Kasuang kemudian dapat ditertibkan akhir 1960 setelah kunjungan Panglima KDP II/Minahasa, Kolonel (ADREV-Permesta) D J Somba ke markas mereka. Somba dengan tegas memperingatkan Karepouwan dan anak buahnya untuk menghentikan bentuk-bentuk perang urat saraf yang melampaui batas.

Pemakan Manusia di Berbagai Batalion

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan