Meriam Koksan Howitzer 170MM, Salah Senjata Menakutkan Milik Korea Utara

Senjata Korea Utara bukan cuma rudal Nuklir, namun negeri komunis itu juga memiliki potensi serangan senjata artileri yang memang dahsyat untuk melakukan gempuran massif dari jarak jauh di atas 50KM. Serangan artileri mortir macam ini susah ditangkal, berbeda dengan serangan peluru kendali.

Militer Korea Utara sendiri sadar bahwa kekuatan militer tidak melulu soal kemampuan missile, kavaleri darat juga harus mematikan. Makanya angkatan daratnya dipersenjata meriam-meriam berkaliber besar dan memiliki jangkauan yang jauh. Korut diketahui memiliki ribuan Meriam Howitzer yang dipasang diatas kendaraan ataupun yang ditarik kendaraan, totalnya diperkirakan mencapai 30.000 unit meriam.

Amerika Serikat (AS) tahu betapa menakutkan jika ribuan Howitzer-howitzer Korut melakukan serangan secara serentak. Dalam sekejap sebuah kota dengan luas 100KM bisa rata dengan tanah. Dan tak ada satu pun senjata yang bisa menangkal peluru mortar.

Makanya AS yang pernah berencana melakukan serangan pendadakan ke Korut pada 1994 (Op Plan 5027) mundur setelah menghitung ulang.
Meriam artileri utama Korea Utara adalah howitzer swagerak M1978 Koksan yang pertama kali dipamerkan pada parade besar tahun 1985. Nama Koksan sendiri mengacu pada nama sebuah kota di Korea Utara. Jumlah meriam jenis ini mencapai 12.000 unit yang semuanya dalam kondisi siaga mengarah ke korea selatan.

Berbeda dengan sistem howitzer swagerak buatan Barat dan Uni Soviet yang sudah menggunakan sistem kabin tertutup agar mampu digunakan dalam perang nuklir, Koksan terhitung primitif dengan mengawinkan antara meriam artileri 170mm dengan sasis tank beroda rantai, yang diperkirakan berasal dari jenis tank Type 59. Awak yang mengoperasikannya berdiri di luar, kurang lebih sama seperti sistem artileri berbasis truk. Meriamnya sendiri tidak jelas diambil dari mana, ada yang mengatakan dari meriam pertahanan pantai, ada pula yang bilang desainnya adalah meriam kapal perang.

Baca Juga:  Kacau Balau Sistem Radar Tebaru Amerika

Karena besarnya dudukan meriam, hanya pengemudi saja yang punya palka dan ruangan sendiri. Komandan, juru tembak, juru bidik, juru isi amunisi, semuanya berada di luar dan mengoperasikan meriam masif tersebut dari luar. Kurang-lebih ada lima atau enam awak yang menangani penembakan meriam Koksan. Karena hentakan yang sangat besar pada saat penembakan, maka sasis Koksan pun dilengkapi dua garu penstabil dudukan pada bagian belakang yang diturunkan untuk memancang sasis ke tanah, sehingga Koksan tidak bergeser ketika ditembakkan.
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti jarak efektif dari howitzer 170mm milik Koksan. AS memperkirakan jangkauannya sejauh 40km dengan amunisi biasa, atau 59km dengan amunisi berpendorong roket. Kecepatan tembaknya mencapai 4-8 proyektil per menit. Pada saat diendus Barat, Koksan menjadi sistem artileri operasional dengan jangkauan tembak terjauh yang ada di dunia saat itu. Korea Utara sendiri menggunakan doktrin penggelaran 36 unit meriam per baterai, dengan estimasi total ada sekitar 500 unit Koksan dalam kondisi siap tempur. jadi bisa dibayangkan betapa ngerinya kalau seluruh meriam menembak bersamaan.

Koksan sendiri memperoleh cap battle proven ketika Korut menjual meriam-meriam swagerak ini ke Iran dengan bayaran dolar AS secara tunai pada 1987 untuk membiayai program nuklirnya. Iran menggunakan Koksan untuk terus-menerus menghantam posisi pasukan Irak di semenanjung Al-Faw, termasuk membumihanguskan ladang-ladang minyak milik Kuwait di sisi Timur Laut.

Baca Juga:  Airbus Pamerkan Pesawat Intai C295 Bersenjata pada Dubai Airshow 2017

Korea Utara sendiri menyempurnakan Koksan menjadi model M1989 dengan menambahkan sistem penyimpanan amunisi sebanyak 12 proyektil di dalam kendaraan. Untuk mempersiapkan serangan ke Korsel, Korut menempatkan Koksan di sebelah Barat dan Tengah DMZ alias Zona Demiliterisasi. Meriam-meriam ini ditempatkan dalam shelter yang diperkeras dan mampu menahan pemboman dari pesawat tempur ataupun duel artileri dengan lawan.


(Aryo Nugroho/UC News)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan