MiG Masih Pede Ikut Tawarkan Program Pesawat Tempur untuk AL India

Kalau ada pabrik pesawat tempur yang bisa tebal muka, ya Mikoyan Guryevich namanya. Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan India, CAG, menemukan bahwa MiG-29K yang dibeli pada 1999, dimiliki oleh AL India, dan dioperasikan dari kapal induk INS Vikramaditya sebenarnya tidak sesuai dengan janji pabrikan dan banyak ditemukan kejanggalan dalam proses penggunaannya.

Temuan CAG menyebutkan bahwa 40 suku cadang mesin yang dijadikan bagian paket pembelian sudah diretur karena adanya cacat pada desain sebagai hasil kualitas pekerjaan dan kontrol yang buruk. Kesiapan MiG-29K juga hanya 21,30 sampai dengan 47,14 persen, sangat rendah karena seringnya MiG-29 rusak dan kurangnya dukungan dari pabrikan.

Pilot-pilot AL India mengeluhkan pula kalau MiG-29K susah dikendalikan khususnya saat pendaratan, dimana MiG-29K terasa seperti batu yang jatuh dan mendarat di dek seperti pendaratan darurat yang keras, jet tempur inipun juga butuh perawatan yang ekstra akibat struktur yang sering rusak karena pendaratan keras tersebut.

Dengan latar belakang tersebut, AL India merilis RFI (Request For Information) untuk mencari jet tempur maritim baru. Berbagai pabrikan mulai dari Dassault, Boeing, SAAB, dan Lockheed Martin bergabung, yang artinya Rafale, F/A-18 Super Hornet, Sea Gripen, dan F-35C akan bertarung memperebutkan pesanan sebanyak 57 unit jet tempur.

Menghadapi pesaing-pesaingnya tersebut, Direktur Utama Mikoyan Guryevich Ilya Tarasenko justru dengan percaya diri mengatakan bahwa MiG telah bekerjasama dengan Angkatan Bersenjata India untuk urusan pesawat tempur, walaupun pada kenyataannya awak di lapangan menggerutu dengan kualitas pesawat tempur Rusia.

Baca Juga:  10 Calon Awak Kapal Bima Suci Tiba Di Spanyol

MiG akan tetap ikut serta dengan MiG-29K, yang mungkin akan disempurnakan. Ilya Tarasenko mengklaim bahwa MiG-29K superior dari pesaing-pesaingnya, dan juga mampu mengalahkan F/A-18 dalam berbagai skenario. Bukti operasional MiG-29K di Suriah pun dijadikan klaim keberhasilan, padahal 1 pesawat MiG-29K jatuh saat berusaha mendarat di kapal induk Admiral Kusnetzov pada November 2016.

Padahal di sisi lain, India juga komplain terhadap Rusia karena negara tersebut cenderung tertutup dan banyak janji. Dalam kunjungannya ke Rusia di bulan Juni 2017, Menteri Pertahanan India saat itu Arun Jaitley menagih Rusia mengenai janji transfer teknologi dan dukungan atas alutsista Rusia yang dibeli oleh India.

Sumber : c.uctalks.ucweb.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan