Misionaris Gereja Advent Dibunuh OPM Saat Membersihkan Bandara

Gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus menebar teror kepada warga sipil. Mereka tak segan membunuh orang sipil non papua dengan kejam tanpa alasan yang jelas.

Kali ini korbannya adalah Berny Fellery Kunu, seorang missionaris gereja yang bertugas menjadi pelayan kesehatan dari Lembaga Pelayanan Kristen Advent. Pria berusia 24 tahun asal Minahasa, Sulawesi Utara ini diduga dibunuh OPM saat berada di Kampung Yabasorom, Distrik pamek, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Berny dan dua rekannya awalnya sedang membersihkan landasan pesawat di dekat camp kesehatannya. Landasan itu dibersihkan agar bisa didarati pesawat, sebab Berny akan segera pulang ke kampung halamannya di Pineleng, Mihanasa.

Saat itu, Berny dan dua temannya itu didatangi sekelompok pria bersenjata. Mereka lalu dibawa menjauhi lokasi dan dinterogasi.

Namun, pada keesokan harinya, Jumat, 30 Maret 2018, Berny sudah ditemukan tak bernyawa dengan kondisi tubuh penuh luka bacokan benda tajam.

Sementara dua teman Berny, yakni Mervel Liogu dan Helena Habel berhasil menyelamatkan diri.


Dari informasi lain yang berhasil dirangkum, kejadian berawal pada hari kamis, 29 Maret 2018 sekitar pukul 09.00 Wit, sekitar 23 orang KKB, 19 orang laki-laki dan 4 orang perempuan yang masing-masing memegang benda tajam berupa parang dan busur serta panah mendatangi Kampung Yabansorom Distrik Pamek.

Baca Juga:  Foto Pertama Prototipe Next Generation Tilt-Rotor Bell V-280 Valor

Mereka mendatangi dua rekan korban yakni Mervel Liogu (25) dan Helena Habel (25) dan menanyakan apa tujuan mereka ke Distrik Pamek dan apakah diantara mereka ada yang bekerja sebagai Intel Indonesia.

Salah seorang dari mereka yang diduga merupakan pimpinannya mengatakan kepada kedua rekan korban bahwa “dirinya bertugas sebagai OPM dan sudah di jalani selama 25 Tahun” kemudian KKB tersebut menggeledah camp tempat mereka bermalam.

Kedua orang rekan korban disekap dalam camp mereka dengan dijaga ketat oleh 10 orang KKB, sementara 13 orang KKB lainnya mengejar korban yang hendak pergi ke Sungai yang berjarak kurang lebih 50 meter dari kediaman korban.

Kedua orang rekan korban tersebut mengaku tidak tahu apa yang terjadi terhadap korban karena tempat tinggal mereka tidak jauh dari sungai dan arus yang deras membuat mereka tidak bisa mendengar apa-apa. Kedua rekan korban saat itu merasa ketakutan sehingga tidak berani keluar dari rumah tinggal.

Pada keesokan harinya, Jumat 30 Maret 2018, kedua rekan korban dibantu masyarakat mencari korban di sekitar sungai dan menemukan sebuah gundukan tanah mirip kuburan tidak jauh dari sungai. Pada saat digali ditemukan korban sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Peiter Kunu, ayah korban mengaku hanya bisa pasrah dan memandang kejadian yang menimpa anaknya sebagai rancangan dari Tuhan, namun sebagai warga negara, hal ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh pemerintah.

Baca Juga:  Panglima TNI : Prajurit Harus Jaga Kepercayaan Rakyat

“Kita tidak menginginkan ada korban berikutnya, karena apa yang terjadi ini sungguh tidak manusiawi, sedangkan anak kami Berny senang melakukan misi kemanusiaan di Papua,” ujar Pieter, dirumah duka, Sabtu (31/3/2108).

“Kita mendesak pemerintah untuk melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Kita tidak menginginkan ada lagi korban berikutnya. Dan apa yang terjadi ini merupakan sesuatu yang tidak manusiawi. Sedangkan anak kami, Berny sedang memperjuangkan misi kemanusiaan di Papua, Kami sangat berharap pemerintah mengungkap secara nyata peristiwa di balik peristiwa ini,” kata Piter Kunu, ayah korban, Sabtu, 31 Maret 2018.

Jenazah Berny saat ini sudah tiba di kampung halamannya, dan rencananya akan dimakamkan di pemakaman Desa Pineleng Dua, Minahasa. (viva.co.id)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan