Modifikasi CN235 Turki Jadi Pesawat Pemburu Kapal Selam

Pesawat turboprop multiguna legendaris produksi kerjasama Indonesia- Spanyol, CN235, kembali mengejutkan publik saat dimodifikasi jadi pesawat pemburu kapal selam oleh  Turki. Turki sendiri mengoperasikan 59 pesawat CN235 dan 9 diantaranya dimodifikasj jadi CN-235 Meltem II, pemburu kapal selam yang canggih.

Proyek Meltem II sendiri tergolong ambisius dan belum pernah dijalankan sebelumnya: Mengubah CN-235 menjadi punya kemampuan anti kapal selam dan anti kapal permukaan sekaligus. Kemampuanya melebihi CN235 Anti Kapal Selam milik TNI. Meltem II dilengkapi senjata rudal yang siap membak sasaran. Sedangkan milik TNI hanya sebatas mengidentifikasi.

Kontrak senilai 400 juta Euro (US$491 juta) dikucurkan untuk mengubah sembilan pesawat CN-235 dari versi angkut militer menjadi pesawat yang bisa beroperasi, mendeteksi, dan menghancurkan kapal selam maupun kapal permukaan.

Konfigurasinya dibagi menjadi enam pesawat patroli maritim dengan kemampuan membawa rudal untuk AL Turki dan tiga untuk pengamatan Penjaga Pantai Turki. Proyek ambisius ini ditangani oleh Thales Airborne Systems Perancis, yang menggandeng TAI (Turkish Aircraft Industries), Havelsan, Aselsan, Marinex, dan Milsoft.


Pihak pemerintah Turki memilih langkah ini daripada beli pesawat yg sudah jadi. Adalah bagian dari ambisi besar Turki untuk mandiri dan mengintegrasikan berbagai perangkat misi ke dalam CN-235, termasuk subsistem buatan dalam negeri sendiri.

Jalanya proyek ini sendiri tak ringan. Banyak kritisi yang menyatakan bahwa CN-235-100 yang akan dijadikan obyek  platform sebenarnya tidak layak dan hampir di luar batas kemampuannya sendiri. Saat tes pun terjadi Kecelakaan beruntun dan fatal sehingga banyak yang berkeyakinan bahwa CN235 gak bisa dimodifikasi macam ini.

Para kontraktor proyek juga pusing dan hampir mentok bahwa ternyata integrasinya bermasalah, dan bahkan molor hingga dua tahun lebih. Pada akhirnya, sembilan pesawat tersebut butuh waktu sampai 12 tahun untuk selesai dimodifikasi dan siap terbang.

Baca Juga:  Amerika Punya CHAMPs, Senjata yang Bisa Kendalikan Rudal

CN-235-100 Meltem II mengalami beberapa perubahan fisik dibandingkan dengan versi biasa. Yang paling kentara adalah pemasangan kaca gelembung di jendela belakang, yang merupakan stasiun untuk observer yang dapat mengamati permukaan laut dengan menggunakan teropong. Sisi bawah pesawat juga dimodifikasi untuk pemasangan FLIR tepat di bawah kokpit. Di dahi pesawat disiapkan antena ESM (Electronic Surveillance Measure), sementara di dekat sponson roda disiapkan fairing untuk radar pencari permukaan. Di belakang sponson juga disiapkan lubang-lubang untuk menjatuhkan sonobuoy. Di kiri-kanan belakang bodi pesawat dipasang lagi antena ESM untuk memastikan cakupan 360 derajat dalam mendeteksi emisi radar lawan, memberikan kemampuan AEW&C (Airborne Early Warning & Control) sekunder bagi CN-235 Meltem II untuk mendeteksi dan mengarahkan pesawat tempur kawan ke vektor yang diduga adalah posisi musuh.

Thales sendiri membenamkan AMASCOS 200 mission system sebagai pengendali dari sejumlah sistem sensor yang terpasang pada CN-235 Meltem II. Varian Turki ini menggunakan subsistem lengkap sebanyak 4 konsol, hanya kurang satu konsol dari konfigurasi maksimal sistem AMASCOS. Untuk pengamatan di lautan yang luas, CN-235 Meltem II dilengkapi dengan sensor elektro optik ASELFLIR-200 Thermal Imaging System. ASELFLIR-200 menggabungkan antara kamera siang, Forward Looking Infra Red untuk penginderaan dalam cuaca buruk, dan laser rangefinder untuk pengukuran jarak ke permukaan. Sistem ini dapat berputar 360 derajat dan di-zoom untuk mengamati objek berukuran kecil di permukaan.

Sistem avionik yang ditanamkan sebagai bagian dari Meltem II mencakup sistem Northrop Grumman LN100GT Inertial Navigation Unit/ GPS navigation systems. Seluruh panel manual di kokpit juga diganti dengan Thales TMS 2000 Multi Function Display (MFD) yang memudahkan pilot untuk mencari informasi yang dibutuhkan. CN-235 Meltem II pun sudah dipasangi sistem Datalink Link-16 dan Link-11 Data Link Processor untuk terhubung di dalam jaringan baik antar pesawat dengan pesawat (Link-16) maupun pesawat dengan pesawat AWACS AU Turki dan kapal perang milik AL Turki (Link-11).
Sistem proteksi pada CN-235 Meltem II disediakan melalui sistem Aselsan ASES-235M Electronic Warfare Self Protection Electronic Suits yang menyediakan kapabilitas anti jamming dan deteksi terhadap ancaman rudal berpemandu radar maupun pencari panas, serta terhubung otomatis dengan sistem pelontar chaff atau flare untuk menghindarkan diri dari rudal. Perangkat deteksi permukaan disandarkan pada sistem Thales Oceanmaster radar dengan kemampuan sapuan sampai 200 mil laut. Untuk berburu kapal selam, CN-235 Meltem II dapat menjatuhkan sonobuoy untuk mendengarkan sinyal akustik di bawah air. Perangkat MAD (Magnetic Anomaly Detector) dipasang pada ‘sengat’ yang terpasang di ekor yaitu AN/ASQ-508 Magnetic Anomaly Detector. Apabila terdeteksi adanya kapal selam lawan, penindakan dapat dilakukan dengan penggunaan torpedo Mk46 atau Mk54 yang dapat dipasang pada pylon di bawah sayap. Alternatifnya bila tidak menggunakan torpedo adalah dengan menjatuhkan depth charge.

Baca Juga:  Pesawat Gripen-E Mampu Tembakkan Rudal Meteor, Siap Bertarung Jarak Jauh

Untuk keselamatan awak dari CN-235 Meltem II, Marinex menyediakan perangkat parasut dan survival untuk seluruh kru, perahu karet, sistem pembuangan bahan bakar, pemadam api otomatis, dan tandu. Sistem pelontar perahu karet yang dikemas dalam bentuk silinder melalui pintu rampa belakang juga disiapkan. Untuk operasi SAR terhadap pilot yang jatuh di laut, CN-235 Meltem II juga dilengkapi dengan PRC-434 pilot search and rescue manual radio. Untuk operasi jarak jauh berdurasi panjang Marinex juga menyediakan sistem OBOGS (On Board Oxygen Geerating System) sehingga awaknya tidak mudah lelah.

Sebagai gambaran, CN-235 Meltem II milik AL Turki/ Coast Guard Turki ini jauh lebih lengkap dan lebih sempurna dibandingkan dengan CN-235 MPA yang digunakan oleh TNI AL. (sumber: majalah Angkasa)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan