Modifikasi Meriam S-60 Dengan Radar SRR Oleh Arhanud YNI AD

Meriam buatan Rusia ini terpelihara dengan baik, sparepart diproduksi sendiri untuk proses pemeliharaan sehingga seluruh meriam masih berfungsi dengan baik. Ini sebagai pembanding bahwa Alutsista lama seperti Meriam 57 mm S 60/T. AKT (Tanpa Alat Kendali Tembak) juga harus tetap dioperasionalkan untuk memperkuat gelar pertahanan udara/Hanud. 

Dengan keterbatasan anggaran, proses peremajaan Alutsista untuk memenuhi seluruh satuan Arhanud diperkirakan akan memakan waktu yang lama, sementara ancaman udara bisa datang kapan saja.

Salah satu yang membuat fungsi Meriam 57 mm S-60 T. AKT menurun adalah tidak dilengkapi dengan sistem kendali tembak. Alat kendali tembak Puazo dan radar Son 9 sudah menjadi ‘besi tua’ sejak tahun 1980 an. Tanpa peralatan tersebut, Meriam ini seperti mati suri karena dengan kecanggihan pesawat saat ini operator meriam bisa tidak berkutik jika mengandalkan melihat sasaran secara visual.

Operator akan kesulitan melakukan proses penjejakan sampai dengan penembakan sasaran. Alat kendali tembak pada Alutsista Hanud mempunyai peran yang sangat vital.

Tanpa alat itu, waktu reaksi operator Meriam saat ada sasaran udara jadi singkat, tidak bisa menembak seawal mungkin dan prosentase perkenaan menjadi rendah. 

Dari data material, di 4 Detasemen Arhanud terdapat Alutsista Rudal Rapier yang sudah tidak operasional dan tidak ada rencana untuk relifing. Ada peralatan yang dicomot  dan didesain oleh tehnisi menjadi alat kendali tembak Meriam 57 mm S 60 T.  yaitu Surveilance Radar Rapier (SRR).

 Jumlah SRR yang dimiliki TNI AD kurang lebih sekitar 50 unit, jika 1 Baterai dilengkapi dengan 3 unit SRR maka dapat mengefektifkan penggelaran Sista Meriam 57 mm S 60  untuk 16 Baterai.

Dalam Hanud, perlu digelar senjata yang beragam (komposit) untuk saling menutupi kelemahan satu dengan yang lain dari senjata yang digelar, salah satunya Alutsista Rudal digelar bersama dengan meriam. Sistem kendali panas (fire and forget) dan kendali laser (laser guide) merupakan keunggulan beberapa Sista Rudal, termasuk pada sistem Rudal Mistral dan Starstreak. 

Namun demikian, dalam menangkis serangan udara Sista meriam masih tetap diperlukan karena ada batas kemampuan Sista Rudal. Sista Rudal sulit digunakan untuk sasaran jarak dekat karena sistem kendalinya baru efektif setelah mencapai jarak tertentu (+1000 – 2000 m, proses aktivasi sistem). 

Untuk menutupi kelemahan ini diperlukan komposit Sistem Meriam karena taburan proyektil meriam dapat menghancurkan serangan udara jarak dekat yang datang. Hal ini mendasari pemikiran untuk mengoptimalkan fungsi Meriam 57 mm 60/T. 

Baca Juga:  AS Kerahkan Drone Pengintai Gray Eagle ke Filipina

AKT karena secara umum meriam masih berfungsi dengan baik, dari sejumlah 188 pucuk terdapat 125 pucuk dengan kondisi baik, 54 pucuk kondisi rusak ringan dan 9 pucuk kondisi rusak berat, tergelar di satuan Yon Arhanudse

Dengan kondisi Sista Arhanud yang tersedia saat ini,maka menggabungkan sebagian peralatan dari suatu sistem dengan bagian peralatan dari sistem lain dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan dana. Modifikasi Surveilance Radar Rapier (SRR), TDR/RLD[9]dan Sista 57 mm S-60T.

AKT dengan beberapa alat tambahan memungkinkan untuk dilaksanakan. Modifikasi merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan efektivitas Sista Meriam 57 mm S-60 T. AKT dan memperpanjang usia pakai.

Dengan sistem ini, diharapkan operator akan lebih mudah dalam proses penembakan sasaran, mempunyai waktu reaksi yang cukup, bisa lebih awal menembak sasaran serta menambah prosentase perkenaan terhadapmsasaran.

Sistem dibangun dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia dan menggabungkannya menjadi sebuah sistem baru. Peralatan yang dibutuhkan adalah: SurveilanceRadar Rapier(SRR),

lllMeriam 57 mm S60 T.AKT, TDR/RLD, Interface (alat tambahan pada Surveilance Radar),

Synchro(alat tambahan pada Meriam 57 mm S 60 T. AKT) dan Headset (untuk Danpu dan Awak Azimuth).

Fungsi dari tiap-tiap peralatan adalah :

SurveilanceRadar Rapier(SRR) berfungsi untukmencari dan menemukan sasaran  dengan jangkauan sampai dengan radius 12 Km.

Meriam 57 mm S-60 T. AKT berfungsi untuknmenembak dan menghancurkan sasaran yang telah tracking /dijejaki.

TDR/RLD berfungsi sebagai alat untuk memproses data sasaran, menunjukkan arah sasaran serta mengontrol waktu penembakan.

Interface berfungsi untuk mensinkronkan data output dari radar agar bisa dibaca oleh peralatan TDR/RLD. Synchro berfungsi sebagai alat elektro mekanik untuk mengetahui arah meriam.

Headset berfungsi untuk mendengarkan bunyi alarm dan tone bahwa arah laras meriam sudah tepat pada sasaran. Alat peralatan disusun sesuai konfigurasi agar berfungsi optimal saat gelar Hanud.

Konfigurasi yang dibutuhkan dalam 1 satuan tembak terdiri dari :1 (Satu) Surveilance Radar Rapier, 4 (Empat) Meriam 57 mm S-60 T. AKT, 4 (Empat) TDR/RLD, 1 (Satu) interface, 4 (Empat) Synchrodan 8 (Delapan) headset.

Prinsip kerja alat kendali tembak saat proses penembakan sasaran udara dijelaskan sebagai berikut :

Surveilance Radar Rapier (SRR) mencari dan mendeteksi sasaran sampai dengan radius ± 12 Km, data sasaran berupa Azimut dan Elevasi disinkronkan oleh interface(agar output data dari SRR dapat dibaca oleh TDR/RLD), selanjutnya data sasaran yang sudah disinkrokan dan dispesifikasi teknis dikirim ke TDR/RLD.

Baca Juga:  Yon Arhanudri 2 Kostrad Pengguna Pertama Rudal Mistral

TDR/RLD menerima data sasaran dari SRR berupa posisi sasaran (koordinat), speed dan distance (terhadap Radar).

Data tersebut secara serentak dihitung dan dikonversi oleh komputer dengan data posisi meriam untuk mendapatkan data dan petunjuk tentang sasaran dalam azimut. Data posisi meriam diterima oleh TDR/RLD dari Synchro yang berada di meriam didasarkan pada perputaran azimut meriam.

 Data hasil perhitungan dan konversitersebut kemudian ditampilkan melalui displayyang terdapat pada panel bagian depan TDR/RLD berupa bearing, distance, first time and last time, Threatno, Des, Altitude, Cross distance, Course, Speed danHold fire kemudian menyebabkan bunyi alarm pada TDR/RLD, headset Komandan pucuk serta oleh awak azimut meriam.

Setelah Komandan pucuk mendengar alarm, selanjutnyamemerintahkan awak azimut untuk mencari sasaran dengan mengarahkan meriam sesuai data suara pada headset. 

Bunyi tone dengan suara rendah mengartikan bahwa arah laras meriam terlalu ke kiri dari posisi sasaran, suara tinggi berarti arah laras meriam terlalu ke kanan dari posisi sasaran. Sedangkan suara spesifik (ting tone)menunjukan bahwa arah laras Meriam sudah tepat pada posisi sasaran. 

Setelah awak azimut menemukan arah sasaran dengan tingtone tersebut, awak elevasi menggerakkan elevasi meriam untuk mmenemukan sasaran secara visual melalui kolimator alat bidiknya.


Segera setelah secara visual sasaran dapat dilihat oleh awak azimut dan elevasi, kedua awak tersebut kemudian menjejakinya sampai dengan ada perintah tembak dari Komandan Pucuk.

Komandan Pucuk menentukan saat menembak medengan melihat display TDR/TDR bila lampu tanda first time menyala yang berarti berdasarkan perhitungan TDR/RLD bahwa bila peluru ditembakkan saat itu maka akan bertemu sasaran di posisi telak tepat yaitu pada jarak 6000 m.


Data sasaran dari radar terus diperbaharui demikian juga dengan data posisi arah meriam sehingga dalam perhitungan TDR/RLD saat dimana peluru meriam dan sasaran sudah tidak dapat bertemu lagi maka lampu last time pada display akan menyala, sehingga Komandan Pucuk bisa memerintahkan untuk menghentikan tembakan.

Dengan modifikasi tersebut, maka satuan Arhanud saat ini masih bisa untuk di handalkan menangkis serangan udara bersama alutsista Arhanud lainya.(pusdikarhanud)

Advertisements

1 Komentar

Tinggalkan Balasan