Nekad, Iran Buka Terminal Ekspor Minyak Tanpa Peduli Sanksi Amerika

Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan bahwa Iran telah membuka terminal minyak pertamanya di Teluk Oman, melewati Selat Hormuz yang strategis. Teheran juga mengancam akan menutup rute perdagangan di kawasan itu jika Pihak Barat mencoba mengancam keberadaan terminal minyak itu. Selat Hormuz adalah pintu masuk ke Teluk Arab yang merupakan pusat penting dari terminal ekspor minyak dan gas milik Arab Saudi, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab.

“Ini adalah langkah strategis dan langkah penting bagi Iran. Ini akan mengamankan kelanjutan ekspor minyak kita,” kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi.

Terminal baru ini terletak di dekat pelabuhan Jask di Teluk Oman, tepat di sebelah selatan Selat Hormuz.

Ini akan memungkinkan kapal yang menuju ke Laut Arab dan sekitarnya untuk menghindari rute yang sempit. Terminal ekspor minyak utama Iran terletak di pelabuhan Kharg di dalam Selat Hormuz, jalur air kurang dari 40 kilometer di titik tersempitnya.

“Hari ini, pengiriman pertama 100 ton minyak dimuat di luar Selat Hormuz. Ini menunjukkan kegagalan sanksi ekonomi AS pada kami,” katanya.

Rouhani mengatakan Iran bertujuan untuk mengekspor satu juta barel per hari (bph) minyak dari fasilitas baru. Ia juga telah membangun pipa sepanjang 1.000 km untuk membawa minyak mentahnya ke terminal baru di tenggara dari Goreh di provinsi Bushehr ke Selat Hormuz.

Baca Juga:  Don Kirlin, Pengusaha AS ini Membeli 46 Pesawat F/A-18 Hornet Bekas AU Australia

Selat Hormuz adalah saluran sempit di mulut teluk yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia dari produsen Timur Tengah ke pasar di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan sekitarnya. Jika Iran meletupkan perang di perairan ini, separuh dunia akan lumpuh kekurangan minyak.

Ada konfrontasi berkala antara Korps Pengawal Revolusi Islam elit Iran dan militer AS di daerah itu.

Iran dan musuh bebuyutannya, Israel, telah berulang kali bertukar tuduhan mengenai serangan terhadap kapal satu sama lain di wilayah perairan yang sensitif.

Kapal milik Israel diserang di Teluk Oman pada bulan Februari dan April, dengan Israel menyalahkan Iran atas ledakan tersebut.

Kapal angkatan laut terbesar Iran juga tenggelam pada awal Juni setelah terbakar di Teluk Oman. Para pejabat belum mengatakan apakah tenggelamnya Kharg adalah tindakan sabotase atau kecelakaan.

Sementara itu, Amerika Serikat sedang mempertimbangkan sanksi baru atas penjualan minyak Iran ke China sebagai cara untuk menekan Teheran agar berkomitmen pada kesepakatan nuklir. Sebagai pemilik cadangan minyak terbesar kedua dunia, Iran bisa dengan mudah menjual minyaknya ke negara-negara Industri yang bukan sekutu AS dan NATO seperti China, Korea Utara, Venezuela dll.

Negosiator AS terus bekerja dengan mitra Eropa dan internasional di Wina, Austria dalam upaya untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA)terutama menekan para pembeli minyak Iran.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan