Northrop Grumman Ingin Ikut Berperan dalam Program Pesawat Tempur Siluman Jepang

Senin, 09-07-2018
TSM-Northrop Grumman Corp mengincar proyek jet tempur Jepang yang dapat bersaing dengan Lockheed Martin Corp, kata tiga narasumber, setelah hampir tiga dekade Northrop kalah dalam kompetisi serupa untuk mengembangkan jet stealth canggih untuk Angkatan Udara AS (kompetisi Advanced Tactical Fighter – ATF).

“Northrop berminat,” kata salah satu narasumber, yang memiliki pengetahuan langsung tentang rencana tersebut. Northrop telah menanggapi permintaan informasi (requests for information – RFI) dari Jepang dan telah mengadakan pembicaraan awal dengan para pejabat industri pertahanan Jepang, katanya.

Northrop Grumman telah menyiapkan untuk Jepang, menu teknologi yang dapat berkontribusi pada proyek pesawat tempur next generation F-3, tetapi belum membuat proposal khusus ke Jepang, kata narasumber tersebut.

Para narasumber menolak untuk diidentifikasi karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Tawaran perusahaan Northrop Grumman tersebut akan bersaing dengan proposal Lockheed Martin yang mencakup desain stealth hibrida berdasarkan pada F-35 Lightning II dan F-22 Raptor. F-22 mengalahkan pesawat demonstrator YF-23 Black Widow Northrop untuk memenangkan kontrak Advanced Tactical Fighter AS yang sangat menguntungkan pada tahun 1991.

F-22 dilarang untuk diekspor dan hanya digunakan oleh Angkatan Udara AS. Namun Jepang telah memesan 42 F-35 untuk mengganti pesawat tempur tuanya yang desainnya berasal dari tahun 1970-an. Mereka juga berencana untuk
menambah pesanan itu, termasuk pembelian versi vertical take off and landing (VTOL) yang cocok untuk operasi kapal induk.

Baca Juga:  Duterte Beli Senjata Dari China

Pihak Northrop Grumman tidak segera berkomentar.

Baik Northrop Grumman dan Lockheed Martin akan membutuhkan persetujuan pemerintah AS untuk menawarkan teknologi pesawat sensitif ke Jepang.

Tokyo juga mencari penawaran dari Boeing Co, yang membuat F/A-18E/F Super Hornet, dan telah memberitahu perusahaan pertahanan Eropa tentang kemungkinan kerjasama, termasuk dengan BAE Systems PLC, yang merupakan anggota terkemuka dari konsorsium yang membangun pesawat tempur Typhoon Eropa.

Perusahaan Inggris tersebut juga telah menyediakan Kementerian Pertahanan Jepang dengan daftar teknologi yang dapat berkontribusi pada proyek pesawat tempur stealth Jepang, kata sumber industri pertahanan keempat.

Dengan membawa mitra asing, akan memungkinkan Jepang untuk membagi beban biaya pengembangan, yang diperkirakan sekitar $40 miliar, dan memberikannya akses ke teknologi yang seharusnya dikembangkan dari nol.

Tokyo, bagaimanapun juga, ingin memastikan perusahaan Jepang dapat menyediakan avionik dan perangkat keras penerbangan untuk F-3, yang meliputi sistem komunikasi dan navigasi, radar, dan mesin yang sedang dikembangkan oleh IHI Corp.

Pemerintah Jepang sejauh ini telah mengeluarkan tiga RFI untuk pesawat F-3 dan mengirim surat kepada pemerintah Inggris dan Amerika Serikat yang menguraikan penawarannya secara lebih rinci, narasumber mengatakan kepada Reuters.

Setiap perusahaan asing yang dipilih untuk proyek F-3 akan bekerja dengan kontraktor pertahanan Jepang Mitsubishi Heavy Industries Ltd.


Mitsubihi adalah pembuat pesawat tempur Zero A6M, yang bertarung melawan Grumman Hellcat dan Wildcat di Pasifik dalam Perang Dunia II, dan terakhir mengembangkan jet tempur dua dekade lalu. Pesawat tersebut, F-2, adalah merupakan hasil kerjasama dengan Lockheed Martin.

Baca Juga:  Kanada Beli 18 Pesawat F-18 Bekas Australia

Mitsubishi Heavy juga merakit F-35 Jepang, sebuah program di mana Northrop Grumman memberikan kontribusi komponen seperti kulit sayap. Pesawat militer lainnya dari perusahaan AS mencakup pesawat peringatan dini E-2 Hawkeye dan wahana udara tanpa awak (UAV) Global Hawk, yang keduanya telah dibeli oleh Jepang.

Northrop Grumman membangun pembom stealth B-2 Spirit dan mengembangkan pembom stealth B-21 baru untuk Angkatan Udara AS. Pesawat tempur terakhirnya adalah F-14 Tomcat, yang pensiun pada 2006 dari Angkatan Laut AS tetapi masih dioperasikan oleh Angkatan Udara Iran.

Untuk saat ini, masih belum jelas kapan Jepang akan memulai pengembangan F-3, karena pejabat Jepang mengubah prioritas pengeluaran dan perencana militer tengah mempertimbangkan desain. Pejabat pertahanan Jepang ingin memperkenalkan pesawat tempur pada pertengahan 2030-an untuk mencegah intrusi ruang udara oleh Tiongkok dan Rusia.


Dengan banyaknya insinyur yang merancang F-2 mencapai usia pensiun, Jepang, menurut narasumber kelima yang mengetahui kemampuan industri pertahanan Jepang, akan perlu menjalankan proyek tersebut dalam dua tahun ke depan untuk memastikan mereka masih memiliki keterampilan untuk membangun armada jet stealth canggih

Sumber : reuters.com dan TSM by Angga Saja

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan