Northrop YB-35, Proyek Pesawat Pengebom Intercontinental Amerika di Perang Dunia II

Dua negara anggota Axis di era WWII berusaha mengembangkan pengebom strategis jarak jauh yang ditujukan untuk menjangkau mainland US dari daratan mereka sendiri. Jerman memulai proyek Amerika Bomber dengan beberapa desain yang diajukan seperti Me 264, Ju 390, Fw 300, Arado E.555, dan H.XVIII. Jepang memulai Project Z dengan desain Nakajima G10N Fugaku yang telah disiapkan fasilitas desain serta manufakturnya. Lalu apakah US pernah menjalankan proyek serupa di era tersebut?

Jawabannya ya, Northrop Corporation mengembangkan flying wing bomber Northrop YB-35 mulai tahun 1941. Pada bulan April 1941, USAAF mengeluarkan request for proposal (RFP) untuk bomber yang mampu membawa muatan 10,000 pon sejauh 5,000 mil, memiliki service ceiling 45,000 kaki, cruising speed 275 mph dengan kecepatan maksimum 450 mph, dan jarak maksimum 12,000 mil di ketinggian 25,000 kaki. RFP ini diberikan ke Consolidated Aircraft Corporation dan Boeing, namun kemudian juga diberikan kepada Northrop Corporation. Northrop merespon RFP ini di bulan Mei 1941 dengan memulai studi untuk desain sebuah bomber flying wing yang harus dapat mencapai jarak 10,000 mil, combat speed antara 240-450 mph, serta dilengkapi dengan sistem defensif berupa armor dan persenjataan minimum berupa 6 kanon 37mm dan 8 senapan mesin berat 12.7mm.

Salah satu alasan dibalik munculnya RFP ini adalah kekhawatiran bahwa Inggris akan jatuh ke tangan Jerman. Pada tahun 1940, RAF bertempur mempertahankan udara Inggris dari serangan-serangan Jerman dalam Battle of Britain. Inggris memenangkan pertempuran ini, sedangkan usaha Jerman untuk merebut keunggulan udara dan menginvasi negara tersebut gagal.

Inggris kemudian terbukti vital dalam tahap lanjut WWII, dimana pengeboman strategis Sekutu atas Jerman dilakukan oleh pesawat-pesawat yang diterbangkan dari pangkalan-pangkalan udara di Inggris. Namun bila Inggris jatuh ke tangan Jerman, mau tidak mau pengeboman strategis ke wilayah Jerman harus dilakukan dengan pesawat bomber jarak jauh yang terbang langsung dari mainland US, melintasi Samudra Atlantik.

Desain yang dikerjakan Consolidated lebih berbentuk pesawat konvensional namun Northrop mengerjakan desain flying wing, yang tidak terlalu mengherankan berhubung Jack Northrop memang sudah tertarik dengan flying wing sejak tahun 1920an awal. Salah satu karakteristik dari desain flying wing adalah drag yang lebih rendah sehingga ketimbang desain konvensional serupa, flying wing mampu mencapai kecepatan yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dengan kekuatan serta bahan bakar yang sama. Biaya flying wing dengan struktur one-piece juga akan lebih murah dibanding desain konvensional dengan fuselage ekstra dan ekor. Distribusi berat payload juga akan seimbang dibanding desain konvensional, dimana satu bagian airframe harus diperkuat untuk membawa bom atau kargo.

Baca Juga:  Norinco VT5 China, Pesaing Tank Harimau Indonesia Di Pasar Ekspor

Bulan Oktober 1941, USAAF akhirnya menandatangani kontrak persetujuan mulai untuk pengembangan flying wing bomber Northrop yaitu Project MX-140 (XB-35), yang termasuk purchase order untuk data engineering, tes model, serta scale model yang bisa terbang dengan ukuran 1/3nya untuk pengumpulan data lebih lanjut (Northrop N9-M). Tanggal 22 November, kontrak untuk prototipe pertama XB-35 ditandatangani beserta opsi untuk prototipe kedua. Kontrak untuk prototipe kedua ditandatangani 2 Januari 1942. Proses engineering detail untuk XB-35 dimulai di awal 1942 dan jika mengikuti kontrak, XB-35 pertama akan dikirimkan pada November 1943 dan yang kedua pada April 1944. 13 pesawat service test YB-35 dipesan pada Desember 1942, dan kontrak untuk 200 B-35 dikeluarkan pada Juni 1943.

Awak XB-35 ditempatkan dalam sebuah kabin kru di tengah sayap pesawat, yang memiliki tailcone menonjol dari trailing edge sayap tengah. Awak pesawat terdiri dari 9 orang yaitu pilot, copilot, bombardier, navigator, engineer, radio operator, dan gunner sebanyak 3 orang. Konfigurasi desain kokpit flying wing bomber ini tidak lazim; pilot duduk dalam sebuah bubble cockpit berbahan plexiglass di bagian depan pesawat dan agak ke kiri dari centerline, copilot duduk di sebelah kanan bawah pilot di balik sebuah jendela besar yang ada di bagian leading edge sayap, sedangkan bombardier station ditempatkan di kanan kursi copilot, dimana bombardier mengoperasikan bombsight lewat jendela kotak di bagian underwing pesawat. Navigator dan flight engineer duduk di belakang copilot, dan navigator memiliki jendela bubble kecil di atas tempat duduknya agar bisa melihat bintang. Bagian tengah dari kabin kru memiliki fasilitas folding bunk untuk tidur serta memuat awak pengganti sebanyak 6 orang, yang amat vital untuk misi terbang 10,000 mil dimana kelelahan pasti akan signifikan. Gunner station ditempatkan di bagian belakang. Kabin kru memiliki headroom sebesar 7 kaki.

Baca Juga:  HSU-001 Kapal Selam Tanpa Awak China Dipamerkan Dalam Parade Militer

Persenjataan defensif terdiri dari beberapa barbette remote control. Empat senapan mesin 12.7mm ditempatkan di barbette dorsal dan ventral yang berada di bagian tailcone pesawat. Empat senapan mesin 12.7mm dipasang di belakang tailcone. Terdapat empat barbette dengan sepasang senapan mesin 12.7mm yang berada di sebelah mesin terluar, satu di bawah dan satu di atas sayap. Total ada 20 pucuk senapan mesin Browning M3 yang akan mempertahankan flying wing bomber ini dalam 7 barbette. Persenjataan defensif dibidik secara remote oleh gunner-gunner yang duduk di sighting station berupa bubble di atas belakang tailcone, station di bagian ventral, dan di belakang kursi pilot. Bom dibawa secara internal dalam 8 bomb bay.

Mesin pesawat terdiri dari empat mesin Pratt & Whitney Wasp Major, yaitu sepasang R-4360-17 dan R-4360-21 yang dilengkapi dengan turbo supercharger single-stage GE dan memiliki tenaga sebesar 3,000 hp. Setiap mesin menggerakan contra-rotating pusher propeller empat bilah. Contra-rotating prop ini nantinya diganti dengan single-rotation propeller dengan gearbox yang lebih sederhana. Pesawat ini dibuat dengan aluminum alloy yang dikembangkan Alcoa, dan lebih kuat dibanding metal-metal sebelumnya. Bahan bakar pesawat dibawa di self-sealing fuel tank sayap dengan opsi untuk membawa tambahan di bomb bay dan kompartemen sayap lainnya.

Pengembangan B-35 diwarnai dengan liku-liku. Di awal tahun 1944, program ini terlambat mengikuti jadwal karena beragam isu. Glenn L. Martin Company telah ditunjuk oleh AAF untuk membantu Northrop memenuhi kontrak 200 pesawat, namun ‘kemitraan’ ini banyak menimbulkan masalah berupa kurangnya koordinasi, kurangnya engineer, serta delay dalam tooling. AAF pun kemudian membatalkan kontrak produksi Martin, dan disimpulkan juga bahwa B-35 tidak akan selesai tepat waktu untuk terjun ke kancah WWII. Akan tetapi proyek ini diteruskan hingga XB-35 pertama terbang pada tanggal 25 Juni 1946. Airframe pesawat ini kemudian dijadikan basis untuk YB-49 yang menggunakan mesin jet, berhubung era piston engine sudah berakhir. Program B-35 pun akhirnya dibatalkan berhubung untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan contra-rotating propeller, flying wing bomber ini harus memakai single-rotation propeller yang memotong jarak menjadi setengahnya.

Sumber: Hex / Lighting Ii-chan

https://en.wikipedia.org/wiki/Northrop_YB-35

http://www.century-of-flight.net/Aviation%20history/flying%20wings/Northrop%20bombers.htm

http://www.joebaugher.com/usaf_bombers/b35.html

https://books.google.co.id/books?id=AqB8DwAAQBAJ&pg=PT47&lpg=PT47&dq=project+mx140&source=bl&ots=lIjax7XMOM&sig=ACfU3U1OrWFqhrScSMNdGCXxYBsWKVGN8A&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwip8YaW6-bhAhVV6XMBHaaCBOEQ6AEwAXoECAkQAQ#v=onepage&q=project%20mx140&f=false

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan