Operasi Genosida Militer Myanmar Tewaskan 80 Warga Rohingya Dalam 1 Hari

Militer Myanmar dan Polisi Penjaga Perbatasan (Border Guard Police/BGP) meneruskan operasi genosida / pembersihan etnis Rohingya di wilayah Dar Gyi Sar, Yay Khae Chaung Khwa Sone, Kyar Gaung Taung dan Thu Oo Lar di bagian utara provinsi Maungdaw pada 13 November 2016. 

Semua rumah warga dengan tanah dan sedikitnya 80 warga Rohingya tewas.Pada minggu pagi jam 6.30 pasukan militer dan aparat BGP masuk ke desai Yay Khaw Chaung Khwa Soe dan menyiksa penduduknya. Mereka diancam akan ditembak mati jika tidak pergi dari kampung. Rumah-rumah kemudian dibakar setelah ditinggalkan penduduknya.

Tak ada satu pun rumah yang tersisa di desa Dar Gyi Sar, desa selanjutnya yang diserang. Semuanya dibakar dan 3 keluarga tewas saat rumahnya dihancurkan RPG aparat.

“Di desa kami ada 700 rumah. Sekarang tak satu pun yang tersisa. Beberapa warga desa juga terbunuh.” kata seorang warga pada RB News.

Pada jam 10 pagi, dua warga Rohingya dan seorang bocah ditembak mati oleh militer Myanmar saat berusaha menyelamatkan diri dari desa dengan menumpang speedboat menuju desa Tha Yet Oak.

Peta lokasi serangan pada 22 Oktober, 3 dan 10 November. Tidak termasuk serangan pada 13 November kemarin. Gambar: RB News

Aparat militer lalu menyerbu desa Kyar Gaung Taung dan melakukan hal yang sama. Mengusir penduduknya lalu membakar desa. Bahkan ada beberapa bayi yang diambil paksa lalu dilemparkan ke dalam kobaran api.

Baca Juga:  Keder, Menlu Korea Selatan Minta AS Agar Tidak Menyerang Korea Utara

Jam 4 sore serangan terus berlanjut ke dusun Kyaik Chaung, di desa Laung Don. Seorang warga desa bernama Nawzumuddin 54 tahun ditembak di kepalanya.


Jam 4.15 sore serangan berlanjut ke dusun Wa Baik di Kan Pyin.

Seorang warga desa mengatakan pada RB News bahwa antara pukul 4 sore sampai 5.30 sore, militer Myanmar menambah jumlah pasukan dan senjata yang diturunkan dari helikopter AU Myanmar.

Warga Rohingya menyelamatkan diri dari serbuan militer Myanmar. Foto: RB news

Warga desa Kyein Chaung meninggalkan desanya saat menjelang pagi untuk menyelamatkan diri karena pasukan militer Myanmar mulai melepaskan tembakan tanpa alasan.

Warga desa Thu Oo Lar juga bertemu dengan pengungsi dari desa lain yang juga mengalami pemusnahan masal oleh militer dengan menggunakan pelontar granat dan bom.

Selama serangan hari minggu ada hampir 80 warga Rohingya terbunuh. Banyak anak-anak dan warga usia lanjut yang tewas dalam pelarian. Sekurangnya 5.000 warga Rohingya menjadi tunawisma karena rumahnya dihancurkan militer.

Pengungsi tinggal di tempat terbuka. Foto: RB News.

Kondisi 5.000 pengungsi Rohingya saat ini dalam kondisi sangat mengenaskan, karena tinggal di tempat terbuka tanpa shelter, tanpa persediaan makanan. Yang terluka tak ada harapan selamat karena tidak ada obat-obatan dan paramedis. Anak-anak balita kelaparan. (rohingyablogger)


 

4 Komentar

  1. Di mana PBB dan PEGIAT HAM DUNIA saat terjadi pelanggaran HAM berat oleh tentara dan pemerintahyanmar? Telah terjadi kejahatan kemanusiaan yg nyata di Myanmar tapi PBB seakan menutup mata akan hal itu karena korbannya kaum Muslim, apakah Amerika yg menasbihkan diri sebagai pejuang HAM dunia juga telah buta sehingga tidak melihat kejahatan kemanusiaan yg terjadi di Myanmar, pembunuhan terhadap rakyat sipil oleh tentara Myanmar tanpa alasan yg jelas adalah perbuatan biadab yg tidak bisa diterima alal sehat manusia, telah jelas terjadi GENOSIDA di Myanmar yg dilakukan pemerintah Myanmar terhadap rakyatnya sendiri dari suku Rohingya, where is united nation? Where is the human right warrior USA? are you blind?

  2. Ketikkan komentar di sini…Negara yang tidak bisa melindungi warganya dan intolerans dan rasis sudah sepantasnya diembargo secara politik ekonomi dan pertahanan oleh komunitas internasional.

Tinggalkan Balasan