Patroli Perbatasan TNI, 31 Hari Hidup di Hutan Belantara Kalimantan

Hari kedua patroli perbatasan TNI bergerak dari titik pemberangkatan di sekitar Kampung Kabau, Malaysia, pada 16 Januari 2018, personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/ Manuntung yang melakukan patroli patok perbatasan sempat diawasi dan dikuti Tentara Diraja Malaysia.

“Jadi saat hari kedua itu mereka nanya di Kampaung Kabau. Disampaikan ada patrolinTNI. Terus mereka berusaha mengikuti,” ujar Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/Manuntung, Letkol Infanteri Rio Neswan, Rabu (21/2/2018).

Hanya saja, kata dia, ada tebing yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin didaki.


“Karena ada tebing tinggi, mereka balik kanan. Kalau kita mutar baru naik ke sana,” ujarnya.

Tak sanggup ‘mengejar’ 9 personel TNI melalui jalur darat, Tentara Diraja Malaysia lalu mengikuti dengan helikopter.

“Mulai hari kedua sampai hari ke sepuluh itu diikuti terus dengan helikopter,” katanya.

Tak hanya harus melalui medan berat dengan tebing yang tinggi dan curam.
Jalur patroli yang masih berupa hutan tanpa jalan, memaksa para personel TNI dimaksud harus berusaha membuat jalan.

“10 hari pertama dalam perjalanan mereka diguyur hujan terus. Belum lagi suhu udara di sana kalau malam hari 5 sampa 10 derajat. Kalau siang 15 sampai 20 derajat. Saya waktu dorlog ke sana, pakai helli jam 10.00, itu suhunya 15 derajat,” ungkapnya.

Baca Juga:  2023 Pindad Ingin Menjadi Industri Pertahanan Unggul dan Terbesar di Asia

Dalam kondisi hujan dan berkabut seperti ini, merekapun sama sekali tidak pernah menemukan binatang yang bisa dijadikan santapan penambah lauk pauk.

“Pas pulangnya baru mereka sering ketemu,” ujarnya.

Menempuh jarak sejauh 363 kilometer di kawasan Kecamatan Lumbis, setiap harinya para personel harus berjalan kaki sejak pukul 09.00 hingga pukul 16.00.

“Mereka membawa terpal, dipasang untuk menginap kalau malam. Jadi selama 31 hari PP, dibuat tenda begini,” ujarnya.

Beratnya perjalanan yang harus dilalui membuat seorang personel sempat sakit.

“Cuma demam biasa. Kebetulan ada bintara kesehatan yang jalan satu orang. Mereka jalan disuplai obat-obatan dan injeksi untuk emergensi,” ujarnya.


Tim Pencari dan Penjelajah dibentuk Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/ Manuntung untuk memastikan keberadaan patok- patok perbatasan di blank post area.

Rio Neswan mengatakan, tim tersebut
melaksanakan misi untuk menembus kawasan yang selama ini belum terjamah Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI- Malaysia sebelumnya.

Pasukan penjelajah menjalankan misi sejak 15 Januari 2018 hingga 14 Februari 2018.

“Danpos Lumbis SSK IV Lettu Inf Untung Hermanto dengan pendamping Patop Satgas
Kapten Ctp Ari Wahana beserta 7 anggota berhasil melaksanakan patroli patok sesuai sektornya. Termasuk di wilayah blank post area yang sudah 41 tahun tidak dipatroli dari patok C 002 sampai C 481 dalam keadaan aman,” ujarnya.

Baca Juga:  TNI AL dan AL Rusia Akan Gelar Latihan Gabungan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan