Pemilu Libya Batal Karena Anak Moamar Gadafi Paling Populer Dalam Pilpres

Pemilihan presiden dan partai politik yang dijadwalkan pada 24 Desember di Libya bisa dikatan resmi batal. KPU Libya sampai saat ini terus tutup mulut tidak mengeluarkan statemen resmi tentang pemilu tersebut.

Penyebab utama karena tingginya dukungan dan popularitas Saif Islam Gaddafi, putra dari mantan Presiden Moammar Gaddafi dari rakyat Libya dalam berbagai survei. Hal tersebut menimbulkan kecemasan dan kecemburuan dari para pesaingnya yang juga berambisi menjadi presiden dan kebetulan mendapat sokongan dana dan senjata dari negara asing seperti Turki dan Rusia.

Perdana Menteri Abdelhamid Dbeibah dan Kepala Negara Mohamed Younis Ahmed al-Manfi versi GNA yang juga maju dalam pilpress dan disokong oleh Turki. Lalu ada Jenderal Haftar dari LNA yang mendapat sokongan senjata dan dana dari Rusia, UEA dan Mesir. Sedangkan Saif Islam Gaddafi tanpa dukungan dari negara asing.

Libya saat ini terbagi dalam tiga wilayah.
Pertama, Tripolitania secara substansial berada di bawah perlindungan pemerintah sipil GNA yang disokong oleh Turki. Kawasan ini paling rentan karenanya banyak konflik kepentingan antara milisi lokal dan milisi asing yang didatangkan oleh Turki.

Kedua kawasan Cyrenaica – saat ini satu-satunya wilayah “tenang” dan damai- dikuasai oleh militer Tentara Nasional Libya yang dipimpin oleh Jenderal Haftar dan berada di bawah pengaruh Rusia, UEA dan Mesir.

Baca Juga:  Demi Keamanan, Keluarga Alumni ITB Pindahkan Hermansyah Ke RSPAD Untuk Dijaga TNI

Dan terakhir kawasan Fezzan, wilayah paling kayandi Libya meniyimpan cadangan SDA 70 persen hidrokarbon. Kawasan ini dikuasai oleh Saif Al Islam Gaddafi yang didukung oleh milisi dari suku-suku lokal Libya.

Dalam kampanyenya, Putra Gadafi menjanjikan stabilitas nasional dan persatuan kembali Libya tanpa campur tangan asing. Dia juga menjanjikan posisi wakil presiden dan pimpinan militer kepadal Jenderal Haftar, mantan jenderal kepercayaan ayahnya.

Jelas kepentingan asing, baik Turki, Rusia ataupuan UEA tidak akan mau jika LIbya kembali berdaulat. Karena mereka datang untuk mengeruk emas dan minyak Libya. Caranya dengan terus menciptakan ketidakstabilan di Libya melalui orang-orang Libya yang haus kekuasaan dan mau diperalat.

Tingginya popularitas Saif Islam Gadafi adalah bukti nyata orang Libya merindukan kedamaian dan kejayaan negaranya seperti di era Presiden Moamar Gadafi, serta mereka sudah muak dengan agitasi para politikus yang haus kekuasaan tanpa peduli rakyat.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan