Penjualan Senjata Israel Fantastis, Indonesia Ikutan Borong

Hingga saat ini militer Israel terkesan seenaknya ketika milibatkan diri dalam setiap konflik militer yang berlangsung di Timur Tengah.

Kendati jika bertempur melawan negara-negara di Timur Tengah, seperti Palestina, Mesir, Suriah, Yordania, Iran dan lainnya, militer Israel sering kewalahan.

Tapi sikapnya sebagai “polisi” di Timur Tengah meniru sejawatnya militer AS yang selalu berperan sebagai “polisi dunia” makin menjadi-jadi.

Sebagai negara yang selalu berusaha menunjukkan keunggulan persenjataannya di berbagai konflik, Israel memang memiliki tujuan: supaya produk-produk persenjataannya yang terbukti unggul itu makin laris di pasaran dunia.

Tujuan Israel mempromosikan senjata lewat peperangan itu cukup berhasil karena pada 2017 penjulaan persenjataan Israel mencapai nilai 9,2 miliar dollar AS atau lebih dari Rp120 triliun.

Jumlah penjualan persenjataan Israel itu bahkan melebihi anggaran belanja TNI 2017, yang “hanya” senilai Rp108 trilliun.

Salah satu pembeli terbesar persenjataan Israel adalah India.

Negara ini membeli persenjataan dari Israel berupa sistem pertahanan udara tipe Barak-8 yang harganya mencapai 3 milliar dolar AS atau lebih dari Rp40 triliun.


Selain sistem pertahanan udara, persenjataan andalan Israel yang diminati oleh negara-negara di Asia-Pasifik, Eropa, Afrika, dan Amerika Utara adalah sistem radar, avionik jet tempur, amunisi senjata, sistem komunikasi militer, satelit, sistem teknologi maritim, dan sistem optik.

Jika dipersentasekan, negara-negara di Asia Pasifik (58%) merupakan pembeli senjata Israel terbesar, termasuk Indonesia yang pernah membeli pesawat tanpa awak dari Israel bernama Aerostar.

Baca Juga:  Pesawat Generasi 5 Rusia T-50 PAK FA Bakal Dapat Mesin Baru

Sejumlah UAV Aerostar telah ditempatkan di Skadron Udara 51 TNI AU sejak 2013, dan berbasis di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

Persentase pembeli senjata Israel di Eropa sekitar 21%, Amerika Utara (14%), Afrika (5%) dan Amerika Latin (2%).

Dengan penghasilan penjualan persenjataan yang demikian besar setiap tahunnya, memang wajar jika militer Israel makin jumawa di kawasan Timur Tengah.
(Sumber: TSM/Intisari)

3 Komentar

Tinggalkan Balasan