Perang Kembali Berkobar, Warga Avdiivka Ukraina Akan Dievakuasi

Pertempuran baru antara pemerintah dan pemberontak pro Rusia kembali berkobar di Ukraiana, tepatnya di wilayah Avdiivka. Pemerintah Ukraina tengah mempersiapkan evakuasi warga di garis depan pertempuran baru itu. Diperkirakan ada 8.000 warga terpaksa diungsikan setiap harinya.

Dilansir BBC, Rabu, (1/2/2017), pemerintah Ukraiana memberitakan bahwa tujuh tentara tewas dalam bentrokan pada hari Minggu dan Senin. Sementara pertempuran masih terus berlanjut

Kedua pihak saling menyalahkan atas eskalasi kekerasan. Padahal, bulan lalu, pihak-pihak yang bertikai baru saja memperbarui gencatan senjata.

Pasukan Ukraina mengklaim pertempuran pecah setelah pemberontak melancarkan serangan ke Avdiivka. Kota ini berbatasan dengan wilayah yang dikuasai pasukan separatis.

Tank Oplot dan mayat tentara pemerintah Ukrain yang dilumpuhkan pemberontak pro Rusia pada 2015 di Minsk. Foto: southfront

Mengantre untuk roti

Sebuah pembangkit listrik lokal dikabarkan rusak akibat pertempuran ini.

“Semuanya akan memburuk. Orang-orang takut dan mencoba menyelamatkan diri. Cuaca sangat dingin. Ada antrean roti. Hanya beberapa toko yang buka,” ujar salah seorang warga bernama Nadiya.

Pavlo Zhebrivsky, kepala pemerintahan kota Kiev mengatakan, rencana sedang dibuat untuk mengevakuasi warga Avdiivka.

“Sampai sekarang, kita bisa mengevakuasi hingga 8.000 orang per hari. Sejumlah kota di kawasan ini bersiap untuk menerima hingga 9.000 pengungsi,” kata Zhebrivsky seperti dikutip kantor berita Interfax.

Tak diketahui pasti total populasi di kota Avdiivka, namun diyakini berkisar antara 16.000 hingga 22.000 jiwa.

Para pejabat menerangkan, langkah evakuasi akan diambil jika pertempuran meningkat lebih lanjut. Mereka menambahkan bahwa sekitar 10 ton makanan akan segera tiba di kota itu.

Baca Juga:  Peru Luncurkan LPD Serbaguna Pertamanya

Sementara itu, juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov menuding, militer Ukraina melancarkan serangan lebih dulu terhadap pemberontak pro-Rusia di garis depan Avdiivka.


“Tindakan yang agresif, didukung oleh angkatan bersenjata Ukraina, bertentangan dengan tujuan dan aturan dalam perjanjian Minsk,” kata Peskov.

Pada Februari tahun 2015, kedua pihak berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata di Minsk. Namun pelanggaran masih kerap terjadi. Pada 23 Desember 2016, gencatan senjata terbaru pun diberlakukan.

Lebih dari 9.700 orang tewas sejak konflik meletus pada tahun 2014, tepatnya ketika Rusia menganeksasi Krimea yang terletak di semenanjung selatan Ukraina. Tak lama, kelompok bersenjata pro-Rusia pun melancarkan pemberontakan.

Menanggapi pencaplokan Krimea, AS dan Uni Eropa memberlakukan sanksi terhadap Rusia. Meski demikian, Kremlin membantah pihaknya mendukung kelompok pemberontak.


Kekerasan terbaru ini terjadi di tengah kabar Donald Trump melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Presiden Vladimir Putin.

Kremlin mengumumkan, dua pemimpin dunia ini sepakat menjadi mitra dalam menanggapi sejumlah isu termasuk Ukraina. Hal ini pun memicu kekhawatiran di Kiev.

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan