Perang Rohingya Myanmar Akan Menjadi Medan Laga ISIS Selanjutnya

Profil warga etnis Rohingya yang menjadi manusia perahu mencari negara yang mau menampung mereka. Foto. Ichwok.in

Perang etnis Rohingya melawan kekejaman militer Myanmar akan menyajikan perang yang sangat brutal. Rohingya  adalah suku etnis paling menderita di dunia selama ini. Mereka telah mendapat represi, diskriminasi hingga genosida sejak Junta Militer berkuasa di Myanmar.

Yang jadi masalah, mereka beragama Islam. Maaf bukan rasis atau menyinggung SARA. Ulasan kami saat ini menyangkut peta perdamaian ASEAN di masa mendatang. Ingat, ASEAN diprediksi akan menjadi pusat ekonomi dunia dalam satu dasawarsa ke depan. Dan Perang Rohingya-Myanmar berpotensi menjadi kanker yang bisa membunuh asa itu.

Medan Laga ISIS yang akan direstui umat Islam sedunia.
Perang antara pejuang Rohingya melawan Myanmar cepat atau lambat akan mendapat dukungan para militan muslim di seluruh dunia. Inilah untuk kali pertama para radikalis muslim mempunyai musuh yang nyata, bukan abu-abu lagi.

Berbeda dengan konflik di Suriah, Irak ataupun Filipina. Di Suriah dan Irak, musuh ISIS adalah orang Islam yang berbeda cara pandangnya.

Sedangkan di Filipina, meskipun Islam adalah minoritas dan penguasanya adalah kaum Katolik. Namun umat Islam di sana diberi ruang, kebebasan dan kenyamanan. Perkara yang membuat perjuangan para pemberontak Islam selalu gagal. Ngapain berontak lha wong kebebesan menjalankan Islamnya dijamin sama Manila.

Beda kasus dengan konflik di Myanmar. Musuhlah yang pertama kali menyatakan perang pada Islam, siapa orangnya, bagaimana ciri dan bentuknya jelas tergambar. Bhiksu Budha Viratu telah mengirim surat tantangan perang,
“masuklah kesini, kami tunggu jihadmu”.

Akses Mudah Menuju Arakan dan Bisa Memicu Disintegrasi Myanmar

Negara bagian Arakan di Myanmar sangat mudah diakses. Perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar juga hanya dibatasi oleh sungai yang diseberangi. Negara bagian Arakan juga berbatasan langsung dengan India yang bisa menjadi pintu masuk senjata dari kaum radikal muslim India.

Garis pantai Rakhine juga cukup panjang dan selama ini mudah diterobos oleh penyusup karena minimnya kekuatan angkatan Laut Myanmar.

Militer Myanmar sendiri juga masih menghadapi konflik tidak hanya melawan etnis Rohingya. Myanmar yang terdiri dari berbagai suku bangsa (135 etnis) juga bisa mengalami disintegrasi seperti Yugoslavia jika perang melawan Rohingya membesar.

Peta etnis di Myanmar. Foto: MWC News

Kombatan suku Karen juga masih menyimpan bara untuk terus melanjutkan perjuangan.


Etnis Kokang di perbatasan China juga masih aktif menembaki tentara dan polisi.  Tahun 2015 AU Myanmar menyerbu wilayah perbatasan China dengan menewaskan 5 warga sipil China dengan alasan memburu pemberontak Kokang.

Bulan maret 2017, juga terjadi perang sengit antara militer Myanmar melawan pejuang suku Shan yang berdarah China. 30 orang dilaporkan tewas.

Baca di sini:
– Berikut Data Kekuatan Militer Myanmar
– Perang pecah antara Militer Myanmar dengan Pemberontak SHAN
– Dalih buru pemberontak, Myanmar serang Provinsi Yunan China 

Warga Rohingya sekarang punya pilihan, mati sebagai pengungsi atau mati sebagai pejuang. Foto: Reuters

Dana tak terbatas dari komunitas muslim sedunia.


Negara-negara barat boleh saja yang paling maju teknologinya, namun negara-negara Arab lah pemilik uang terbanyak di dunia ini. Mereka bisa menghabiskan 300juta demi seorang pemain sepakbola. Dan bisa juga dengan mudah membeli senjata lalu mengirimkanya ke Libia, Suriah dan Irak. Tentu mereka juga bisa dengan mudah mengirim senjata ke Myanmar untuk pejuang Rohingya dan para pejuang ISIS yang akan masuk.

Sejak tahun 1980-an di perang Afghanistan – Sovyet, militan muslim dari berbagai belahan dunia bisa masuk ke mana pun perang atas nama Islam dikobarkan. Pejuang asal Malaysia dan Indonesia juga tak ketinggalan. Jika Afganistan dan Suriah saja mereka datangi, apa iya mereka akan melewatkan perang di Myanmar ini yang cuma di seberang lautan itu?

Soal dana? akan sama melimpahnya dengan sokongan untuk ISIS, opisisi Suriah, Opisisi Khadafi dan lain-lain. Yang menyumbang pun bukan hanya tokoh-tokoh yang selama ini dikaitkan pendanaan teroris, bahkan tokoh muslim yang moderat pun akan terketuk hatinya menyokong perjuangan Rohingya merebut kemerdekaanya dari Myanmar.

Nah di sinilah ancaman bahayanya. Pejuang muslim yang tidak bisa berangkat ke Myanmar, bisa menimbulkan keonaran dengan menyerang para pemeluk Budha di negaranya. Walhasil, teror akan meningkat di negara ASEAN yang mayoritas muslim seperti Indonesia dan Malaysia.

Jika terjadi, bisa sangat merugikan perkembangan ekonomi di kedua negara.

Bagaimana dengan Amerika dan Sekutu baratnya, mereka tentunya tidak akan turut terjun dalam perang ini. Namun akan sangat bersyukur jika perang berlangsung lama, karena omset penjualan senjata akan menopang pertumbuhan ekonomi Amerika dan Eropa yang lagi lesu.

China tentunya juga tak tinggal diam. Jika Rusia punya Suriah sebagai tempat show alutsista buatan mereka dan terbukti hasilnya laris manis. China kemungkinan besar juga akan mengikuti langkah Rusia tersebut.

TNI? jelas tak boleh ikut campur dalam perang ini. Karena fungsi TNI adalah menjaga kedaulatan NKRI bukan berperang di negara lain.

 

 

Advertisements

5 Komentar

  1. Artikel apaan neh. Asal ngebacot aja. Kok jadi kaya nyain muslim = teroris. Trus bilamg org eropa dan amerika maju. Kalo kaga ada ilmuan muslim yang nemuin algoritma juga ga bakal maju mereka. Kalo kaga ada ibnu sina juga bidang kedokteran barat kaga ada yang maju. Bikin artikel yang bener dong. Ngemeng aja

Tinggalkan Balasan