Perang Suriah Jilid II Turki vs Kurdi

​Amerika Serikat benar-benar bingung dengan situasi konflik di Suriah, terutama di perbatasan garis Turki-Suriah. Setelah ISIS berhasil dilemahkan oleh koalisi AS-Turki dan FSA (Free Syirian Army) yang mayoritas suku Kurdi. Situasinya sekarang malah perang terbuka antara Turki melawan FSA/YPG, yang sekarang disebut YPG oleh Turki.

AS mengatakan pertempuran antara Turki dan FSA/YPG (pemberontak dan pejuang Kurdi) yang terjadi di utara Suriah tidak dapat diterima dan harus dihentikan.

Pasukan Turki menyerang FSA/YPG yang mereka panggil ‘teroris’ Kurdi dengan mengerahkan artileri berat melewati perbatasan pada pekan lalu.

Namun pejuang Kurdi, YPG/FSA menuduh Turki ingin menduduki wilayah Suriah. Pertempuran sengit pun terjadi. Tank-tank Turki hancur dihantam rudal anti tank kiriman AS yang selama ini ditujukan untuk menggulingkan rezim Assad.


Turki tidak ingin wilayah perbatasan negaranya menjadi abu-abu dengan berkuasanya para pemberontak Kurdi. Turki telah mendesak pasukan Kurdi, yang dianggap sebagai teroris, untuk mundur ke timur menyebrangi sungai Efrat.


Ini membuat posisi Turki makin misterius dalam konflik di Suriah. Pro Amerika atau Pro Rusia? 

Ingin menyelesaikan konflik Suriah atau justru ingin memelihara konflik di Suriah?

Sejak dulu Suriah adalah pesaing Turki dalam hal ekonomi di kawasan mediterania. Begitu Suriah hancur dalam perang, ekonomi Turki langsung melejit salah satunya karena disokong gelontoran minyak murah dari pasar gelap para pelaku perang Suriah, baca ISIS. 

Baca Juga:  5 Kerugian Indonesia Jika Membeli Sukhoi Su-35 Bagi Perkembangan Pertahanan

Perdagangan juga tumbuh pesat karena senjata, artileri, tranportasi para pemberontak oposisi masuk melalui pintu-pintu perbatasan Turki. Satu-satunya faksi pemberontak yang tidak berhubungan dengan Turki adalah kaum Kurdi. 

Memanfaatkan nasionalisme Kurdistan, pada pasukan Kurdi mendapat pasokan amunisi melalui Irbil, Iraq. Provinsi otonomi khusus yang secara dejure sudah menjadi negara berdiri sendiri di luar pemerintahan Iraq.

Ke depan, akan ada pertempuran sengit antara Turki melawan Kurdi di wilayah Suriah. Kemudian Turki akan jadi rebutan antara Amerika dan Rusia untuk dijadikan mitra strategis mengelola konflik Suriah.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan