Perang Yom Kippur, Kemenangan Mesir dan Suriah di Bulan Ramadhan Atas Israel

Iringan pasukan Mesir menyebrangi terusan Suez. Foto: wikepedia

Membicarakan siapa yang menang dalam Perang Yom Kippur ini sama halnya dengan membahas gol tangan Tuhan Maradona, rumit. Yom Kippur sendiri berarti Hari Penebusan bagi umat Yahudi. Perang ini akan diingat sepanjang masa oleh Umat Yahudi Israel untuk tidak lengah dan siap menebus kekalahanya kapan pun.

Media barat yang pro Israel mengklaim bahwa perang ini dimenangkan oleh Israel. Sedangkan media di timur tengah memberitakan bahwa kemenangan telah diraih oleh Mesir dan Suriah. Sebagai bukti, Mesir berhasil merebut kembali Semenanjung Sinai dan Suriah merebut sebagian besar Dataran Tinggi Golan. Lalu dimana kemenangan Israel?

Kemenangan Israel adalah mereka berhasil berdamai dengan Mesir dan memutus koalisi Mesir-Suriah selamanya, dua musuh bebuyutanya. Mereka memang kehilangan Semenanjung Sinai, namun satu musuh telah berubah jadi teman, itu lebih berharga.

Dampak lain dari perang ini adalah perubahan politik internasional Mesir. Presiden Anwar Sadat saat itu mengalihkan negaranya menjadi Pro Barat setelah sebelumnya menjadi sekutu dekat Uni Soviet.


Sebelum meletus, Anwar Sadat tetap menjalin hubungan mesra dengan Uni Soviet. Berbekal perjanjian Persahabatan Mesir dan Soviet,  Soviet menggelontor Mesir  berbagai persenjataan canggih untuk modal menyerbu Israel. Tapi sebelum perang meletus, dia malah mengusir penasehat militer asal Uni Soviet.

Perang pun meletus beberapa menit selepas pukul dua siang pada bulan suci Ramadan, Sabtu, 6 Oktober 1973. Saat itu, tentara Suriah dan Mesir secara bersamaan menyerang Israel dari utara dan selatan. Serangan habis-habisan di dua front pada siang hari itu adalah kejutan untuk Israel karena mereka mengira akan diserang setelah waktu berbuka pada petang hari.

Baca Juga:  Battle Of Biscay, Kisah Heroik Pesawat Sunderland Melawan 8 Pesawat Jerman

Serangan mendadak ini menimbulkan kerugian besar pada tank-tank dan pesawat Israel dalam serangan di dekat Danau Tiberias.  Benteng Israel di Sinai berhasil dihancurkan Mesir. Dataran Tinggi Golan juga berhasil direbut kembali oleh Suriah.

Tank M60 Patton milik Israel yang hancur. Foto: wikipedia

Israel kebingungan karena menghadapi dua musuh dari dua arah, Suriah di utara dan Mesir di selatan. Kekuatan militer akhirnya dipecah jadi dua, yang tujuanya hanya untuk mempertahankan garis pertahanan dan mencegah gerak maju dua negara tersebut.

Di Selatan, serangan Mesir akhirnya berhasil ditahan. Namun beberapa pengamat mengatakan, bahwa Anwar Sadat memang hanya berniat merebut kembali Semenanjung Sinai bukan menginvasi Israel, dia sengaja menghentikan serangan di perbatasan Israel.  Daerah Sinai sendiri direbut Israel dari Mesir saat perang 6 hari tahun 1967.

Keputusan Anwar Sadat ini dibayar mahal. Beberapa bulan kemudian, dirinya ditembak mati oleh aktifis Islam garis keras yang merasa bahwa kemenangan untuk merebut Jerussalem sudah di depan mata, tapi kenapa berhenti?

Karena sikap Mesir ini. Israel lalu memfokuskan serangan di utara melawan Suriah di Dataran Tinggi Golan. Perang keduanya berlangsung sengit karena sejak awal, Suriah memang berniat menginvasi Israel untuk merebut Yerussalem.

Melempemnya Mesir membuat negara-negara Arab lain memfokuskan bantuan pada Suriah.  Pasukan infanteri dan unit kendaraan lapis baja Irak, Arab Saudi, dan Yordania dikirim ke Suriah untuk menghadapi serangan Israel di Golan.

Baca Juga:  Scarff Ring Mekanisme Senjata Andalan Jet Tempur Inggris Zaman Dulu

Namun koalisi Arab dan Suriah tak mampu membendung persenjataan militer Israel yang lebih canggih. Sebagian besar wilayah Golan akhirnya dikuasai lagi oleh Israel, Suriah hanya kebagian kecilnya saja. Pasukan koalisi Arab kemudian mundur teratur.


Akhir dari perang ini perdamaian beberapa negara Arab dengan Israel, diantaranya Yordania dan Mesir.

Anwar Saddat membawa Mesir yang dulunya pro Uni Soviet menjadi pro Amerika Serikat sampai sekarang. Anwar sendiri akhirnya ditembak mati aktifis Islam karena dianggap menyianyiakan kesempatan mengalahkan Israel karena menahan pasukan Mesir hanya di perbatasan Sinai saja.

Akibat dari perang ini di pihak Israel:

  • 1,063 Tank hancur
  • 407 Kendaraan lapis baja hancur
  • 387 Pesawat hancur

Kerugian di pihak Arab:

  • 2,250 Tank hancur
  • 341 Pesawat hancur
  • 19 Kapal Perang karam

 

 

1 Komentar

Tinggalkan Balasan