Pertempuran Shiroyama, Akhir Kaum Samurai Di Jepang

Pertempuran Shiroyama (24 September 1877) menandai musnahnya kelas Samurai dari masyarakat Jepang. Pertempuran tersebut adalah penutup dari pemberontakan Satsuma, konflik lanjutan antara pasukan kekaisaran Jepang dan kaum samurai, setelah Perang Boshin yang lebih dahsyat, 8 tahun sebelumnya.

Pada pertempuran Shiroyama, hanya tersisa 500 samurai yang dipimpin oleh Saigo Takamori, dari 20.000 samurai diawal pemberontakan. Kekaisaran Jepang mengirim 30.000 prajurit yang dipersenjatai secara modern, termasuk Minie rifle dan artileri. Pihak samurai hanya mempunyai senjata tajam tradisional, sedikit musket dan beberapa pucuk artileri, dengan patung yang dilelehkan sebagai bahan amunisi.

Pihak tentara kekaisaran Jepang menyerang setelah melakukan saturasi tembakan artileri ke kubu pihak samurai. Pihak samurai menyambut dengan langsung menyerang dan membuat tentara kekaisaran kerepotan karena tidak terlatih dalam beladiri pedang jarak dekat.

Saigo Takamori, pimpinan samurai, terluka parah dan dibawa mundur oleh beberapa samurai untuk melakukan seppuku, serta kepala yang dipenggal disembunyikan. Para samurai kembali menyerang sampai habis tidak tersisa.

Pertempuran ini menginspirasi film “The Last Samurai” dan Saigo Takamori diberi pengampunan oleh kaisar Meiji. Patungnya dibangun di Ueno Park.

Penulis: Yudi Yuviarma

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan