Pesawat Hawk Hunter Milik Belanda Jadi Koleksi Museum Dirgantara

Ada koleksi baru yang istimewa di Museum Pusat Dirgantara TNI AU di Yogyakarta. Sebuah pesawat tempur milik penjajah sebagai saksi kekalahan mereka. Pesawat tersebut adalah Hawker Hunter F4 milik Belanda saat mereka masih menjajah Papua.

Pesawat ini mengalami insiden saat pendaratan, makanya tidak dibawa pulang oleh Belanda. Dan dibiarkan teronggok di Bandara Biak saat Belanda dinyatakan kalah dalam voting pemungutan suara rakyat Papua.

Secara teknis. Pesawat tempur andalan Belanda ini juga masih kalah kelas dibandingkan MiG-21 yang jadi andalan Indonesia saat itu.

Pesawat Hawker Hunter ini buatan Hawker Siddeley asal Inggris yang paling laris karena tercatat ada 1.972 unit yang dibuat. Di wilayah Asia Tenggara, Singapura pernah memiliki pesawat ini.

Untuk menghadang serbuan militer Indonesia yang pada masa itu adalah yang terkuat di belahan bumi selatan.
AU Belanda (Koninklijke Luchtmacht) menempatkan 12 unit Hawker Hunter F4 dan 12 unit Hawker Hunter F6 di Lanud Mokmer, Biak.

Saat Indonesia mulai melakukan infiltrasi serangan ke Papua. Belanda akhirnya memilih menyerah setelah dibujuk sekutunya dari Blok Barat.

Belanda akhirnya menarik mundur Hawker Hunter dan pesawat-pesawat lainnya seperti Lockheed P2V-7B Neptune. Namun ada satu unit Hawker Hunter F4 dengan nomer N-112 yang terpaksa ditinggal dan menjadi ‘penunggu’ Lanud Manuhua.


Dalam salah satu sorti latihan penembakan, salah satu peluru meledak di sabuk pasokan peluru, yang menyebabkan ledakan seluruh peluru yang masih tersimpan di kotak magasen. Ledakan tersebut menyebabkan matinya sistem kelistrikan pesawat.

Baca Juga:  Misionaris Gereja Advent Dibunuh OPM Saat Membersihkan Bandara

Sang pilot yang bernama Van Soest berhasil mendaratkan pesawat tempur yang rusak parah itu kembali ke Mokmer. Namun pada saat pendaratan, Hawker Hunter nahas tersebut mendarat bablas melewati landasan karena hilangnya tekanan hidrolik untuk mengerem pesawat, sehingga pesawat tempur tersebut menubruk pepohonan lalu rusak parah. Sang pilotnya sendiri selamat. Akhirnya, Hawker Hunter N-112 tersebut di parkir begitu saja di luar hanggar. Kokpit N-112 kemudian dibakar habis agar avionik yang sensitif tidak jatuh ke tangan Indonesia.

Selama bertahun-tahun badan N-112 yang tersisa teronggok begitu saja di samping hangar tua yang tak terpakai, walaupun lanud Mokmer sendiri diambil alih oleh TNI AU dengan diberi nama Lanud Manuhua. Barulah ketika ada perhatian dari pimpinan Lanud saat itu Hawker Hunter F.4 N-112 tersebut dicat kembali dengan warna aslinya, yaitu warna kamuflase AU Belanda namun dengan roundel TNI AU dan lambang pangkalan di hidungnya.

Hawk Hunter dengan cameo AU Belanda

Kini atas inisiatif dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Hawker Hunter N-112 telah direstorasi di Depohar 30 Malang, dan kabarnya segera akan di instalasi untuk menjadi koleksi di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta, bersanding dengan rival-rivalnya, jet tempur dan pembom AURI semasa konfrontasi dahulu.

Hawker Hunter F4


Dari 1.972 unit Hawker Hunter yang diproduksi, maka 365 unit diantaranya adalah varian F4.

Baca Juga:  Sukses Mendarat Dengan Satu Mesin, 2 Pilot Sukhoi Dapat Penghargaan dari KSAU

Dibanding varian sebelumnya, Hawker Hunter F4 tampil dengan penambahan kapasitas tangki internal bahan bakar, dari yang sebelumnya 334 galon menjadi 414 galon, dengan penambahan 80 galon pada sisi sayap. Airframe juga diperkuat dengan pemasangan pylon, yang dapat membawa 100 galon tangki bahan bakar eksternal, atau bom seberat 453 kg. Produksi varian F4 kemudian dilanjutkan ke varian F6.

Spesifikasi Hawker Hunter F4 :

– Engine: Rolls Royce Avon 115
– Power: 8,000lb (3.628 kg) thrust
– Crew: 1
– Wing span: 10,26 meter
– Length: 14 meter
– Height: 4,01 meter
– Empty Weight: 6.045 kg
– Maximum Weight: 8.935 kg
– Max Speed: 1.105 km per jam
– Service Ceiling: 15.240 meter
– Range: 2.655 km without tanks
– Armament: Four 30mm Aden cannons
– Bomb-load: 907 kg carried externally

(indomiliter/wikipedia/history/puspen TNI AU)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan